Inspiration

Fobia Terhadap Hantu Komunisme, Mengapa dan Harus Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Mengapa fobia terhadap hantu komunisme di negeri ini sedemikian kuat bahkan mencekam? Inilah jawabannya. Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Pada mulanya adalah peristiwa yang disebut Gerakan 30 September. Peristiwa ini membawa korban para jenderal, bahkan seorang bocah berusia lima tahun Ade Irma Suryani – putri Jenderal AH Nasution – pun turut menjadi korban. Di balik semua itu, Partai Komunis Indonesia atau PKI dituding menjadi dalang. PKI harus bertanggungjawab atas pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat itu. Dan hebatnya, dalam sekejap situasi berbalik arah. PKI dan semua yang beraroma PKI serta komunisme harus diberantas tuntas, termasuk anggota keluarga yang distigma PKI dan para simpatisan PKI. Tak ada tempat apalagi maaf bagi mereka! Ini awal mulanya.

Kampanye anti-PKI dan komunisme secara sistematis dilakukan oleh rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto. Proses indoktrinasi politik pun berhasil, sehingga kini, Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan singkatan G-30-S dianggap sebagai peristiwa pengkhianatan terbesar terhadap bangsa Indonesia dan Pancasila. Dari situlah, lantas muncul perlawanan terus-menerus terhadap segala yang beraroma PKI dan komunisme. Di sinilah fobia terhadap PKI dan komunisme terus dipelihara. Salah satu ekspresi fobia itu adalah dengan cara persekusi dan razia terhadap simbol-simbol PKI, seperti misalnya, gambar palu arit dan penyitaan buku-buku terkait komunis.

Referensi pihak ketiga

Lalu harus bagaimana? Ini gagasan saya. Bahwa PKI dan komunisme itu terlarang di negeri ini, kita semua sepakat dan itulah bagian dari konstitusi. Namun, bahwa terjadi tindakan kekerasan, penyerangan, pembohonan dan pembantaian terhadap pengguna simbol atau mungkin juga pendukung ideologi itu, tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Mengapa? Karena semua ideologi yang berlawanan dan berseberangan dengan Pancasila tidak bisa dibenarkan di Republik ini. Ideologi apa pun, baik yang berbasis agama maupun budaya yang tidak baik, tidak benar dan tidak suci apalagi dengan mengorbankan keadilan dan kemanusiaan, tidak bisa dipakai di Negeri ini.

Ambil contoh, demi membasmi ideologi komunisme yang sebenarnya tidak usah dibasmi kalau memang tidak cocok akan runtuh sendiri seperti yang terjadi di banyak tempat di dunia ini, lantas orang atau kelompok melakukan persekusi, penganiayaan bahkan pembantaian, itu pun berseberangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini, saya sepakat dengan Romo Franz-Magnis Suseno SJ. Penulis disertasi mengenai Karl Marx itu menyayangkan penyitaan buku-buku yang mengandung unsur komunis. Padahal, tidak semua buku yang membahas tentang komunis adalah mendukung komunisme.

Ini bagian dari fobia yang semena-mena. Tentu, fobia itu tidak bisa dipersalahkan sebab memang sengaja diwariskan kepada generasi anak bangsa. Namun, fobia yang berlebihan hingga mengorbankan kecerdasan dan kemanusiaan; kiranya harus disembuhkan!

Referensi pihak ketiga

Lebih penting dari segalanya adalah rekonsiliasi dan penyembuhan baik luka batin maupun luka sosial kemasyarakatan. Namun, luka itu hanya kian menganga lagi bila orang-orang yang tidak bertanggungjawab mulai menghidupkan kembali hantu komunisme dengan ujaran-ujarannya yang penuh kebencian, apalagi ujaran-ujaran yang penuh kebencian itu ditebarkan secara musiman menjelang pemilu saja. Itu pertanda bahwa bawah sadar, mereka seakan anti-komunisme, namun terang-terangan menjadikannya alat untuk menggembosi lawan dan menggelembungkan syahwat akan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Ini yang justru harus dilawan dalam rangka peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan www.liputan6.com/news (Nanda Perdana Putra,18 Mei 2016, 19:33 WIB)

Kampus Ungu Soegijapranata, 27/9/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2669848109859630?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.