Inspiration

Merajut Hidup Rukun Antarumat Beragama Bersama Timja HAK Paroki Wates, Kulon Progo, DIY

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Paroki Wates, Kulon Progo, DIY menyelenggarakan sarasehan kebangsaan. Atas nama panitia, Saudara Yoyok memanggil saya menjadi narasumber bersama dengan tiga lainnya yakni H. Nuruddin, Kepala Kemenag Kabupaten Kulon Progo; Agung Mabruri, Ketua FKUB Kabupaten Kulon Progo; dan Pdt. Adhika Tri Subowo selaku Ketua PGI dan Pengurus Klasis Kulon Progo. Sarasehan dilaksanakan di Wisma Persaudaraan Sejati Paroki Wates.

Referensi pihak ketiga

Dalam sarasehan, Nuruddin membuka dengan menyampaikan sambutan awal terkait dengan komitmen Kemenag Kulon Progo serta visi dan misinya. Intinya, Kemenag Kulon Progo menjamin ketaatan umat beragama untuk menjalankan agamanya dan mewujudkan imannya dengan baik. Meski tidak bisa ikut sampai selesai, kehadirannya sebagai Ketua Kemenag Kulon Progo di Wisma Persaudaraan Sejati Paroki Wates pantas diapresiasi.

Sementara itu sebagai Ketua FKUB Kulon Progo, Agung menyampaikan gagasan-gagasan yang positif terkait dengan kerukunan. Kerukunan tak lain untuk menopang kehidupan berbangsa. Agung menegaskan hal-hal penting untuk menjaga kerukunan melalui bidang kemanusiaan, kearifan lokal dan pendidikan. Termasuk di dalamnya sisi ekonomi, sosial dan budaya.

Referensi pihak ketiga

Sedangkan Pdt. Adhika menyebutkan bahwa keberagaman itu kehendak Tuhan. Tiga hal penting perlu dihayati untuk menjaga kerukunan yang disebutnya dengan 3A yakni andhap asor (kerendahan hati), aja nggedhekake tembok (jangan menonjolkan tembok pemisah) dan ajur ajer (sikap lebur dan inklusif).

Saya sendiri mengajak para peserta untuk menyanyi Indonesia Pusaka dengan iringan saksofon sesudah menerangkan pentingnya persatuan dalam keberagaman melalui simbol saksofon. Saya bagikan gagasan dan pengalaman pula terkait dengan pentingnya merayakan keberagaman sebagai jalan mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agama dan kepercayaannya. Dalam hal ini seni dan budaya bisa menjadi pintu masuk untuk membangun peradaban kasih tersebut. Dasarnya adalah Pancasila. Bingkainya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan spiritnya adalah Bhinneka Tunggal Ika berlandaskan konstitusi UUD 1945. Pada kesempatan itu saya sampaikan pula Permufakatan Yogyakarta yang dibuat oleh para agamawan dan budayawan bersama Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin di Tembi, 2-3/11/2018 lalu.

Referensi pihak ketiga

Sesudah presentasi masing-masing narasumber, dialog dilakukan melalui tanya jawab yang hidup dan jujur. Semua bermuara pada kerinduan untuk hidup damai, rukun dan sejahtera sebagai warga bangsa Indonesia.

Demikian catatan singkat inj. Semoga bermanfaat. Tuhan memberksti. Salam peradaban kasih.***

Wates Kulon Progo, 11/11/2018

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3119231336070461?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.