Inspiration

Tujuh Pilar Kekuatan Imamat Agar Jadi Berkat Bagi Umat dan Masyarakat

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah tujuh pilar kekuatan imamat dalam tradisi Katolik agar menjadi berkat bagi umat dan masyarakat. Ini merupakan pengembangan refleksi atas permenungan retret imamat Mistikus Horisontal bersama Romo L. Priyo Poedjiono SJ.

Referensi pihak ketiga

1. Akrab dengan Tuhan. Kekuatan imamat tergantung dari relasinya dengan Tuhan. Panggilan imamat itu aktif dan dinamis untuk selalu mencari kehendakNya. Maka membangun relasi dengan Tuhan melalui olah rohani itu penting dan harus terus dilakukan secara teratur.

2. Beraroma domba. Ini pesan yang disampaikan dan dihayati Paus Fransiskus. Seorang imam harus dekat dengan umat dan masyarakat yang dilayani. Karenanya, ia harus hadir di tengah umat dan masyarakat. Inilah tolok ukur sebagai gembala yang baik.

3. Selalu berpihak pada yang lemah. Yang lemah adalah siapa saja yang teraniaya oleh ketidakadilan. Benteng panggilan adalah sikap kemiskinan lepas bebas pada apa saja dan siapa saja. Mencari dan menyelamatkan yang dilupakan dan ditinggalkan.

Referensi pihak ketiga

4. Menjadi agen kerahiman. Caranya, tak mudah menghakimi. Sebaliknya lebih mudah mengampuni. Kita dipanggil melalui mata belas kasih Allah. Maka kita pun harus melihat pula dengan kerahiman dan belas kasih Allah. Sebagaimana Allah tak pernah lelah mengampuni demikian pula seorang imam. Jangan pula lelah mengampuni dan memohon ampun terus-menerus.

5. Dipanggil untuk hidup sederhana. Kesederhanaan diukur dengan sikap transparan. Menggunakan sarana dan prasarana dalam sikap uga hari. Meski tak mudah namun terus dimohonkan rahmat dan diupayakan di tengah perjuangan harian.

6. Model integritas. Kita tidak pernah mengejar jabatan dan harta kekayaan. Otoritas ada dalam kemesraan mendalam dengan Tuhan. Memiliki keterbukaan untuk perjumpaan dengan Tuhan dan sesama. Jadilah gembala bukan serigala.

Referensi pihak ketiga

7. Menjadi agen rahmat bagi umat dan masyarakat. Imamat itu untuk umat dan masyarakat bukan melulu untuk diri sendiri. Maka, berbagilah kegembiraan dalam pelayanan. Terus-meneruskan menghadirkan kasih Kristus dalam semangat inkarnatoris. Itu hanya bisa bila dilakukan dalam kerendahan hati.

Demikian. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan materi konferensi rohani L. Priyo Poedjiono SJ (17/10/2018 17.00 – 18.00 WIB)

RR Gedanganak, 17/10/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2134568680065851?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.