Inspiration

Merajut Persaudaraan Sejati dalam Keberagamaan Melalui Dialog Ekumenis Pekan Doa Sedunia

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Di tingkat Dewan Kepausan, tugas pelayanan di bidang dialog interreligius dipisahkan dan dibedakan dari tugas pelayanan di bidang dialog ekumene. Konsili Vatikan II sungguh-sungguh ditandai aggiornamento (gerakan pembaruan) dari sisi komitmen Gereja Katolik untuk merajut persaudaraan dalam keberagaman.

Referensi pihak ketiga

Pertama-tama disadari pentingnya persaudaraan dalam keberagaman di antara Umat Kristiani sendiri. Dalam rangka itu, Vatikan membentuk yang disebut Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Kristiani. Bagaimana awal mulanya?

Pada mulanya adalah Paus Yohanes XXIII, yang dengan penuh keramahan namun sekaligus kerendahan hati, menghendaki agar Gereja Katolik Roma terlibat dalam gerakan ekumene. Untuk itu, pada tangal 5 Juni 1960, Papa Giovani – begitu panggilan akrabnya – mendirikan yang disebut “Sekretariat untuk Memajukan Persatuan Kristiani. Paus yang baik hati itu menunjuk Augustin Kardinal Bea sebagai Ketua. Dari Sekretariat inilah, di kemudian hari, saat Paus Yohanes XXIII menyerukan dan mengundang diadakannya Konsili Vatikan II (1962-1965), terlahir sejumlah dokumen penting, yakni Unitatis Redintegratio (dokumen Ekumenis), Nostra Aetate (dokumen Interreligius), Dignitatis Humanae (dokumen tentang Kebebasan Beragama).

Sesudah Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI menegaskan bahwa Sekretariat untuk Memajukan Persatuan Kristiani merupakan bada tetap Tahta Suci di Vatikan demi mengoptimalkan gerakan-gerakan ekumenis. Itu terjadi pada tahun 1966. Selanjutnya, pada tanggal 28 Juni 1988, Paus Yohanes Paulus II mengubah Sekretariat untuk Memajukan Persatuan Kristiani menjadi Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Kristiani dalam Kuria Romawi di Vatikan.

Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Kristiani itulah, yang di kemudian hari terlibat aktif dan intensif dalam rangka membangun gerakan ekumene melalui yang disebut Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Gerakan ini sudah dimulai jauh hari sebelum Konsili Vatikan II, yakni sejak tahun 1908. Setiap tahun, sejak 1908, diserukan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani pada tanggal 18-25 Januari.

Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya menangkap gerakan Gereja Universal tersebut dan mengaplikasikannya dalam konteks Gereja Lokal, khususnya di Keuskupan Agung Semarang. Itulah sebabnya, setahun sesudah saya diberi mandat pelayanan dan perutusan di Kom HAK KAS, saya mengangkat gerakan ini menjadi gerakan bersama di KAS. Tahun 2009, saya mulai mencari dan mempelajari bahan-bahan yang terkait dengan Pekan Doa Sedunia yang terbitkan oleh kerjasama antara Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan Umat Kristiani dengan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Yang pertama merupakan representasi wajah Gereja Katolik. Yang kedua merupakan representasi wajah Gereja-Gereja Kristen Protestan dan semua denominasi yang ada di dalamnya.

Referensi pihak ketiga

Sejujurnya, saat memperlajar, membaca dan menemukan bahwa ternyata gerakan Pekan Doa Sedunia itu sudah diserukan pada tahun 1908, maka, berarti, saat saya ditunjuk dan diutus oleh Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo – kala itu – gerakan Pekan Doa Sedunia itu sudah memasuki usia satu abad, atau 100 tahun (2008). Itulah yang membuat saya tertantang dengan pertanyaan: Sudah 100 tahun…, apa yang dilakukan Komisi HAK KAS? Saya mendapatkan jawaban. Mendiang Romo F. Suryaprawoto MSF, pendahulu saya, sudah melakukan gerakan ini dengan beberapa kawan Pendeta. Ada doa bersama. Itu bagus sekali. Inilah benih yang kemudian kurawat dan kusiram agar tumbuh menjadi pohon yang baik. Caranya bagaimana?

Saya memberanikan diri untuk menerjemahkan atau lebih tepatnya menyadur bahan-bahan terkait dengan Pekan Doa Sedunia yang diterbitkan Vatikan dalam kerjasama dengan Dewan Gereja-Gereja Sedunia. Bahan-bahan itu kemudia kami distribusikan ke paroki-paroki dan komunitas-komunitas se-KAS untuk dipergunakan dalam rangka Pekan Doa Sedunia 18-25 Januari. Dengan bahan tersebut, saya bekerjasama dengan Pendeta Nafsun dari GKJ Banyumanik yang juga menjadi Ketua GKPS (Gereja Kristen Protestan Semarang) dan Pendeta Muda Ronny Candra dari GIA Pringgading Semarang – kala itu.

Begitulah, kami mulai dengan untuk pertama kalinya menyelenggarakan Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang, tempat saya bertugas kala itu. Tahun 2010, kami memulai untuk pertama kalinya, Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia atas nama Komisi HAK KAS. Di Tanah Mas berlangasung tiga kali, yakni tahun 2010, 2011, dan 2012. Lalu saya berpindah tugas ke Kebon Dalem. Di Kebon Dalem pun kami lanjutkan gerakan tersebut atas nama Kom HAK KAS dalam kerjasama yang semakin luas, tahun 2013, 2014, 2015.

Mulai di sini, tahun 2012 dan seterusnya, saya bersyukur mendapat partner yang penuh semangat, yakni Pendeta Wipro Pradipto, yang secara proaktif turut menggerakkan Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia ini. Beliau menggerakkan rekan-rekan Pendeta dari Gereja-Gereja Kristen dari segala denominasi untuk terlibat dalam Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Semakin banyak pula umat pun jemaat dan Ibu/Bapak Pendeta yang terlibat.

Gerakan terus berlanjut, ketika saya berpindah tugas dari Kebon Dalem ke Ungaran, dari Kota ke Kabupaten Semarang. Di Ungaran, kami menyelenggarakan Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia tahun 2016 dan 2017. Syukur kepada Allah, meski saya berpindah tugas lagi kembali ke Kota Semarang, tahun 2018, Dewan Paroki Ungaran tetap melaksanakan Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia bersama dengan Gereja-Gereja Kristen setempat serta para Ibu/Bapak Pendeta terdekat. Ini sangat bagus dan mengharukan! Mereka tetap melaksanakan gerakan Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia meski saya sudah tidak lagi di Ungaran. Puji Tuhan, dan terima kasih!

Maka, terhitung sejak tahun 2010 hingga tahun 2018, gerakan Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia 18-25 Januari sudah berlangsung selama dan sebanyak Sembilan kali. Terima kasih dan syukur kepada Allah kepada Tim Kom HAK KAS yang dengan setia terus bekerja keras untuk kepentingan ini. Tiada terasa, kerja keras itu berbuah manis di tahun kesembilan. Laksana suatu rangkaian doa novena Sembilan kali berturut-turut, di tahun kesembilan, buah-buah manis boleh dipetik dari benih yang ditaburkan oleh mendiang Romo F Suryoprawoto MSF dan kami rawat menjadi pohon yang bertumbuh dan berbuah.

Bahkan, buahnya tak hanya dipetik di dalam lingkungan Gereja Katolik melainkan juga di lingkungan Gereja-Gereja Kristen. Berikut data gereja-gereja yang pernah menerima, menjadi tempat dan menyelenggarakan Ibadat Ekumene dalam Rangka Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani dari tahun 2010-2018. Di Semarang: Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Gereja Kebon Dalem, Gereja Semarang Indah, Gereja Sendangguwo, Gereja Karangpanas, Gereja Bongsari, Gereja Ungaran, Gereja Tegalrejo, Gereja Solo Baru, Gereja Kidul Loji, Gereja Pringgolayan, Gereja Ignatius Magelang, Gereja Kalinegoro Magelang, Gereja Wedi, dan Gereja Gubug. Belum terhitung yang dilaksanakan di gereja-gereja Kristen baik di Semarang, Kedu, Yogya, maupun di Solo.

Para Bapak Uskup dan Romo Administrator yang menggembalakan Gereja KAS memiliki peran yang amat besar dalam turut merawat pohon ini dan menggemakannya dalam konteks penggembalaan di KAS. Mgr. Pius Riana Prapdi (saat menjadi Administrator Diosesan KAS), Mgr. Johannes Pujasumarta, Romo FX Sukendar Wignyasumarta Pr (sebagai Administrator Diosesan KAS) dan Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang saat ini memiliki peran masing-masing yang signifikan dan relevan dalam rangka merawat dan meneguhkan gerakan Pekan Doa Sedunia ini. Tentu, semua berawal dari Mgr. Ignatius Suharyo yang menunjuk dan menugaskan daku dalam tugas perutusan dan pelayanan sebagai Ketua Kom HAK KAS. Sinergi pribadi-pribadi yang indah dan mulia, menguatkan daku yang lemah dan rapuh yang berangkat menjalankan tugas perutusan dari titik nol, karena saya pun pada awalnya tidak tahu banyak mengenai tugas perutusan itu. Namun, doa, arahan, nasihat dan dukungan Beliau-beliau ini meneguhkan daku dalam menjalankan tugas perutusan itu, untuk merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman.

Pada awal saya mengemban tugas perutusan ini, Bapak Uskup Mgr. Ignatius Suharyo ngendika, “Romo, prinsipnya silahkan mengemban tugas ini seperti melemparkan kerikil kecil ke dalam kolam. Lingkaran gelombangnya pasti akan semakin meluas dan melebar. Itu saja. Romo pasti bisa!” Nasihat yang sangat bijaksana dan mendalam itu saya renungkan, saya bawa dalam doa, dan kemudian saya coba wujudkan melalui gerakan-gerakan sekecil apa pun yang terkait dengan Kom HAK KAS. Semoga gerakan-gerakan sekecil apa pun itu dapat kulemparkan ke dalam kolam kehidupan bersama dan memberikan lingkaran gelombang yang semakin melebar dan meluas dalam rangka merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman.

Salah satunya, kerikil kecil itu adalah gerakan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani dengan segala hal yang menyertainya. Semoga itu semua menjadi gerak nyata dan berbuah dalam membangun dan merajut persaudaraan sejati dalam keberagaman di antara umat Kristiani. Terima kasih kepada para Romo dan Pendeta yang berkenan terlibat di dalamnya. Di tahun 2018 , sayua bersyukur boleh menikmati lingkaran gelombang yang semakin meluas dan mendalam antara lain melalui keikutsertaan para Romo dalam Ibadat Ekumene untuk Pekan Doa Sedunia.

Menurut catatan saya, semoga saya tidak salah mencatat sehingga ada nama yang terlewatkan belum tercatat. Pada Pekan Doa Sedunia 18-25 Januari 2010 semakin banyak Romo dari Gereja Katolik yang terlibat. Saat kami mengadakan Ibadat Ekumene Pembukaan Pekan Doa Sedunia di Gereja St. Athanasius Karangpanas Semarang (18/1/2018). Sebanyak sebelas imam/Romo Pastor Katolik turut serta di dalamnya. Beliau-beliau adalah Rm. AG Luhur Prihadi Pr (Vikep Semarang), Rm. Ig. Suharyono Pr, Rm. Heri Pr. Rm. Graha Pr, Rm. Martoyoto Pr, Rm., Noven Pr, Rm. E Didik C SJ, Rm. Tirta MSF, Rm. Irawan Pr, Rm. Hantoro Pr, dan saya sendiri (Aloys Budi Purnomo Pr).

Hal yang sama terjadi di Kevikepan Kedu, yang diselenggarakan di Gereja St. Rafael Kalinegoro, Pancaarga, Magelang (23/1/2018). Sebanyak delapan imam/Romo Pastor Katolik turut serta dalam Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia. Beliau-beliau itu adalah Rm. FX Krisno Handoyo Pr (Vikep Kedu), Rm. Saryanto Pr, Rm. A. Dwi Ariyanto Pr, Rm. A. Suryo Nugroho Pr, Rm. H Budi Purwantoro Pr, Rm. Koko Pr, Rm. Tri Nugroho Pr, dan saya.

Referensi pihak ketiga

 Di Yogyakarta pun terjadi hal yang istimewa (24/1/2018). Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia yang dilaksanakan di Gereja St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji itu diikut oleh sepuluh imam/Romo Pastor Katolik. Beliau-beliau adalah Rm. Fl. Harto Subono Pr (Vikep Yogya), Romo, G. Notobudya Pr, Rm. Mantoro Pr, Rm. St. Heruyanto Pr, Rm. Maryono Pr, Rm. Ratma Pr, Rm. Agus Purwadi Pr, Rm. Nano MSF, Rm. Danang B SJ, dan saya.

Sementara itu, dalam rangka Ibadat Ekumene Penutupan Pekan Doa Sedunia yang akan dilaksanakan di Bongsari pada tanggal 25 Januari 2018, jumlah para romo dari Gereja Katolik yang sudah mendaftarkan diri untuk ikut ada delapan orang yakni Rm. AG Luhur Prihadi Pr (Vikep Semarang), Rm. E Didik C SJ, Rm. Smith SJ, Rm. Sarwanto SJ, Rm. Harda SJ, Rm. Peter SJ, Rm. Tirta MSF, dan saya.

Semoga dari tahun ke tahun, semakin banyak yang terlibat dan peduli tentang hal ini. Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.*** (bersambung)

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 8/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Edisi Th XIV Februari 2018, h. 44-47

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/663867976564170?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.