Inspiration

Inspirasi Srawung Orang Muda Lintas Agama di Empat Kota, Seperti Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi srawung orang muda lintas agama yang diselenggarakan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) sepanjang tahun 2017 di empat kota yakni Semarang, Surakarta, Yogyakarta dan Muntilan. Seperti apakah? Kita simak yuk!

Referensi pihak ketiga

Secara intensif, kata srawung dihayati oleh Komisi HAK KAS mulai sesudah Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Agama di Muntilan 24-26 Oktober 2014. Sesudah itu, rangkaian-rangkaian gerakan dalam berbagai kegiatan Kom HAK KAS menggunakan kata srawung entah itu dalam kaitannya dengan dialog maupun kerja sama dalam rangka seni dan budaya.

Yang paling banyak secara kualitatif maupun kuantitatif gerakan dengan tajuk srawung adalah pada tahun 2017. Sepanjang tahun 2017, ada berbagai gerakan Kom HAK KAS yang menggunakan kata srawung dan dengan demikian juga mengembangkan spiritualitas srawung. Pada tanggal 5 Maret 2017, Kom HAK KAS bekerjasama dengan berbagai komunitas lintas agama mengadakan Srawung Kaum Muda Lintas Agama di halaman Balai Kota Semarang. Kerja sama dibangun bersama rekan-rekan yang tergabung dalam Pelita (Persaudaraan Lintas Agama), Gusdurian Semarang, PMII dari berbagai Perguruan Tinggi/Universitas, antara lain dari UIN Walisongo, Unwahas, Unnes, UNDIP, dan Unisula. Srawung Orang Muda Lintas Agama di Kota Semarang melibatkan sedikitnya 71 komunitas sebagai peserta aktif selain di dalam kepanitiaan. Selain orang muda, terlibat pula tokoh-tokoh lintas agama dalam peristiwa ini. Jumlah peserta sedikitnya 3.000 orang, belum terhitung yang tidak tercatat dalam daftar kehadiran. Srawung Orang Muda Lintas Agama di Semarang dilaksanakan dalam bingkai seni, sastra, budaya dan belarasa melalui aksi donor darah. Peristiwa ini terjadi sehari, dari pagi hingga sore hari.

Tokoh-tokoh lintas agama yang hadir dan mendukung serta memberi edukasi dalam Srawung Orang Muda Lintas Agama terdiri dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi; Gus Ubaidillah Achmad, Tjahjadi Nugroho, Pandita Warto, Andi Tjiok, I Nengah, dan Sumarwanto bersama penyair budayawan Joko Pinurbo. Tak ketinggalan, Heidy Ibrahim, vokalis Power Slaves.

Srawung Orang Muda Lintas Agama yang diselenggarakan di halaman Balai Kota itu juga ditandai selebrasi seni budaya lintas agama dan aksi sosial donor darah. Di penghujung acara, para peserta tetap semangat menyerukan deklarasi berikut ini.

Kami, Orang Muda Lintas Agama Semarang untuk Indonesia menyerukan dan bertekad untuk:

1. Mengembangkan sikap hidup inklusif, inovatif dan transformaif serta melawan setiap bentuk radikalisme dan intoleransi di muka bumi ini.

2. Mencintai dan menciptakan kerukunan dalam keberagaman untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agama kami.

3. Berjuang dengan siapa saja untuk terus membangun persaudaraan dan persahabatan sejati.

4. Menjaga dan menegakkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Referensi pihak ketiga

Sesudah tanggal 5 Maret 2017 di Semarang, pada bulan berikutnya, yakni tanggal 23 April 2018, kami selenggarakan Srawung Kaum Muda Lintas Agama di Solo. Tepatnya, peristiwa diselenggarakan di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta. Pada kesempatan ini, terlibat sebagai panitia dan hadir dalam peristiwanya berbagai orang muda lintas agama di Surakarta dan sekitarnya. Meski tidak sampai 1000 orang yang hadir, namun partisipasi berbagai komunitas cukup memberi warna bagi tujuan Srawung Orang Muda Lintas Agama dalam rangka membangun peradaban kasih. Ini merupakan rangkaian dari safari membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agamanya khususnya di antara kaum muda lintas agama yang dirancang oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS).

Di Solo, panitia pelaksana kaum muda mahasiswa lintas agama Surakarta mempersiapkan dalam waktu sekitar satu bulan bekerjasama dengan Kom HAK Kevikepan Solo, Pastoral Mahasiswa (Parmas), dan sejumlah komunitas lintas agama Surakarta. Srawung Orang Muda Lintas Agama di Solo ditempatkan pula dalam rangka memperingati hari Kartini. Itulah sebabnya, tema yang dipilih adalah, “Menimba Semangat RA Kartini, Kaum Muda Lintas Agama Bersukacita Merajut Hidup Damai dalam Keberagaman”. 

Sebagaimana terjadi di Semarang, Srawung Kaum Muda Lintas Agama di Solo ditandai dengan doa lintas agama yang dilangitkan tokoh-tokoh agama Suparman (NU), Romo Aloys Budi Purnomo Pr (Katolik), Pinandhito Bagyohadi (Hindu), Romo Sektiono (Buddha), WS Adjie Chandra (Konghucu) dan Pdt Manati Emanuel Sega (Kristen). Mereka juga bertindak sebagai nara sumber dalam rangka edukasi kebangsaan dan kerukunan dalam keberagaman. Berikut adalah deklarasi yang dibacakan di penghujung acara di Solo. 

Kami orang muda lintas agama Surakarta untuk Indonesia menyerukan dan bertekad untuk:

1. Menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 sebagai poros etik berbangsa dan bernegara yang merdeka. 

2. Menghayati keberagaman agama sebagai keindahan perdamaian dan persatuan Indonesia. 

3. Menghormati hak beragama antar umat. Penuh secara pikir dan batin. 

4. Bersikap toleran terhadap antar umat beragama. 

5. Merawat dan melestarikan kebudayaan asli kota Surakarta: budaya unggah-ungguh sebagai tata krama menghormati antar manusia.

6. Saling gotong royong bekerja sama menciptakan suasana guyub rukun di kota Surakarta.

Referensi pihak ketiga

Sesudah di Semarang dan Solo, Srawung Orang Muda Lintas Agama juga diselenggarakan oleh Kom HAK KAS di Yogyakarta. Mengambil tempat di Plaza Ngasem, gerakan ini diberi judul “Srawung Anak Bangsa”. Kepanitiaan juga terdiri dari komunitas lintas agama. Bahkan, yang menjadi ketua panitia di Yogyakarta justru dipilih dari seorang pemuda beragama Islam yang memiliki jiwa seni dan budaya tinggi dan bersemangatkan kebangsaan, yakni Yunan Helmi. Sinergi antara berbagai komunitas (Kom HAK DIY, Srili, Jogya Damai, Mahasiswa dan berbagai komunitas lainnya) bekerjasama dalam rangka srawung anak bangsa ini. Orang muda dengan sukacita dan bahagia menyambung tali silaturahmi untuk kehidupan yang rukun dan damai dalam keberagaman sebagai anak bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para penampil sendiri terhitung sedikinya 300-an orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya Nusantara. Mereka adalah Jogja Voice United, Tari Sufi, Rockstar Ideology, Rizca Ayu, Tari Jawa, Tari Dayak, Tari Papua, Tari Manggara, Paduan Suara Papua, Nada Bicara, Musik Akustik PMHD Banguntapan, Siter Seruling Kecapi, Allsize Vocal Group, dan Dybow, dan Tari Semarangan.

Peristiwa yang terjadi di Yogya menjadi fenomenal justru karena begitu banyak warga masyarakat yang terlibat secara antusias. Para pengisi pun tak hanya berasal dari Yogya, tetapi juga dari Purwokerto dan Semarang. Semua terjadi dalam rangka srawung, merajut tali silaturahmi dalam keberagaman. Srawung Anak Bangsa di Yogyakarta dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2017. Deklarasi dilaksanakan dalam bingkai lagu dan nada “Damai dalam Cinta”. Lagu diciptakan oleh Yunan Helmi dan dinyanyikan oleh para tokoh lintas agama bersinergi dengan orang muda Jogyakarta berbagai komunitas.

Safari srawung orang muda lintas agama Kom HAK KAS 2017 berakhir di Muntilan, pada tanggal 28 Oktober 2017. Acara dilaksanakan dalam kolaborasi dan sinergi antara Kom HAK KAS, Karya Misioner KAS dan Museum Misi Muntilan serta Paroki St. Antonius Muntilan Sedikitnya terdapat perwakilan 15 komunitas lintas agama hadir, antara lain dari GP Ansor, Fatayat dan Muslimat NU, serta komunitas-komunitas Gereja Kristen, Hindu dan Buddha. Srawung orang muda lintas agama di Muntilan juga melibatkan anak-anak melalui upacara bendera di lapangan kauman bersama Camat setempat serta pentas seni dan pameran dari berbagai komunitas sekolah di Muntilan. Panitia setempat dengan sangat kreatif melibatkan banyak pihak dalam rangka membangun srawung lintas agama, tak hanya untuk orang muda, melainkan juga anak-anak, remaja, dan kaum dewasa. Pagi hingga siang dilaksanakan upacara dan ekspo budaya serta pentas seni di lapangan Kauman Muntilan. Sore hingga malam diselenggarakan pentas seni dan budaya bagi kaum muda dan komunitas lintas agama di aula Paroki St. Antonius Muntilan.

Referensi pihak ketiga

Begitulah, sepanjang tahun 2017, dengan segala keterbatasan yang ada, Kom HAK KAS bersinergi dengan berbagai komunitas untuk menyelenggarakan srawung orang muda lintas agama. Semuanya dilaksanakan dalam rangka menghayati spiritualitas srawung. Srawung dilaksanakan dalam berbagai situasi dan kondisi dengan siapa saja di mana saja, tanpa mengenal lelah. Tak usah berpikir hasilnya apa? Yang terpenting adalah bahwa melalui srawung, kita belajar untuk saling menjadi berkah!

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.*** (bersambung)

JoharT Wurlirang, 10/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan Th XV September 2018 h. 44-47

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4350745722495425?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.