Inspiration

Ahok Jadi Mualaf, Atau Puput Jadi Kristen? Kenapa Ada Yang Sewot?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Geger kabar Basuki Tjahaja Purnama (BTP) akan menikah dengan Bripda Puput Nastiti Devi (PND) terasa panas dan bikin penasaran soal keyakinan. BTP beragama Kristen, PND beragama Islam. Akankah BTP jadi mualaf demi menikahi PND? Atau sebaliknya PND menjadi Kristen demi menikah dengan BTP?

Referensi pihak ketiga

Mengikuti berita tentang rencana itu, tak sedikit kita menangkap ada orang-orang yang sewot. Itu tampak dari berbagai komentar yang terlontar. Ada yang vulgar dan kasar, ada yang teduh dewasa menyerahkan semuanya pada keputusan dewasa masing-masing.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saya Ngobrol dengan BTP di Ciganjur saat Haul Gus Dur

Sejauh ini, kita belum pernah mendapatkan jawaban pasti apakah BTP mau jado mualaf? Ataukah PND jadi Kristen? Selagi belum ada jawaban pasti dari pihak masing-masing, ngapain sih pada ribut berspekulasi dan berandai-andai?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saya ABP (Aloys Budi Purnomo) dan BTP (Basuki Tjahaja Purnama) saat menghadiri Haul Gus Dur di Ciganjur

Lalu kita harus bagaimana? Serahkan saja keputusan pada masing-masing. Apa pun keputusannya, mari kita hormati. Kalaupun BTP jadi mualaf, saya akan menghormatinya. Atau PND jadi Kristen, saya juga akan menghormatinya. Yang terpenting hanya satu hormati kebebasan beragama yang diputuskan secara dewasa. Tak boleh ada pemaksaan satu terhadap yang lain. Tak boleh ada intimidasi.

Referensi pihak ketiga

Itu prinsip agama Katolik. Bahkan, dalam agama Katolik neh, kalau pun ada seseorang yang mau memeluk dan menjadi anggota agama Katolik, sekalipun dia memilih sendiri secara merdeka, tetaplah harus ikut pelajaran agama minimal enam bulan hingga 12 bulan. Baru kalau tes tertulis dan lisan lulus, ia bisa dibaptis. Kalau tidak, maka ia harus mengulang lagi pelajaran agama sampai lulus.

So, menurutku, apa pun keputusan BTP dan PND hormati saja. Tak usah dipolitisir. Toh mereka sudah dewasa! Jadi, ngapain kota yang sewot? Meminjam ungkapan mendiang Gus Dur: Gitu aja kok repot! Bagaimana menurutmu? Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Maria Bunda Karmel Tomang, 14/9/2018

Sumber: refleksi pribadi dari berbagai sumber

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2313550474719023?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.