Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (32)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah sesi kedua kidung peradaban kasih dalam bait kedua Juli lelaki pemburu peradaban kasih itu. Sesi itu terdiri dari berbagai nada peradaban kasih yang tersusun menjadi kidung untuk siapa saja. 

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nada pertama mendendangkan tentang temu kebatinan Katolik, atau sering disebut Tebat Katolik. Ketika sebelas tahun lalu, tepatnya di Awal Mei 2008, lelaki itu mulai melayani Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Tebat nyaris menjadi julukan bagi komisi ini. Memang Tebat menjadi satu bahkan bisa jadi satu-satunya gerakan konsisten yang dilaksanakan dalam Kom HAK KAS sehingga di telinga lelaki itu sering terdengar ledekan peyoratif Komisi HAK KAS sebagai Komisi Tebat.

Tebat memang dikelola secara hebat sehingga bisa mengumpulkan massa secara rutin. Semula hanya setahun sekali. Lalu pada periode lelaki itu menjadi dua kali setahun. Bahkan di Kevikepan dan di Rayon. Dahsyat! Gerakannya selalu melibatkan massa yang cukup signifikan. 

“Mari kita tingkatkan Tebat sebagai bagian dari upaya menghayati sentire cum ecclesia. Tebat itu bagian daro Kom HAK KAS maka bagian pula dari Gereja. Kita jadikan Tebat sebagai kesempatan merasa bersama dan mengasihi Gereja!” Jelas lelaki itu suatu saat dalam sebuah rapat.

“Maksudnya apa” tanya Lukawi yang sejak awal setia membantu pelayanan di Kom HAK KAS seiring pelayanan jurnalistiknya di Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan.

“Maksudnya jelas. Tebat bukan hal yang eksklusif meski pesertanya selalu khusus dan unik, mulai dari pamendem, pandhemen dan paremen. Maka, Tebat mesti mengikuti arus keprihatinan Gereja KAS bukan sebaliknya.” Jawab lelaki itu.

“Lalu?” Tanya Lukawi.

“Bukan lalu tetapi maka, Tebat bisa dilaksanakan dalam konteks fokus pastoral KAS yang setiap tahun selalu baru dalam rangka Arah Dasar KAS yang berlaku lima tahunan!”

“Konkretnya?”

“Konkretnya, fokus pastoral tahunan harus menjadi bagian dan bingkai dari Tebat. Tebat menjadi ruang untuk berkatekese sesuai dengan fokus pastoral. Dengan itu kita belajar menghayati hidup beriman yang cerdas, tangguh dan misioner! Menjadia kian inklusif dan terbuka dalam masyarakat multikultural!”

“Wow, keren! Cie-cie… asyik tuh!”

“Karena itu, olah batin harus ditempatkan dalam konteks fokus pastoral tersebut! Tebat itu bukan soal klenik, bunga kantil, mawar dan melati. Juga bukan soal dupa dan kemenyan. Melainkan menjadi ruang bagi keharuman katekese yang kian mendewasakan iman dan berbuah dalam pelayanan!”

Lelaki itu diam sejenak. Lalu, dengan suara datar namun penuh wibawa, ia berkata, “Kalau orang ikut Tebat masih merasa diri paling sakti, paling benar, paling pintar dan segala paling yang meremehkan liyan, ia tidak menghayati Tebat dengan tepat. Tidak ada ruang mencari kesaktian dalam Tebat. Jangan adigang adigung adiguna rumangsa bisa! Justru jangan rumangsa bisa melainkan harus bisa rumangsa! Itu baru benar.”

Lukawi manggut-manggut. Mantul masuk… dan lelaki itu berkata, “Beri ruang-ruang yang inklusif. Bangun jembatan yang menghubungkan, bukan tembok pemisah yang kaku beku dan eksklusif. Nara sumber pencerah pun bisa dihadirkan dari yang berbeda agama yang berspirit Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.”

Begitulah nada Tebat berkumandang dalam sepuluh tahun terakhir dalam keberagaman bahkan terbuka untuk siapa saja, termasuk yang dilaksanakan pada bulan Juli 2018. Para nara sumber dari Tangro Wonosobo yang lintas agama itu telah mendobrak pola pikir kaku dan beku yang ternyata berbuah nyata dalam rangka peradaban kasih. Masihkah meragukannya? 

Nada kian menggema, meski tentu tak semua orang suka dengan lengkingannya, terutama yang selalu berkata, “Dulu… begini… begitu… yang sekarang ini bagaimana sih? Tebat seakan kehilangan makna karena terlalu banyak katekese yang jauh dari kebutuhan kita untuk bisa menjadi sakti mandraguna!”

“Hei!” Kata lelaki itu, “Tebat tak ada hubungannya dengan kesaktian fisik. Kesaktiannya justru saat siapa saja kian mengakar pada Dia Sang Sumber kehidupan kita. Keheningan batin bukan untuk mencari kesaktian diri egois melainkan demi kian mewujudkan kesejahteraan bersama di tengah masyarakat multikultural! Di situlah Anda dipanggil dan diutus untuk menjadi penyembuh yang sesungguhnya, bukan demi popularitas diri apalagi demi mencari keuntungan diri! Kalau seperti itu yang kau pikirkan, lebih baik batu kilangan diikatkan pada lehermu dan terbuanglah kau ke dalam lautan egoismemu sendiri!” (bersambung)

Museum OHD Magelang, 26/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4027816353936688?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.