Inspiration

Tuhan Tak Butuh Pujian Kita, Lalu Harus Bagaimana? Inilah Dua Jawabannya!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tahukah kamu bahwa sesungguhnya, Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari kita? Bahkan, Dia juga tidak membutuhkan ibadah kita, pekerjaan kita atau uang kita. Tapi, mengapa Tuhan memerintahkan kepada kita untuk beribadah padaNya dan melayaniNya? Inilah jawabannya.

Referensi pihak ketiga

Pertama, semua kita lakukan hanya untuk kemuliaan-Nya. Tunggu sebentar. Jika Dia tidak membutuhkan pekerjaan atau penyembahan kita, bagaimana cara memuliakan Dia? Ini tentu saja tidak menambahkan apa pun pada kemuliaan-Nya. Namun itu menunjukkan kemuliaan-Nya. Ketika kita menyanyikan pujian-Nya bersama, kita menampilkan satu sama lain kebesaran, kebaikan, dan cinta Tuhan. Ketika saya mendengar Anda bersyukur kepada Tuhan, saya diingatkan kembali akan kemuliaan dan kebaikan-Nya. Anda menampilkan dan mewartakan kemuliaan Tuhan bagi saya. Dan itu membangun iman saya dan membantu saya mencintai dan lebih percaya kepada-Nya. Dan ketika kita melakukan karya cinta, kita menampilkan karakter Tuhan yang membentuk hidup kita.

Kedua, alasan lain mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah padaNya dan melayani adalah untuk sukacita kita, demi kebahagiaan lita. 

Referensi pihak ketiga

Ketika kita bernyanyi dan mengangkat tangan kita kepada-Nya, itu bukan karena Dia membutuhkan pujian kita. Tapi itu demi kebahagiaan kita di dalam Dia. Ketika kita mengungkapkan penghargaan kita kepada Tuhan, itu meningkatkan kegembiraan. Ketika kita menabur, kita menuai. Semua perintah Allah adalah untuk manfaat dan sukacita kita. Itulah mengapa kita harus melayani Dia dengan riang gembira seperti seeuan Pemazmur: Layanilah Tuhan dengan sukacita! (Mazmur 100:2).

Referensi pihak ketiga

Jadi, Tuhan tidak membutuhkan pekerjaan kita atau pujian kita atau bahkan uang kita. Semua itu terjadi melulu demi kemuliaan-Nya dan kebahagiaan kita. Maka, marilah kita melayani Tuhan dengan sukacita kini dan selamanya.

Begitulah Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bagaimana menurutmu? Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 18/9/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan www.biblestudytools.com

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3541682772377697?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.