Inspiration

Kisah Viral Pembenci Jokowi, Mungkinkah Jumpa Saat Nobar Penutupan Asian Games di Lombok?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ungkapan tertulis dari seseorang yang menyebut dirinya Muh. K Anwar, warga Lombok, NTB, menjadi viral. Muh. K Anwar, salah satu korban gempa Lombok, mengaku pembenci Jokowi. Namun sesudah melihat dengan mata kepala sendiri dan merasakan dampak teduh tenang kehadiran Jokowi yang bahkan tidur di tenda di antara para pengungsi korban gempa di Lombok Juli-Agustus 2018, hati Anwar trenyuh. Bahkan melalui suratnya, yang mengaku pembenci Jokowi itu merasa menyesal, meminta maaf dan mendoakan Jokowi.

Referensi pihak ketiga

Nah sesudah suratnya yang viral itu, akan ada kesempatan Muh K Anwar berjumpa lagi dengan Jokowi. Bahkan ada kemungkinan Anwar bisa nobar upacara penutupan Asian Games 2018 yang di gelar di GBK Jakarta dengan Jokowi. Nobar bisa terjadi tanpa Muh K Anwar ke Jakarta, sebab justru Jokowi yang memilih ke Lombok pada saat upacara penutupan Asian Games 2018 diselenggarakan.

Kita bayangkan, apabila perjumpaan Jokowi dan Muh K Anwar bisa terjadi; ini akan leboh heboh dan viral dibandingkan viralnya surat yang ditulis Muh K Anwar. Bahkan, akan lebih viral pula dibandingkan rangkulan Jokowi dan Prabowo oleh Hanifan Yudani Kusumah sesaat sesudah atlet pesilat itu meraih emas.

Referensi pihak ketiga

Mungkinkah surat Muh K Anwar sampai dan dibaca Jokowi? Lalu, mungkinkah dalam kunjungan kali ini, Jokowi bisa berjumpa Muh K Anwar untuk mengatakan, “Muh K Anwar, saudaraku, terima kasih atas suratmu. Aku sudah membacanya. Kamu sungguh luat biasa. Aku memaafkanmu! Terima kasih atas doamu ya!”

Lalu Jokowi dan Muh K Anwar berpelukan. Bukan Muh K Anwar yang mencium tangan Jokowi tetapi Jokowi yang mencium tangan Muh K Anwar. Dan dunia pun gempar. Beritanya pun kembali viral. Pasti akan lebih viral dari berita upacara penutupan Asian Games 2018.

Referensi pihak ketiga

Untuk apa? Untuk mewartakan kebenaran bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi sila pertama Pancasila bisa mengubah kebencian menjadi cinta kasih; balas dendam menjadi pengampunan, perselisihan menjadi kerukunan dan persatuan. Kalau ini terjadi, damailah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas dasar Pancasila, dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945. Dan kalau demikian, sebagai Pastor Katolik, saya pun kian mantab dalam menjadi bagian dan pendukung “PBNU” alias Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Bagaimana menurutmu Sahabat Peradaban Kasih? Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 2/9/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi nasional.kompas.com dan nasional.tempo.co

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1625346012556951?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.