Inspiration

Prajurit Itu Membelah Mantolnya, Memberikan kepada Pengemis yang Menggigil, Apa Jadinya?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ngundhuh wohing pakarti blaba tan wuda. Inilah kearifan lokal yang sebetulnya juga bersifat universal. Siapa pun yang berbuat baik, ia akan menuai kebaikan. Bahkan kebaikan yang dilakukannya itu ternyata tak hanya dilakukan bagi sosok manusia sudra lan hina, tetapi tertuju bagi Tuhan sendiri. Ia bermurah hati tanpa merugikan diri sendiri.

Referensi pihak ketiga

Ternyata, kearifan lokal itu terjadi dan terbukti dalam diri seorang prajurit yang bernama Martinus dari Tours (wafat tahun 397). Dalam perjalanan mengemban tugasnya sebagai seorang prajurit, di pintu gerbang Amines, Martinus yang sedang menunggang kuda perangnya berjumpa dengan seorang pengemis yang menggigil kedinginan. Tanpa pikir panjang, ia turun dari kudanya, membelah mantolnya, lalu memberikannya kepada pengemis yang menggigil kedinginan itu. Harapnnya, tubuh orang itu menjadi lebih hangat di tengah deru angin malam yang beku.

Namun apa yang terjadi? Pada malam itu juga, di dalam tidurnya, Martinus bermimpin dan berjumpa dengan Tuhan yang mengenakan belahan mantol yang diberikannya kepada pengemis yang dijumpainya itu. Martinus pun sangat heran dalam segala kekaguman dan keterpesonaannya memandang realitas dalam mimpi itu. Di situlah kebenaran Sabda terjadi, “Segala sesuatu yang kamu lakukan kepada salah seorang saudaraku yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk-Ku! … Ketika Aku telanjang, kamu memberiKu pakaian!” (bdk. Mateus 25:6).

Referensi pihak ketiga

Tak heran di kemudian hari, Martinus pun meninggalkan tugasnya sebagai prajurit kerajaan duniawi, lalu bergabung dengan pelayan Kerajaan Surgawi. Ia menjadi imam dan di kemudian hari ditahbiskan menjadi seorang Uskup. Ia wafat pada tanggal 8 November 397 di Candes, Tours, Perancis. Sesuai dengan permintaannya, ia dimakamkan di pemakaman kaum miskin (Sumber: Katakombe.Org dan INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, 2018, XIV:10).

Begitulah, ngundhuh wong pakarti blaba tan wuda terjadi dalam diri prajurit bernama Martinus itu. Kesucian hidupnya tampak dalam kemurahan hatinya mengembangkan semangat berbagi, menabur kebaikan bagi sesama. Ia pun dikuduskan oleh belas kasih Tuhan dan tak pernah berkekurangan. Berbeda dengan falsafah blaba wuda, terlalu baik hingga rugi sendiri; Martinus justru ngundhuh wohing pakarti blaba tan wuda. Meski ia berbuat baik, namun hidupnya tetap terjamin, sebab ia berbuat baik dalam ketulusan dan kemurahan hati yang sejati.

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih berkenan membaca tulisan ini. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 7/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:302) dan Katakombe.Org dan INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, 2018, XIV:10).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2814953089248945?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.