Inspiration

Bagaimana Kelanjutannya? Inilah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (18)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih! Inilaha kelanjutan kisah narasi lelaki pemburu peradaban kasih kali ini. Masih berada di bulan April 2018. Saat lelaki itu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Tampaknya ini menjadi puncak rasa sakit yang dialami lelaki itu seumur hidupnya gegara batu ginjal yang tak seberapa namun pergeseran gerakan batu itu dahsyat luar biasa. Lihatlah, lelaki yang selama ini berlari membawa semua luka dengan tegarnya demi memburu peradaban kasih itu kini pucat pasi menahan nyeri yang tak tergangungkan. 

“Ups. Urineku berwarna kemerahan! Alirannya disertai perih dan nyeri!” Katanya pada dirinya sendiri saat menyaksikan bahwa urine dan cara pipisnya mulai aneh.

Tak bisa dimungkiri, lelaki itu nyaris putus asa karena rasa sakit yang dialaminya ini. Keringat dingin menggumpal di dahi, leher dan dadanya. 

Untuk ketiga kalinya sesudah Senin, Kami pagi dan Kamis malam itu saat ia sudah tergolek di rumah sakit, tiba-tiba, malam itu, rasa sakit menyerang. 

Lelaki itu jungkir balik dalam tidurnya menahan nyeri di seluruh tubuhnya yang bersumber dari perut kiri dan kanan melingkar hingga pinggang belakang. Perih! Pedih! Seperti ditusuk-tusuk sembilu. Tak terlukiskan sempurna seperti faktanya. 

Hampir tiga jam lelaki itu jungkir balik menahan rasa sakit itu. Sejak waktu menunjuk angka 19.15 – 22.15-an, ia berguling ke kiri, melipat kaki dan lutut nyaris kayak ingkung ayam. 

“Loh, mengapa hingga tiga jam seperti itu?” Tanya Ray si kumis tipis yang pagi itu menjenguknya. 

“Tampaknya ada kesalahpahaman. Begitu rasa sakit menyerang dan saya sudah tidak kuat lagi menahan rasa itu, saya langsung memencet bel darurat. Nah, saat perawat ke kamar, saya pas dan sedang terhuyung-huyung dan masih di kamar mandi berjuang untuk – maaf – pipis dengan susah payah sambil meringis kesakitan.” Jawab lelaki itu sambil menatap Salib di tembok kamar rumah sakit tempat ia berbaring. Seakan ia sedang mempersatukan dan mempersembahkan rasa sakit yang tak seberapa itu dibandingkan dengan rasa sakit Yang Terpaku pada kayu palang itu! Ah, bukan seakan, tapi memang begitulah! 

“Harusnya pencet bel lagi donk!” Sahut Ray. 

“Saya juga sudah memencet bel berkali-kali, namun tampaknya eh pastinya para perawat sedang sibuk melayani pasien lain yang lebih membutuhkan pertolongan dari pada saya. Itu positive thinking saya. Maka saya mencoba bertahan dalam kesakitan.” Jawab lelaki itu.

“Hebat!” Puji Ray.

“Puji Tuhan! Toh akhirnya beberapa perawat datang juga. Sesudah perawat menyuntikkan penangkal rasa sakit dan mungkin juga mengandung unsur obat tidur, seketika sesudahnya saya bisa tidur pulas. Rasa sakit hilang seketika!” Jelas lelaki itu sambil menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan lega.

“Minum dulu!” Kata Ray sambil menyodorkan sebotol air mineral. “Harus banyak minum tuh!” Seperti biasa Ray sambil cengar-cengir.

“Bagus loh! Saat mengalami kolik itu, beberapa perawat memandu agar saya tarik nafas panjang dan menghembuskannya. Namun rasanya begitu sulit. Dalam keadaan itu, keramahan mereka menjadi daya kekuatan tersendiri. Mereka membiarkan saya menikmati rasa sakit itu meski saya harus jungkir balik mencari posisi penawar sakit. Seumur-umur baru saat itu saya mengalami rasa sakit sehebat itu, hingga tak tertahankan.” Jelas lelaki itu lagi sesudah meminum sebotol air mineral Petropack langsung. Lelaki itu omong lagi. Uh! Banyak omong juga tuh orang. Pelampiasan stress kaleee!

“Sesudah tiga jam bergumul dengan rasa sakit itu, lalu disuntik penghilang rasa sakit, saya mulai tenang dan tidur. Satu jam kemudian ada perawat yang membangunkan saya karena mau mengganti infus. Lega rasanya sebab saya tidak lagi mengalami rasa sakit yang hebat itu. Makanya, saat itu, saya minta maaf kepada para perawat saya karena kesakitan hebat seperti itu.”

“Terus? Dimaafkan?” Goda Ray.

“Ya iya lah! Masak ya iya donk!” jawab lelaki itu sambil membetulkan sarungnya, “Mereka memahami keadaan saya sebab pada saat kolik katanya memang bisa seperti itu. Syukurlah segala sesuatunya terkendali dalam keramahan, saling menguatkan dan meneguhkan.”

“Caileee….” 

“Kenapa caileeee? Memang benar. Sikap peduli dalam keramahan seperti itulah yang kerap kali bisa menjadi daya penawar sakit bahkan penyembuhan tersendiri. Sayang, keramahan serupa kerap kali juga hilang dari diri kita, apalagi keramahan kepada orang-orang yang sebetulnya dipercayakan kepada kita untuk kita layani, sertai dan dampingi. Godaan bersikap diskriminatif seperti itu bisa menimpa siapa saja, khususnya para pemimpin kita, dalam kategori apa saja.” Lelaki itu malah seperti kotbah.

Ray cuma senyam-senyum. Lalu muncul Ellen dan Aldo. Para aktivis RPK Kampus Ungu kala itu.

Lelaki itu menyambut mereka dengan senyum dan lambaian tangan. Tapi lalu masih melanjutkan curcolnya pada Ray. “Syukurlah, dari pengalaman sakitku itu aku masih boleh mengalami daya kekuatan keramahan yang menguatkan dan meneguhkan. Semoga itu menginspirasi kita dalam mengembangkan keramahan kepada siapa saja, terutama kepada orang-orang yang dipercayakan kepada kita.”

“Amin!” Jawab Ray!

Semua adegan itu seperti tergambar lagi di malam peralihan 2018 ke 2019 di atas sungai Kaligarang, tempat lelaki itu saat ini tinggal. Dan malam itu ia memang sendiri saja di sana sebab tiga rekan serumahnya sedang liburan ke Kalimantan! Meski sendiri tetap asyik juga menghadirkan kembali setiap peristiwa demi peristiwa untuk memberi inspirasi, minimal bagi dirinya sendiri, syukur bermanfaat bagi orang lain siapa saja dan di mana saja yang membacanya… (bersambung)

JoharT Wurlirang, 14/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/101592276712125?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.