Inspiration

Kisah Kasih Perempuan Ini Terhadap Dua Lekaki Terkasihnya. Saat Duka Diubah Jadi Sukacita!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Seorang Ibu, namanya Monika, sangat dirundung duka dan nestapa. Dua lelaki yang dikasihinya terus menyayat jiwanya dengan sikap dan perilaku mereka yang membuatnya kian nelangsa.

Referensi pihak ketiga

Lelaki pertama bernama Patrisius. Dia adalah suami yang sangat dicintainya dengan segenap jiwa dan raganya. Namun lelaki itu tak pernah berhenti menghina dan menyakiti hidup Monika. Hinaan demi hinaan menjadi makanan hariannya bahkan selalu mengalirkan tetes air mata duka dari kelopak matanya. Namun semua itu tak pernah mengubah cinta Monika padanya.

Lalu lelaki kedua tak lain adalah putra tunggalnya yang perilakunya tak beda dari ayahnya. Lelaki itu bernama Agustinus. Setali tiga uang dengan Patrisius, ayahnya demikianlah Agustinus laksana kacang tak tak jauh dari kulitnya ataupun buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Bahkan tampaknya lebih buruk rupa.

Begitulah Monika yang dirundung duka nestapa atas perilaku dua lelaki yang dikasihinya, satu sebagai suami dan lainnya adalah buah kandungannya sendiri. Namun Monika tak pernah reda berdoa meski dengan selalu tak hanya tetesan melainkan banjir air mata.

Referensi pihak ketiga

Rasanya tiada asa lagi namun mukjizat terjadi menjelang ajalnya. Monika mengalami pertobatan kedua lelaki yang dikasihinya itu dengan segenap jiwa dan raganya. Dua-duanya mengalami perubahan total berkat air mata doa Monika. Patrisius meninggal lebih awal.

Suatu kali, kepada Agustinus anaknya, lelaki satu-satunya sesudah suaminya meninggal sesaat sebelum pertobatannya, Monika berkata, “Anakku, bagi ibu sudah tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang memikat hatiku. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul.”

Harapan itu tak lain adalah pertobatan kedua lelaki yang dikasihinya itu yakni Patrisius, suaminya dan Agustinus, anaknya. Begitulah Monika menghembuskan nafasnya yang terakhir sesudah boleh menyaksikan dua lelaki yang dikasihinya mengalami pertobatan dalam hidup mereka.

Referensi pihak ketiga

Dalam falsafah Jawa, pengalam Santa Monika terhadap dua lelaki yang dikasihinya itu diungkapkan dalam pitutur luhur tan ana kang mokal tumrap kang pasrah sumarah ing Ngarsaning Pangeran; sungkawa dadya raharja. Bagi siapa pun yang berserah dan percaya kepada Allah, tak ada hal yang mustahil, dukacita diubah menjadi sukacita. Semua pasti berhasil menuju kebaikan, kesucian dan kebenaran, meski harus terjadi sesaat sebelum kematian!

Demikian kisah hidup Santa Monika dalam konteks falsafah Jawa. Siapa mau percaya kepada Tuhan, segalanya menjadi mungkin dalam kehidupan. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 27/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi kisah hidup Santa Monika dalam eKatolik dan falsafah Jawa

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2073915181013305?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.