Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (31)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Malam semakin riuh oleh suara kembang api beserta pijar cahaya yang kemerlap ketika lelaki itu kian asyik dalam kenangan kidung peradaban kasih yang selama ini dirindukan dan diburunya dengan bahagia penuh sukacita. 

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kini, Juli pun tiba penuh nada peradaban kasih dalam ikat pinggang pelayanan keimamatan. Dalam tradisi Gereja Katolik itulah yang disebut dengan Sakramen Imamat. Banya nyang dipanggil namun sedikit saja yang dipilih. Imamat bukan sekadar cita-cita melainkan anugerah panggilan dari Tuhan. Ada profesionalitas namun imamat bukan profesi. 

Ada persiapan dan pendidikan yang bahkan sangat panjang bila orang menempuh jalur panggilan imamat seperti yang dilakukan lelaki itu sesudah lulus Sekolah Menengah Pertama. Dari sejak masuk pertama sesudah pendidikan SLTP, dibutuhkan minimal dua belas tahun masa persiapan dan pendidikan hingga tiba saat pentahbisan! Empat tahun masa persiapan menengah setingkat SLTA namanya pendidikan Seminari Menengah. Lelaki itu menempuh pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan. Sesudah itu ditempuhlah masa Tahun Orientasi Rohani di Seminari Sanjaya Semarang dalam satu tahun. Ini normal. Lalu, pendidikan tinggi dijalaninya di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta selama tujuh tahun, juga normalnya. Kala itu masih menggunakan mekanisme akademik lama yakni tiga tahun pertama pendidikan Filsafat dan Pengantar Teologi serta Kitab Suci. Diselinggi satu tahun Orientasi Pastoral di Ungaran. Lantas lanjut lagi tiga tahun terakhir studi teologi dan Kitab Suci lebih intensif dengan segala perjuangan dan pergumulan hingga tiba saatnya upacara tahbisan dilakukan. Tahbisan tingkat pertama disebut Tahbisan Diakonat. Lantas tahbisan tingkat kedua disebut Tahbisan Imamat. Bagi pribadi terpilih tertentu masih ada tahbisan sempurna yakni Tahbisan Episkopat ketika seseorang terpilih menjadi Uskup oleh Paus di Roma setelah melalui mekanisme khusus serba konfidential rapi teratur hanya pihak-pihak terkait yang tahu.

Nah, yang terpenting dan terutama bagi lelaki itu adalah ketika ditahbiskan menjadi imam, 8 Juli 1996 bersama sembilan rekan lainnya, 9 projo termasuk dirinya dan 1 MSF untuk Kalimantan. Sang Pentahbis adalah Bapa Julius Kardinal Darmoatmaja SJ. Hari itulah yang muncul dalam kenangan kidung kaledoskopik peradaban kasih karena unik dan menarik bagi dirinya.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hari syukur atas pentahbisannya sebagai imam di kemudian hari menjadi peristiwa yang melibatkan para seniman dan budayawan. Pertama kali itu terjadi di Ungaran tempat dia dulu pernah menjalani Tahun Orientasi Pastoral. Sejak itu, lelaki itu memiliki relasi dab pengenalan mendalam dengan rekan-rekan seniman dan budayawan. Waktu mengalir laksana berkat tiada henti dalam sungai peradaban kasih. Perayaan syukur ulang tahun imamat pun ditandai dengan berbagai peristiwa budaya interreligius yang melibatkan banyak pihak.

Laksana gayung bersambut, peradaban kasih melalui jalur seni dan budaya terjadi. Lelaki itu mendapat berkat bergaul akrab dan mesra bersama para seniman dan budayawan yang sama-sama merindukan dan memburu hadirnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

“Tuhan, tak pernah kubayangkan bahwa semua ini terjadi dan mengalir begitu saja!” Terselib kalimat syukur dalam desis doa lelaki itu diiringi pendaran warna-warni cahaya kembang api.

Begitulah syukur atas ulang tahun imamat ke-21 di Ungaran dan ke-22 di JoharT Wurlirang sangat kental dengan warna seni dan budaya lintas agama. Seiring dengan HUT Imamat ke-22 dirayakan dan disyukuri pula HUT Pelita yang ke-2. Lahirnya Pelita dua tahun silam pun erat terkait dengan pengalaman pelayanan imamatnya yang sempat harus melewati saat-saat kelam dalam rangka peradaban kasih. Lelaki itulah yang bahkan memberi dan mengusulkan nama Pelita kepada para sahabat aktivis peradaban kasih lintas agama. 

“Kalau boleh, saya usulkan, namanya Pelita. Esensinya bagus yakni cahaya yang selalu menerangi kegelapan. Kepanjangan Pelita pun indah dan dewasa yakni Persaudaraan Lintas Agama!” Kata lelaki itu dua tahun silam dan dikenangkan lagi pada saat HUT Pelita yang kedua. Dan sahabat barunya yang namanya mengandung unsur sama dengan namanya pun setuju. 

“Sip markusip. Joz gandos!” Kata Damar yang namanya “Damar” juga berarti cahaya itu kepada Setyawan Budy yang hingga kini menjadi koordinator Pelita. Gayung bersambut. Gerakan berlanjut. Tekad kuat dan terus merajut persaudaraan bersama di tingkat dan bersama kalangan akar rumput.

Itulah yang menjadi bait-bait kidung peradaban kasih bagi lelaki itu dan dikenang dengan penuh syukur di peralihan 2018 ke 2019 dengan tetap dalam pengharapan mewujudkan peradaban kasih melalui kesejahteraan bersama di tengah masyarakat multikultural. 

“Tak ada yang lebih indah selain Dikau yang menganugerahkan kasut pelayanan dalam Sakramen Imamat ini yang bahkan ditandai relasi peradaban kasih bersama Pelita, Tuhan! Semoga tetap menyala dan selalu bercahaya laksana warna-warni pijar kembang api itu….” kata lelaki itu dalam doa mengakhiri sesi pertama refleksinya di Bulan Juli! (bersambung)

JoharT Wurlirang, 25/1/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3647556260766463?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.