Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inilah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (17)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah kelanjutan kisah lelaki pemburu peradaban kasih di bulan April yang melintas dalam kenangan menandai peralihan 2018 ke 2019. Ada dua kisah yang tak menyenangkan namun semua diterima dengan penuh syukur. Dua kisah itu bernama batal dan bahkan gagal.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kisah batal dimulai ketika tiba-tiba lelaki itu mendapatkan pesan dari Sang Penyair, Sastrawan dan Jurnalis, Yudhistira ANM Massardi. “Romo, mohon maaf. Rencana baca puisi kita di Semarang batal” 

Kalimat itu terbaca tetap tenang dan teduh seperti suasana hati Sang Penyair yang mengirimkan pesan itu. Maka dengan tenang dan teduh pula, lelaki itu menjawab, “Baiklah Mas Yudhis. Tetap semangat dalam karya dan pelayanan kepenyairan dan kesastrawanan Panjenengan. Salam sehat selalu!”

Terlintas di hati lelaki itu dua pengalaman indah sebelumnya saat ia mendapat berkat berkolaborasi membaca puisi Mas Yudhistira. Pertama, itu terjadi di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Kedua, pembacaan puisi terlaksana di Balai Budaya Surakarta. Kala itu, Sang Penyair sedang merilis kumpulan puisi biografisnya, Perjalanan 63 Cinta dan Luka Cinta Jakarta. 

Dalam rangka peradaban kasih, lelaki itu selalu menyambut gembira bahkan bahagia setiap ajakan untuk mewartakan cinta yang merupakan bagian dari peradaban kasih. Bersama Sang Penyair, lelaki itu pun berseru lantang, “Biarkan benci terkubur di tempat dulu ia ditabur. Biarkan Cinta bertakhta di mahkota bunga….” (Jakarta #18).

Bagi lelaki itu, kerja sama dengan Novelis Arjuna Mencari Cinta adalah pesona peradaban kasih. Istimewa bahwa mata elang Sang Penyair menembus kegelapan hidup bersama oleh kebencian dan tetap optimis dalam pengharapan cinta.

“Mari kita kembali kepada sunyi, Kepada malam yang menidurkan siang, Kepada pagi yang membisikkan salam, Kepada daun yang menyanyikan embun… Biarkan ayat-ayat menyanyikan Cinta, Jangan tutup mata hatimu dengan amarah, Nyalakan doamu dengan Cahaya-Nya…. Setiap peristiwa adalah doa, Setiap detik adalah ayat suci, Ujian dan teguran, Agar kita selalu belajar dan bersyukur…” Begitulah penggalan puisi Jakarta #27 itu berbisik di kedalaman jiwa lelaki itu sesaat sesudah membaca pesan Sang Penyair dan lalu menerima si batal tanpa rasa sesal.

Bahkan, kalimat puisi itu juga yang seminggu sesudah batal, tetap bergema terbaca di jiwa lelaki itu yang kali ini tak hanya batal melainkan gagal oleh sebab sebutir batu ginjal yang membuat tubuh lelaki itu terkulai. Ya, lelaki itu kali ini gagal sekali dalam dua hal.

Pertama, tiba-tiba pagi itu, kolik yang menyerangnya empat hari sebelumnya datang lagi membuat lelaki itu terkulai tak berdaya. Semua terjadi di dini hari. Tiba-tiba perut sebelah kiri dan kanan lelaki itu kejang dan nyeri pun menyerang. Nafasnya tersengal. Perutnya menjadi mual. Kakinya tak lagi mampu menahan tubuhnya yang lalu roboh di kamar mandi.

Pada serangan pertama pagi itu, lelaki itu masih bisa bertahan sesudah rintihan demi rintihan di antara sengal-sengal nafasnya. Ia masih tetap beraktivitas seperti biasa mengemban amanat tugasnya kendati tubuhnya lemas terkulai akibat serangan fajar itu. Namun pada serangan kedua, lelaki itu tak hendak berandai-andai.

“Ndan, saya butuh sopir untuk bisa mengantarku ke rumah sakit sebab pagi ini, sesudah serangan yang sama empat hari lalu, ia datang lagi dan lebih hebat lagi! Minta tolong ya.” Kata lelaki itu kepada Sang Komandan Security Kampus Ungu.

Apa yang anda pikirkan ketika dalam empat hari sesudah yang pertama, tiba-tiba terjadi seperti kram di perut anda? Bagian sebelah kiri seperti tertarik ke dalam dan bagian kanan menonjol ke luar disertai rasa nyeri yang hebat dan nafas tersengal serta sesudahnya ditambah mual-mual? Sekali terjadi tidak soal. Dua kali terulang dalam empat hari, tak bisa diambaikan begitu saja.

Singkat kata, lelaki itu dibawa ke rumah sakit. Sesudah antrian panjang dan menunggu pemeriksaan di UGD, ia langsung ditangani seorang ahli. Ia menjalani pemeriksaan pada bagian ginjal, sesudah segala yang dirasakannya dicurahkan kepada Sang Dokter Jaga.

“Hasilnya: Berdasarkan pemeriksaan radiologi CT IVU, tampak batu 3 mm pada UVJ kanan dan 2,5 mm pada UVJ kiri. Kesan, tiny nefroklithiasis dekstra 3 mm, Mild pelviwectasis sinistra ec obstruksi partial oleh batu ukuran 2,5 mm pada UVJ, suspek batu pada UVJ dekstra 3 mm.” Kata petugas.

“Apa arti semua itu?” Tanya lelaki itu tetap mencoba tersenyum meski jarum infus sudah menancap di tangan kanannya.

“Sederhananya, Romo, terdeteksi ada batu ginjal 3 mm di kanan dan 2 5 mm di kiri. Maka, Romo harus istirahat dan menjalani pemeriksaan lebih lanjutnya….” jelas Seorang Suster Perawat dengan penuh kasih dan kesabaran. 

Jarum infus sudah tertancap di tangannya. Apa boleh buat, lelaki itu harus menjalani rawat inap di rumah sakit itu. Dan itulah yang dipandang sebagai kegagalan bagi dirinya. Kegagalan yang berlapis-lapis. 

Pertama, ia gagal peka pada tubuh dan jiwanya hingga batu itu sudah tumbuh sebesar itu di kiri dan kanan ginjalnya. Itu berarti lelaki itu kurang minum air putih. Titik. Ia gagal merawat dan menjaga tubuhnya. 

Kedua, seiring dengan itu, ia gagal untuk satu peristiwa yang hari itu harus dilaksanakannya. Sesuai rencana, lelaki itu seharusnya mengantar rombongan untuk menjalani survey perjalanan ziarah ke Sendang Klayu di Jlegong, Wonogiri dan Sendang Ratu Kenya di Danan, Giriwoyo. Bahkan sejenak harus pulang ke rumah menyapa ayahnya pun gagal.

Ketiga, ia pun gagal menyertai Gladi Rohani yang diselenggarakan oleh Reksa Pastoral Kampus Ungu. Padahal, segala sesuatunya sudah tertata rapi dan terarur, namun, semua gagal terganjal batu ginjal!

Lelaki itu belajar sabar menerima keadaan. Sikap sabar pun bagian dari peradaban kasih, bahkan iman! Bukankah kasih itu sabar? Sabar bukan hanya kepada sesama melainkan juga bagi diri sendiri. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 13/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3500439520040322?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.