Inspiration

Pentingnya Mengolah Hati. Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pitutur luhur budaya Jawa mengajarkan padha gulangen ing kalbu. Nggegulang berarti mengolah, belajar. Kalbu sama dengan hati. Maka, pada gulangen ing kalbu berarti belajarlah mengolah hati. Bagaimana caranya? Ini jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kita bisa belajar mengolah hati hanya melalui keheningan. Dalam keheningan kita merenung, bermeditasi dan berkontemplasi. Dalam meditasi dan kontemplasi itu kita melatih kesadaran diri dan mengolah kepekaan hati nurani.

Dalam tradisi Buddhis, meditasi dalam suatu retret dilakukan dua belas dalam sehari. Dalam tradisi Katolik, rerata diperlukan sekitar lima sampai enam jam sehari. Tradisi Buddhis lebih dahsyat dalam hal nggegulang ing kalbu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada saat itu, yang dicari hanya satu yakni mengolah hati, budi dan jiwa agar semakin merindukan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Kerinduan akan Tuhan digambarkan laksana kerinduan untuk bernafas. Tanpa bernafas manusia mati. Demikian pula tanpa perjumpaan dengan Tuhan, manusia mati.

Pada suatu hari, ada seorang bertanya kepada seorang pertapa. Ia minta diajari mengalami perjumpaan dengan Tuhan. “Tolong ajarilah aku berjumpa Tuhan! Caranya bagaimana?” Pertapa itu membawa orang itu ke sungai, lalu menenggelamkan wajah orang itu ke dalam sungai. Saat kepalanya ditenggelamkan ke sungai, orang itu berontak dan segera menarik kepalanya dari air. Pertapa itu pun bertanya, “Mengapa kamu berontak?” Jawab orang itu, “Karena saya butuh bernafas!” Maka pertapa itu pun berkata, “Kamu akan mengalami perjumpaan dengan Tuhan, sama seperti saat kamu membutuhkan udara untuk nafasmu!”

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah, nggegulang ing kalbu dalam kontemplasi membuat kita peka tak hanya pada kebutuhan sesama tetapi kebutuhan kita sendiri akan Tuhan! Dahsyat bukan? Bagaimana menurutmu?

Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan kepekaan hati.***

JoharT Wurlirang, 15/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Adi Luhur (2009:354-355)

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2597959703017?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.