Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Pwradaban Kasih (26)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Lelaki perindu peradaban kasih itu memburunya hingga segala ujung peristiwa, apa saja dalam rangka peradaban kasih. Peradaban kasih itu di matanya terbaca dalam sosok seorang Perempuan Jelita, namanya Maria!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sejak masa kanak-kanaknya, Maria sudah menjadi ibu keduanya sesudah perempuan tercinta yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Kepada Perempuan Jelita itu, seturut ajaran Gereja Katolik, ia selalu berseru dalam cinta dan hormat.

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara semua wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Putra Allah, doakanlah kami orang yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin!”

Seruan itu tak hanya sebagai sapaan melainkan sekuntum mawar doa. Meski ada duri namun beraromakan keharuman semerbak surga! Oh Perempuan Jelita, Bunda dan Ratu Peradaban Kasih!

Lelaki itu gundah gulana saat di malam gulita tiba-tiba mendengar suara Perempuan Jelita itu seolah bicara padanya. Bersama malam yang tiba di keheningan Sakura Jawa yang selalu memerah pengganti hijau daunnya di kemarau panjang, suara itu jelas jernih di lubuk hatinya.

“Anakku, di padepokanmu yang baru seluas dan semegah ini, di manakah sesudut tempat bagiku untukmu?”

Maka dibuatlah satu tempat doa khusus bagi Perempuan Jelita berhadapan dengan Pohon Wali Kukun di samping belukar tempat monyet-monyet suka bercengkerama. Di situlah sebuah tempat sederhana dibangun dan karya seni patung peradaban kasih ditahtakanlah: Maria Ratu Perdamaian. Sosok perempuan suci menggendong Sang Putera Mesra. Mereka memberkati siapa saja perindu perdamaian salah satu wujud peradaban kasih.

Patung itu dikerjakan Soetikno MA dan tempatnya dipersiapkan Alfons-Yohana bersama tiga malaikat kami: Rafael, Gabriel dan Mikael. Akhir Mei 2018 menjadi goresan historia domus padepokannya saat tempat doa itu disucikan dalam Ekaristi bersama para sahabat rekan sejawat dan sesahwat selibat. 

“Malam ini menjadi malam penuh berkah bagi semua perindu peradaban kasih berlimpah! Di Pastoran Unika Soegijapranata, Ratu Perdamaian bagi semua. Ave Ave Ave Maria!” Kata lelaki itu berapi-api. Nyalanya membakar malam menebarkan cahaya pengharapan bahwa siapa saja akan duduk hening atau berdiri tenang sambil memandang Wajah Suci Perempuan Jelita itu.

Lalu prosesi sederhana dilaksanakan sambil semua membawa lilin menyala berarak bergerak melangkah maju menggapai peradaban kasih melalui Kidung Ave Maria. Diulang-ulang saja senandung, “Di Pastoran Unika Soegijapranata, Ratu Perdamaian bagi semua. Ave Ave Ave Maria!” 

Senandung itu menjadi mantra dan doa dalam hati penuh sukacita, siapa bisa? Siapa bisa? Mari bersenandung penuh bahagia di hadapan dan bersama Sang Perempuan Jelita demi damai sejahtera, demi damai sejahtera.

Dan malam itu, kenangan indah istimewa itu mengalir laksana sungai dengan air jernih yang tak pernah habis. Peradaban kasih dalam bingkai Maria, Perempuan Jelita Ratu Perdamaian bagi siapa saja dan di mana saja. Bagaimana akan menggapainya? Siapa? Saya dan Anda! (bersambung)

Magelang-Semarang, 21/1/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1570654354971246?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.