Inspiration

Hebatnya Festival Gandrung Sewu, Melawan Sikap Antibudaya Lokal dengan Sikap Kepahlawanan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Seperti diwartakan KOMPAS.com, masyarakat dan Pemda Banyuwangi menggapai rekor kemenanga budaya. Itu terjadi melalui Festival Gandrung Sewu yang digelar di Banyuwangi Sabtu (20/10/2018). Peristiwa budaya lokal khas Banyuwangi ini sudah terselenggara untuk kedelapan kalinya. Ini prestasi yang harus diapresiasi tersendiri. Saya yang pernah ke Banyuwangi, meski hanya sehari, turut berbangga hati!

Referensi pihak ketiga

Festival Gandrung Sewu sudah diselenggarakan tiap tahun sejak 2011. Festival ini menampilkan sedikitnya seribu penari gandrung. Hebatnya, Festival Gandrung Sewu tak hanya menjadi peristiwa seni dan budaya tetapi juga peristiwa heroisme nasionalis. Mengapa? Sebab Festival Gandrung Sewu menjadi media untuk mempelajari sejarah kepahlawanan melawan kolonialisme. Itulah yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda. Di masa penjajahan, Tari Gandrung merupakan bagian tak terpisahkan dari taktik untuk melawan kolonial.

Tahun 2018 ini, “Layar Kumendung” menjadi tema Festival Gandrung Sewu. Menurutku, festival ini bersifal sinergis kolosal. Alasannya, festival ini telah melibatkan sebanyak 1173 penari, 64 penampil fragmen dan 65 pemusik. Ini luar biasa istimewa. Ada yang disebut keterlibatan sinergis di dalamnya yang membuahkan berkat berlipat ganda! Paling tidak, peristiwa budaya ini telah membawa berkat bagi pemberdayaan ekonomi rakyat.

Referensi pihak ketiga

Selamat dan proficiat kepada Pemda Banyuwangi, panita dan masyarakat terutama para pelaku seni dan budaya lokal yang berharga ini. Tema “Layar Kumendung” tak hanya menampilkan kisah heroisme Raden Mas Alit, Bupati pertama Banyuwangi dalam menentang pendudukan VOC Belanda tetapi juga mengekspresikan heroisme Masyarakat Banyuwangi dalam melawan segelintir orang yang sempat menolak penyelenggaraan Festival Sewu Gandrung! Bahkan heroisme itu juga ditandai dengan solidaritas dan kepedulian kepada para yatim dan warga kurang mampu. Heroisme mereka kian istimewa. 

Itu menurutku. Cerdas! Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Mari kita lawan segala bentuk sikap antibudaya yang membahayakan hidup bersama dengan ekspresi seni budaya yang membahagiakan dan heroisme tanpa kekerasan!

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga bermanfaat. Semoga peristiwa ini menginspirasi masyarakat lain di mana pun dalam merawat budaya setempat demi keutuhan NKRI jaya. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: https: //www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/travel/read/2018/10/20/092400027/festival-gandrung-sewu-di-banyuwangi-angkat-tema-kepahlawanan

JoharT Wurlirang 20/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1878590291390954?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.