Inspiration

Pentingnya Keterlibatan Sinergis dalam Pelayanan Reksa Pastoral Kampus. Catatan Reflektif

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pada Hari Selasa (4/9/2018), pukul 14.00-16.15; Awang, Bona, Lala, Dian, Asti, Aldo, Nita, Jee, Alvido, Yuli, Upi, Yuda, Okti, Sr. Elsa, Pandu, dan saya (Aloys Budi PPr) mengadakan pertemuan koordinatif dan sharing terkait dengan pelayanan di Reksa Pastoral Kampus (RPK, Campus Ministry) Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Mereka adalah para relawan aktivis RPK dari Pelayanan Kaum Muda (PKM), Orang Muda Katolik (OMK), Putra-Putri Altar (PPA), Ecclesia Christi (EC), dan History Maker (HM). Pertemuan diawali dengan doa oleh Dian secara agama Kristen dan ditutup oleh Bona secara agama Katolik.

Referensi pihak ketiga

Saya mengawali sharing dengan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut serta pelayanan yang sudah mereka berikan dalam rangka RPK di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang sepanjang Tahun Ajaran 2017-2018 yang berlalu. Sebagai orang baru yang melayani RPK dalam satu tahun terakhir ini, saya juga meminta maaf kepada mereka apabila ada banyak hal yang tidak sempurna dalam pelayanan RPK. Itulah sebabnya, seraya mengevaluasi yang sudah terjadi, saya mengajak mereka menatap masa depan di Tahun Ajaran 2018-2019. 

Pada kesempatan itu, saya membagikan pemahaman saya tentang RPK sebagaimana diajarkan Santo Yohanes Paulus II dalam Ex Corde Ecclesiae (ECE, 15 Agustus 2018), yakni Konstitusi Apostolik tentang Universitas Katolik. Dalam ECE 38-42 dijelaskan peranan vital dan fundamental RPK dalam rangka pelayanan pastoral (di) Unika. 

Ada lima hal pokok. Pertama, RPK menyelenggarakan pelayanan pastoral yang merupakan aktivitas Unika. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada para anggota komunitas Unika untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip moral dan religius dengan studi akademik dan aktivitas non-akademik. Dengan demikian, terjadilah integrasi iman dan kehidupan yang integral, seimbang. Inilah misi Gereja dalam Unika dan merupakan unsur konstitutif Unika baik dalam struktur maupun hidupnya. Unika yang berciri Katolik akan meningkatkan perhatian ciri ini dan menyadari dimensi pastoral ini dan peka akan cara bagaimana dimensi pastoral berpengaruh pada segala kegiatan Unika (ECE 38). 

Kedua, sebagai ungkapan alami identitas Katoliknya, Unika hendaknya membeti contoh praktek dari imannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyediakan waktu bagi refleksi dan doa. Para anggota komunitas yang beragama Katolik hendaknya mendapat kesempatan untuk mengasimilasikan ajaran Katolik dan mempraktekkannya dalam hidup mereka. Mereka mesti didorong untuk ambil bagian dalam perayaan sakramen, khususnya Sakramen Ekaristi sebagai ibadat komunitas yang paling sempurna. Apabila komunitas akademik memiliki anggota dari Gereja lain, komunitas Gerejani atau agama lain, inisiatif untuk refleksi dan doa sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka harus dihormati (ECE 39).

Ketiga, mereka yang terlibat dalam pelayanan pastoral hendaknya mendorong semangat para dosen dan mahasiswa agar sadar akan tanggungjawabnya terhadap mereka yang menderita secara fisik dan mental spiritual. Dengan mengikuti teladan Kristus, mereka memberilan perhatian secara khusus kepada kaum termiskin dan mereka yang menderita ketidakadilan ekonomis, sosial, budaya, dan kerohanian (ECE 40).

Keempat, pelayanan pastoral merupakan cara yang sangat penting untuk mempersiapkan mahasiswa Katolik secara aktif mengambil bagian di dalam kehidupan Gereja sebagai pelaksanaan dari tugas pembaptisan mereka. Pelayanan pastoral juga membantu mengembangkan dan menanamkan nilai perkawinan dan kehidupan keluarga, memperkuat panggilan imamat dan religius, mendorong komitmen Kristiani kaum awam dan memberikan ilham pada setiap aktivitas dengan semangat Injil. Kerjasama antara pelayanan pastoral di dalam Unika dan Gereja setempat di bawah bimbingan atau persetujuan Uskup akan saling menyumbang pertumbuhan kedua belah pihak (ECE 41).

Kelima, berbagai asosiasi dan gerakan-gerakan kehidupan kerohanian dan kerasulan terutama yang dikembangkan secara khusus bagi para mahasiswa dapat merupakan bantuan yang sangat besar dalam mengembangkan aspek-aspek pastoral kehidupan rohani Unika (ECE 42).

Referensi pihak ketiga

Sesudah membagikan pemahaman tentang RPK, saya mengajak para peserta rapat koordinasi yang kesemuanya menjadi bagian dari pengurus RPK untuk melihat sejarah adanya RPK di Unika. Seiring dengan terbitnya ECE, syukur kepada Allah hadir Romo Johannes Maria Pujasumarta Pr. Pada tahun 1990-an, Romo Puja menjadi Rektor Seminari TOR Sanjaya Jangli Semarang. 

Unika Soegijapranata sendiri sudah ada dan disahkan keberadaannya pada tanggal 5 Agustus 1982 berdasarkan SK No. 059/kep/22/kop/VIII/1982. Setahun kemudian Pemerintah Pusat mengakui Unika dengan status terdaftar melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0400/0/1983, tertanggal 24 September 1983. Seiring dengan ECE yang diterbitkan oleh Paus Yohanes Paulus II, RPK Unika Soegijapranata pun dirintis oleh mendiang Romo Johannes Maria Pujasumarta Pr (yang di kemudian hari menjadi Mgr. Johannes Pujasumarta setelah ditunjuk menjadi Uskup Bandung dan lalu menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang). Mgr. Puja merintis keberadaan RPK Unika Soegijapranata.

Kehadiran Romo Puja – kala itu – di tahun 1990-an memberikan pelayanan kerohanian kampus dengan nama Pelayanan Pastoral Mahasiswa (PPM) tingkat universitas dan fakultas di bawah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM). Romo Johannes Pujasumarta bertindak sebagai pembimbing rohani Unika Soegijapranata dengan berbagai kegiatan rohani, yakni, Misa Hari Jumat, Katekumenat, Rekoleksi dan Pembinaan Rohani Mahasiswa (PRM). Periode ini boleh disebut sebagai embrio keberadaan RPK.

Selanjutnya, pada tanggal 5 Agustus 2001, pada kesempatan Dies Natalis XIX Unika Soegijapranata, ditetapkanlah keberadaan RPK. Dalam rangka pelayanan tersebut, Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo menugaskan Romo Andreas Yumarmo Pr sebagai pembimbing rohani dengan sebutan Kepala Campus Ministry. Ini berlangsung pada tahun 2001-2005. Pada periode tersebut, RPK mengadakan kegiatan meliputi Misa Hari Jumat dan Hari Minggu, pastoral konseling, bimbingan rohani, pelayanan sakramental dan katekumenat bagi yang berminat.

Sesudah Romo Yumarmo, RPK mengalami kevakuman tenaga imam. Dalam tahun 2005-2006, RPK dilayani oleh salah seorang dosen yakni Bapak Heribertus Hermawan Pancasiwi yang bertugas sebagai Kepala UPT Campus Ministry. Kegiatannya yang diselenggarakan meliputi: Strukturisasi organisasi CM, pembentukan dan pengkaderan aktivis mudika kampus (OMK) dan katekumenat. Seiring dengan itu, pada tahun 2005, dihadirkanlah para Suster Carmelite Misionaries (CM) yang berkarya di RPK Unika yakni Sr. Monika Meo CM, Sr. Aemilia Tea CM, dan Sr. Susan Ninfa Timbal CM.

Sesudah mengalami kevakuman kehadiran seorang imam, pada tahun 2006-2007, hadirlah Romo Tarsisius Riswanta, OMI sebagai Kepala RPK. Pada tahun yang sama Sr. Rofina Marani Uge CM berkarya di RPK menggantikan Sr. Susan Ninfa Timbal CM. Pada periode ini, kegiatannya meliputi pemantapan kepengurusan RPK, pengaturan keuangan, Misa Jumat, adorasi, pelayanan Sakramental, konseling pastoral, bimbingan rohani, penerbitan Newsletter Suara Campus Ministry, dan konsolidasi kelompok-kelompok kategorial.

Selanjutnya, pada tahun 2007-2012, RPK dilayani Romo Materius Kristiyanto Pr sebagai Pastor Kepala RPK secara paruh waktu. Tugas utama beliau adalah di Direktorat Theresiana Semarang. Sebagai Pastor Kepala RPK, Romo Kristiyanto melanjutkan tugas pendahulunya. Beliau juga memantabkan keberadaan Kapel St. Ignatius Unika. Pada saat itu, Pastor Kepala RPK juga ex officio anggota The Soegijapranata Institute dan terlibat dalam Refleksi Karya serta Soegijapranata Memorial Lecture. 

Sesudah Romo Kristiyanto, yang menjadi Pastor Kepala RPK adalah Romo Dominikus Sukristiono Pr atas penugasan Mgr. Johannes Maria Pujasumarta. Sama sepeti Romo Kristiyanto, Romo Sukristiono bertugas sebagai Pastor Kepala RPK secara paruh waktu. Dia hadir di kampus pada hari Selasa dan Jumat saja sebab tugas pokok beliau sama dengan Romo Kristiyanto di Direktorat Theresiana Semarang. Adapun kegiatan RPK adalah melanjutkan karya pendahulu, memberi pelayanan Katekumenat dan pendampingan mahasiswa penerima beasiswa aktivis paroki. Pada periode ini di RPK tumbuh kelompok History Maker, Ecclesia Christi dan Putra-Putri Altar.

Tahun 2014-2017, adalah periodisasi Kepala RPK secara penuh waktu. Mgr. Johannes Pujasumarta menugaskan Romo Yohanes Gunawan Pr sebagai Pastor Kepala RPK secara penuh waktu. Karya pelayanan hari Senin-Jumat di Kantor Kepala RPK di Gedung Rektorat St. Mikael Lt 4 dari pagi sampai sore. Romo Gunawan juga masih berkenan menerima tugas sebagai pengajar untuk mata kuliah Filsafat Logika; Pendidikan Religiositas dan Etika. Kegiatan RPK meliputi: pendampingan organisasi di bawah naungan RPK yakni OMK, PKM, PPA, HM, EC; mengkoordinir pelayanan rohani kampus (rekoleksi, retret, gladi rohani, ziarah; mengadakan pelayanan sakramen, pendampingan katekumenat, pelajaran calon krisma, konselinh dan pembinaan rohani di kampus untuk dosen, tendik, dan mahasiswa; membina pengembangan dan evaluasi nilai-nilai kristiani di Unika. Selaim terlibat dalam TSI, refleksi karya, SML, dan aneka kepanitiaan (Natal, Dies Natalis). 

Referensi pihak ketiga

Sejak 16 Juni 2017 hingga artikel ini ditulis, saya ditunjuk untuk menjadi Pastor Kepala RPK. Untuk pertama kalinya, Romo Kepala RPK tinggal di kompleks Unika, tepatnya di Pastoran Johanes Maria yang pembangunannya dipersiapkan pada periode akhir Romo Gunawan. Saya menerima tugas pelayanan sebagai romo RPK per tanggal 16 Juni 2017 dengan tetap melaju dari Pastoran Ungaran sebab bangunan Pastoran Unika belum selesai. Pastoran baru diberkati oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko pada tanggal 30 November 2017. Karena itu, pada tanghal 28 November 2017 saya berjalan kaki berpindah tepat tinggal dari Pastoran Ungaran ke Pastoran Unika, dua hari sebelum pemberkatan. Harapannya, agar pada saat pemberkatan, pastoran sudah ditempati sehingga bisa mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka pemberkatan.

Dengan demikian, saya tidak hanya menjadi Romo RPK penuh waktu, tetapi juga tinggal di pastoran Unika. Dari 28 November 2017 hingga 31 Juli 2018, praktis saya tinggal sendirian di pastoran. Baru per Agustus 2018, ada 3 Romo mahasiswa S2 Unika yang juga tinggal di pastoran Unika yakni Romo Dedy OFMCap, Roml Oris OCD dan Romo Karni SVD.

Apa yang saya laksanakan dalam rangka RPK? Pertama, melanjutkan tugas persis sama seperti yang sudah dilakukan para pendahulu tanpa menguranginya (pelayanan sakramental, konseling, bimbingan rohani, katekumenat bekerjasama dengan Suster Elsa Nona Rosa Dua CM). Kedua, khusus tugas mengajar, per semester genap 2017-2018 saya melepaskan tugas mengajar S-1 agar bisa lebih fokus pada RPK. Ketiga, mengelola Misa Jumat dengan variasi sebagai berikut: Jumat I, II, IV dan V misa dalam bahasa Indonesia. Khusus Jumat I saya tambahkan prosesi Sakramen Mahakudus sesudah Adorasi. Khusus Jumat II tawaran Misa bersama jurnalis. Jumat III Misa dalam bahasa Inggris.

Keempat, sejak 18 Desember 2017, saya menawarkan Misa Harian di Kapel, Senin-Jumat pukul 12.00. Keputusan ini saya maksudkan untuk mengaplikasikan pesan ECE 39 agar pelayanan dan perayaan Ekaristi menjadi warna dan ciri harian katolisitas Unika. Meski peminatnya sedikit, karena masih banyak yang disibukkan dengan berbagai urusan, saya tetap mempersembahkan Ekaristi Harian demi dan atas nama Universitas Katolik Soegijapranata sesuai ECE 39.

Kelima, terlibat dalam pendampingan LKTD dan LKTL mahasiswa; PTMB mahasiswa baru; Komisi Etik Unika Soegijapranata; pendampingan tendik baru dalam rangkar formasi karir berbasis ECE dan spirit Soegijapranata 100% religius, 100% nasionalis; perumusan tema karya bersama TSI dan pendalaman tema karya dalam SML dan Refleksi Karya; pembinaan tendik melalui rekoleksi bekerja sama dengan LPSDM Unika; persiapan ISC (Interreligius Student Camp) APTIK bersama Wakil Rektor III; harapannya juga bisa terlibat dalam ATGW dalam kerjasama dengan WR III.

Keenam, dalam rangka PTMB, mulai tahun ajaran 2017-2018, Pastor RPK bertugas mengkoordinir religion time bagi mahasiswa baru. Caranya, mencari dan menghadirkan narasumber dari luar sesuai agama masing-masing (Islam, Hindu, Buddha, Kristen dan Konghucu) untuk membekali mahasiswa baru dalam visi 100% religius, 100% nasionalis sesuai agama masing-masing.

Ketujuh, berkoordinasi dengan para koordinator gedung yang menjadi bagian Unika untuk penyelenggaraan pendalaman bahan Adven. Kecuali itu juga melayani Misa Pesta Nama tiap-tiap gedung. Koordinasi dengan Tim RPK dan Koordinator Gedung.

Referensi pihak ketiga

Kedelapan, disamping membangun akar sakramental tinggal dalam Kristus melalui Misa Harian; saya mengajak pula Tim RPK untuk terlibat dalam gerakan lintasagama. Alasannya, selain melayani di RPK secara full-timer saya juga masih mendapat mandat melayani Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang juga sebagai full-timer yang saya layani sejak Mei 2008. Alih-alih membenturkannya, saya lebih memilih mensinergikannya, meski kerap kali tidak mudah. Hal serupa juga dalam rangka tugas saya sebagai Wakil Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah dalam 5 tahun terakhir.

Kesembilan, meski tidak berjalan mulus, saya juga menawarkan kepada tim RPK terlibat dalam karya kerasulan jurnalistik. Sejak Agustus 2004, saya merintis dan mendirikan karya kerasulan jurnalistik Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Pada awal pelayanan di RPK, saya menawarkan kolom Kampusinspirasi tiap bulan, namun tidak bisa berjalan dengan mulus. Hal serupa juga terkait dengan siaran radio Mimbar Agama Katolik di Radio Gajah Mada FM yang sudah saya jalani sejak Maret 2004 sebulan sekali pada Minggu I.

Kesepuluh, seiring dengan genap 1000 hari Mgr. Johannes Maria Pujasumarta, saya menempatkan foto beliau di depan altar utama Kapel Unika. Alasannya beliau adalah perintis RPK Unika Soegijapranata. Pasti beliau juga mendoakan RPK pada khususnya dan Unika pada umumnya. 

Kesebelas, kami mengusulkan pula, agar setiap tahun, pada hari pertama tahun ajaran baru yang bersangkutan, dilaksanakan Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru atas nama Unika. Agar semua terlibat aktif dan sinergis maka Misa Pembukaan TA Baru harus tertulis jelas sejak awal dalam penanggalan akademik dan Rektor bukan hanya menghimbau dan mengundang seluruh dosen, tendik, karyawan dan mahasiswa lama maupun baru yang beragama Katolik melainkan mewajibkannya ikut sama seperti saat Misa di Cungkup Makam Mgr. Albertus Soegijapranata dalam rangka Dies Natalis Unika. Kalau ini bisa terjadi, alangkah indahnya! Awal tahun ajaran baru sudah dilandasi dengan ciri sakramental Ekaristis sebagai ibadat yang sempurna sebagaimana disebut dalam ECE 39.

Akhirnya, per tahun ajaran 2018-2019, mulai tanggal 4 September 2018, saya menawarkan untuk sebulan sekali mengadakan rapat koordinasi semua unit RPK Unika. Semua ternyata sepakat menyambut baik gagasan ini. Hal serupa juga akan saya tawarkan kepada para koordinator gedung. Dengan demikian koordinasi pelayanan RPK dapat semakin kuat juga dalam rangkan keterlibatan sinergis dalam menggali dan mengembangkan talenta untuk bangsa dan umat manusia.

Demikian, semoga refleksi ini bermanfaat. Maaf bila tulisan ini sangat panjang. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 4/9/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Ex Corde Ecclesiae (Johanes Paulus II) dan dokumen catatan D. Sukristiono Pr dan Y. Gunawan Pr

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3440428245379789?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.