Inspiration

Ketika Kami Dicap PKI Gara-Gara Kemanusiaan, Menaklukkan Hantu Komunisme

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pada tanggal 1 Juni 2015, bersama masyarakat warga Plumbon, Semarang, yang diiniasi oleh sahabatku, Mas Yas, kami merenovasi satu makam masal yang diduga kurban stigmatisasi PKI pada mereka. Yang kami lakukan sederhana saja, yakni memasang nisan dengan bertuliskan nama-nama yang terkubur salome (satu lobang rame-rame) di lokasi itu. Mengapa?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Model nisan yang kami persiapakan dengan daftar nama yang dimakamkan salome di Plumbon, Semarang

Seorang warga, namanya Mbah Kelik, menjadi saksi sejarah saat dia masih kanak-kanak atas peristiwa pembantaian sejumlah orang yang langsung ditimbun salome di situ. Sejak itulah hatinya gelisah. Maka dia pun curhat kepada kami dan merindukan rekonsiliasi ruh agar bangsa ini damai sejahtera. Mbah Kelik merindukan agar ruh mereka bahagia maka kuburan salome itu kami rawat dengan memasang nisan di atasnya.

Semua kami lakukan bersama warga setempat. Dan karena itu, beberapa oknum menyebut kami sebagai PKI juga. Demi membela kemanusiaan itulah, kami dianggap PKI pula! Bahkan kawan saya yang profesinya seorang pengacara pun dicap sebagai pembela PKI hahaha.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Menyertai para anggota keluarga korbannyang dikubur di Plumbon, Semarang

Di sinilah, dalam pengalaman nyata inilah, kami masih merasakan betapa hantu komunisme masih bergentayangan menebarkan ketakutan. Namun hantu itu justru mewajah dalam diri oknum tertentu yang memberi cap pada kami sebagai pembela PKI gegara kami memilih memartabatkan kemanusiaan.

Sedangkan kucing saja mati dikuburkan baik-baik oleh pemiliknya. Mengapa ketika kami menata makam salome justru dianggap pembela PKI? Ternyata oh ternyata, itulah salah satu contoh nyata betapa hantu komunisme masih membayang di wajah orang tertentu dalam paradigma prasangka buruk kepada sesama! Sampai kapan hal yang seperti ini akan dipelihara?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saat prosesi menuju makam, saya mengiringi warga menuju makam dengan alunan saksofon

Demikian, bagaimana menurut Ucers, Sahabat Peradaban Kasih? Semoha bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih!***

Semarang, 23/9/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4326387201399467?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.