Inspiration

Awas! Jangan Sampai Falsafah Lokal Ini Menimpa Kita!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Mohon maaf, falsafah Jawa yang satu ini terbaca sarkastik. Namun, tampaknya memang harus disampaikan demikian. Tujuannya hanya satu, untuk memberikan penyadaran kepada siapa saja yang mengalami situasi seperti disampaikan dalam pitutur luhur ini.

Referensi pihak ketiga

Awas, bersiaplah untuk membaca dan mendengarnya, Begini falsafah Jawa itu dikatakan: kegedhen endhas kurang utek! Apa artinya? Secara harafiah, pitutur luhur falsafah Jawa itu berarti kebesaran kepala kurang otak. Falsafah ini ditujukan untuk siapa saja yang tidak memiliki etika atau sopan santun, meski secara fisik dan usia sudah berumur.

Bagi masyarakat Jawa dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya, siapa saja diwajibkan mengetahui, memiliki dan menghayati sopan santun, etika, dan adat kebiasaan yang baik dan luhur mulia. Itulah sebabnya, sejak masih kanak-kanak, orang tua sudah mengajarkan kepada kita untuk bersikap sopan, santun dan beretika dalam hidup bersama. Orang tua mengajarkan kepada kita tata krama dan etika.

Referensi pihak ketiga

Nah, ketika sesorang sudah bertumbuh dewasa, namun masih juga tidak mengetahui, memiliki dan menghayati etika dans poan santun tata krama, maka ia disebut kegedhen endhas kurang utek! Dalam kehidupan bermasyarakat, bermedsos, dan berbangsa, kita mengalami betapa tak sedikit orang-orang yang sedang berada dalam situasi itu. Mereka kegedhen endhas kurang utek. Akibatnya, mereka tidak memiliki etika, tata krama dan sopan santu. Jangan menghayati, memiliki dan mengetahuinya pun tidak. Mereka sengaja membutakan mata dan menulikan telinga bahkan menumpulkan hati terhadap nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bersama. Yang dicari hanya kepentingan dirinya sendiri lalu mengabaikan kepentingan bersama yang lebih besar.

Referensi pihak ketiga

Mari kita saling mendoakan agar dijauhkan dari situasi ini. Semoga kita tidak kegedhen endhas kurang utek. Maaf. Terima kasih. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 23/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:193)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/228109976569834?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.