Inspiration

Masih Ada Herodesisme Zaman Now! Seperti Apakah?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Apa maksudnya bahwa masih ada Herodesisme zaman now? Herodes adalah sosok yang disebut dalam Alkitab dengan karakter bengis dan sadis, namun juga – maaf – biadab oleh sebab ia merebut istri saudaranya sendiri. Puncak kebengisan dan kebiadabannya adalah ketika ia memenggal kepala Yohanes Pembaptis, yang menegur perilakunya ketika merebut istri saudaranya itu; sesudah ia memenjarakannya selama sekain waktu.

Referensi pihak ketiga

Menarik sekali merenungkan pergumulan hati Herodes yang bisa menjadi Herodesisme zaman now. Hatinya selalu terombang-ambing menghadapi kebenaran. Dan karenanya, ia justru memilih bersikap bengis dan keji daripada mengikuti nuraninya untuk membangun pertobatan menjadi baik.

Suatu hari, Herodes ingin melihat Yesus namun bukan karena sikap iman atau motif pertobatan. Warta tentang Yesus membuatnya penasaran. Kehadiran Yesus yang berkarya pada zamannya membuat Herodes teringat pada Yohanes Pembaptis yang kepalanya telah dia penggal. Padahal ia mengagumi Yohanea sebagai orang yang baik dan jujur. Bahkan ia melindunginya. Herodes suka mendengarkan Yohanes namun hatinya bingung karena rasa salah (bdk. Markus 6:20). Sayangnya, Herodes selalu menunda untuk bertobat. 

Referensi pihak ketiga

Saat mendengar tentang Yesus, hati Herodes gundah. Bayang-bayang Yohanes yang telah dibunuhnya muncul. Sebetulnya, ini bisa menjadi titik awal untuk pertobatan sejati dan penerimaan belas kasih Allah dalam hidupnya. Setidaknya ia telah mengakui bahwa bersalah. Namun, pertobatan itu tak kunjung diikuti dengan iman dan tindakan. Nuraninya cenderung tumpul. Ia tak bahagia. Sabda bahagia dari Yesus, “Berbahagialah orang yang suci hati karena mereka akan melihat Allah” tak berlaku baginya. Melihat dan memiliki Allah adalah buah pertobatan kita sehari-hari. Itulah janji kedamaian hati, kebahagiaan sejati, dan hidup yang kekal.

Itulah Herodesisme yang juga bisa menimba manusia zaman now yang selalu terombang-ambing dalam memilih kebenaran, keadilan, kebaikan dan kebahagiaan; bukan untuk dirinya sendiri. Makin sulitlah ketika kebenaran, keadilan, kebaikan dan kebahagiaan itu ditujukan bagi yang lain melalui dirinya. Bagaimana dengan kita?

Referensi pihak ketiga

Demikian, sekadar sharing permenungan untuk hari ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi harianku berdasarkan Lukas 9:7-9

JoharT Wurlirang, 26/9/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2475942183654111?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.