Inspiration

Merajut Persaudaraan dalam Keberagaman Melalui Komisi Hubungan Antaragama & Kepercayaan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Artikelini merupakan refleksi sesudah 10 tahun melayani sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) (sejak 1 Mei 2008). Tulisan ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari artikel saya sendiri yang dimuat di di Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan mulai edisi Januari 2018, dalam kolom diskresio yang terbit sebulan sekali. Refleksi ini sekaligus menjadi refleksi atas pengalaman selama satu dekade bertugas sebagai Ketua Komisi HAK KAS. Semoga bermanfaat.

Referensi pihak ketiga

Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, menunjuk dan menugaskan saya mengemban tugas sebagai Ketua Komisi HAK KAS per tanggal 1 Mei 2008. Saat itu, Vikaris Jenderal KAS, Romo Johannes Pujasumarta rawuh ke pastoran Tanah Mas – tempat saya bertugas sebagai Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang (sejak Juli 2007) dan memastikan bahwa Mgr. Ignatius Suharyo bersama Dewan Karya Pastoral (DKP) KAS menunjuk saya untuk tugas tersebut. Kepada Romo Pujasumarta yang merupakan Ketua DKP KAS kala itu, yang di kemudian hari ternyata melanjutkan estafet penggembalaan sebagai Uskup Agung KAS, saya hanya mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, menurut kehendak-Nya!” Begitulah, SK sebagai Ketua Kom HAK KAS kuterima.

Tak lama sesudah itu, Romo F. Suryaprawoto MSF, Ketua Kom HAK KAS sejak keberadaan Kom HAK KAS pada awal mula, rawuh ke pastoran Tanah Mas bersama Bapak Kusuma Wirawan, yang kala itu menjadi bendahara Kom HAK KAS. Bapak Kusuma dan saya memilih dan memohon bantuan kepada Maria Magdalena Sindajanty sebagai penggantinya, dan saya menerima proses itu dengan penuh syukur sebagai kehendak Tuhan dalam karya pelayanan. Sejak itulah, kami bertiga, Lukas Awi Tristanto, Maria Magdalena Sindajanty dan saya bekerjasama dalam tugas pelayanan di Komisi HAK KAS, dengan segala ketidaktahuan kami. Kami memulai dari nol, dan membaca semua berkas yang diberikan Romo Surya dan Pak Kusuma dalam acara serah terima sederhana siang itu, di Pastoran Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Semarang. Salah satu berkas penting yang diserahkan kepada kami adalah draft pedoman pelaksanaan Kom HAK KAS yang masih harus disempurnakan bersama di DKP KAS.

Saya membaca dan memperlajari draft pedoman pelaksanaan Kom HAK KAS tersebut sebaik-baiknya. Dari situlah, saya belajar dan belajar mengerti tentang Kom HAK KAS. Saat itulah, kuketahui, ternyata, keberadaan Kom HAK KAS sudah dimulai sejak era penggembalaan Justinus Kardinal Darmajuwono. Saya pun mulai menulis dan merumuskan profil Kom HAK KAS. Dalam sejarahnya, keberadaan Kom HAK KAS tidak lepas dari peristiwa penting dalam Gereja Universal, yakni Konsili Vatikan II (KV II, 1962-1965) yang membuahkan salah satu dokumen yakni Nostra Aetate (NA), yakni Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristiani. Nostra Aetate sendiri merupakan pernyataan yang dirumuskan berdasarkan Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, khususnya artikel 16. Berdasarkan LG 16 dan NA, Gereja Katolik Roma mendirikan Secretariatus ad Christianorum Unitatem Fovendam et Secretariatus pro Non Christianis. Sekretariat ini merupakan respon positif atas terbitnya LG 16, Dekrit Unitatis Redintegratio, Dekrit tentang Ekumenisme dan Deklarasi Nostra Aetate. Selanjutnya, di tingkat Gereja Katolik Roma di Asia khususnya oleh Federation of Asian Bishops Conferences (FABC) didirikanlah Office for Ecumenism and Interreligus Affair. 

Nah, lebih lanjut, di tingkat Gereja Katolik Indonesia, Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) yang sejak tahun 1987 berubah menjadi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) membentuk Panitia Waligereja Indonesia (PWI) Ekumene pada tahun 1966, setahun setelah KV II. PWI Ekumene dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan dan usaha untuk mendukung persatuan umat Kristiani dalam keragaman inter-denominasi Gereja-Gereja. Pada tahun 1975, dalam rangka memperluas jangkauan dialog dan kerja sama, maka PWI Ekumene diubah menjadi Panitia Waligereja Indonesia Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (PWI HAK). Pada tahun 1979, KWI merekomendasikan supaya di tingkat keuskupan-keuskupan pun dibentuk Penghubung karya pelayanan HAK (Hubungan Antaragama dan Kepercayaan). 

Referensi pihak ketiga – Jurstinus Kardinal Darmajuwono

Di Keuskupan Agung Semarang, Kom HAK KAS mulai dibentuk atas inisiatif Bapak Uskup Agung Semarang pada waktu itu, yakni Mgr. Justinus Darmojuwono Pr (yang kala itu belum diangkat sebagai Kardinal ya) pada bulan Mei 1980. Romo Ferdinandus Suryaprawata MSF ditunjuk menjadi Penghubung HAK KAS, bersama Romo YB. Mangunwijaya Pr khusus untuk penghubung dengan umat Islam dan Romo I. Kuntara Wiryamartana SJ untuk penghubung dengan Penghayat aliran Kebatinan dan Kepercayaan lain. Romo F. Suryaprawata MSF menjadi Koordinator Umum Penghubung HAK sekaligus fokus sebagai penghubung dengan Gereja-Gereja Kristen Protestan. Semua penugasan tersebut bersifat lisan per Mei 1980 dan diresmikan dalam Surat Keputusan Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo Pr pada tanggal 13 Desember 2004 dengan berlaku surut. 

Dalam perjalanan selanjutnya, Kom HAK KAS menjadi bagian dari dan dalam Dewan Karya Pastoral (DKP KAS) yang dibentuk berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 522 tentang Dewan Pastoral. Kom HAK KAS bersama DKP KAS berupaya mewujudkan panggilan menghadirkan Kerajaan Allah dalam berbagai aktivitas pastoral pada tingkat Gereja Lokal yang digembalakan oleh Bapak Uskup (Lumen Gentium/LG 23). Begitulah, sejarah singkat Kom HAK KAS, yang lahir sebagai upaya untuk kian menghayati semangat KV II, terutama dalam mengembangkan sikap hormat dan menghargai agama-agama lain, serta membangun kerja sama dan dialog dengan umat beragama lain, apa pun agama dan kepercayaannya.

Dalam konteks historis itu, Kom HAK KAS mengemban dan mengembangkan visi misi menjamin terlaksananya penyadaran umat agar siap membangun dialog dan kerja sama dalam hidup masyarakat yang majemuk dan meningkatkan proses dialog antarumat beragama dan kepercayaan, entah itu dalam bentuk dialog hidup, karya, antarpakar, maupun sharing pengalaman interreligius dan ekumenis. Visi-misi tersebut terkait dengan fungsi Kom HAK KAS sebagai wadah untuk melihat, menimbang, bertindak dan mengembangkan karya pastoral dalam hubungan umat beriman lintasagama, kepercayaan dan religius di Keuskupan Agung Semarang. Singkatnya, visi-misi Kom HAK KAS adalah bersama dengan seluruh umat beriman membangun hubungan baik dengan umat beragama dan kepercayaan lain melalui proses dialog dan kerjasama yang kian meningkat dan berdayaguna bagi kehidupan bersama. Tujuannya adalah membangun persaudaraan yang sejati bersama semua orang apa pun agama dan kepercayaannya. Persaudaraan sejati itu ditandai oleh keterbukaan, kerukunan, kerja sama, dan sikap saling menghormati satu terhadap yang lain.

Referensi pihak ketiga

Untuk dapat mencapai visi-misi tersebut, maka siapa pun yang mengemban tugas di Kom HAK KAS diutus untuk menjalankan peranannya dalam lima hal. Pertama, menjadi inspirator, yakni mengilhami umat agar lebih terbuka terhadap umat beragama lain karena Gereja adalah tanda dan sarana persatuan manusia dengan Allah dan antarmanusia (LG 1) dalam sikap hormat dan cara pandang yang positif (LG 16 dan NA, khususnya artikel 2 dan 5). Kedua, menjadi animator, yakni menjiwai umat dengan semangat dasar Tuhan Yesus Kristus yang mengajarkan hukum kasih kepada Allah dan sesama sebagai hukum terpenting dan tertinggi (Lukas 10:27), bahkan mengasihi (yang me)musuh(i) (Lukas 6:27, 35) demi terwujudnya persaudaraan yang bermartabat. Ketiga, menjadi komunikator, yakni mewartakan seruan persaudaraan sejati sebagai semangat Kerajaan Allah dan menjadi sarana penghubung antarumat beragama dan penghayat kepercayaan, sebab Allah berkenan menyelamatkan semua orang (1Timotius 2:3-4). Keempat, sebagai motivator, yakni menggerakkan umat baik secara internal-beriman seagama maupun eksteral-beriman beragama lain menuju titik temu perjuangan agar antarmanusia mengembangkan “sikap hormat yang tulus atas apa yang benar dan suci” (NA 2), “supaya menjalin dialog dan kerjasama membela dan mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan” (NA 3), tanpa diskriminasi (NA 5). Kelima, menjadi mediator, yakni menjadi penghubung dan perantara Gereja Katolik dalam menjalin, membina, dan meningkatkan hubungan baik dengan umat beragama dan kepercayaan lain dengan mengembangkan “sikap hormat yang tulus atas apa yang benar dan suci…” (NA 2) yang terdapat dalam agama-agama dan kepercayaan lain dengan prinsip dasar, apabila segala sesuatu tergantung dari padamu, hendaklah kamu menjadi pembawa damai (NA 5), dan “sambil memberikan kesaksian tentang peri hidup kristiani” (NA 2) kepada siapa saja.

Begitulah dengan pemahaman dasar itu, kucoba melangkah maju mengemban tugas perutusan sebagai Ketua Kom HAK KAS, yang tiada terasa, ternyata saat ini sudah berjalan selama satu dekade lebi (1 Mei 2008 – November 2018). Itulah yang mendorongku untuk kemudian membuka kembali catatan-catatan peristiwa, album kenangan, dan segala sesuatu yang terjadi sebagai refleksi atas tugas perutusan ini.

Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.*** (bersambung)

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 8/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan Edisi Th XIV Januari 2018, h. 44-47

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3951622285033883?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.