Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inilah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (19)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam keadaan sakit, lelaki pemburu peradaban kasih itu merasa amat terhibur oleh kehadiran Angela. Si Mungil berambut gibas dari kaki Gunung Ungaran itu memberikan penghiburan tersendiri.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Romo sakit apa sih?” Tanya anak kelas dua SD itu. 

Lelaki itu agak bingung juga harus memberi jawaban apa kepadanya. Maka, lelaki itu hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Tentunya, tak perlu juga pertanyaan si kecil itu dijawab. Alih-alih menjawab pertanyaannya, lelaki itu justru balik bertanya.

“Ada dongeng horor apa dik?” Angel memang suka dongeng horor. Neneknya hobi banget mendongeng tentang peri, kuntilanak, tuyul, dan tentu saja… gendruwo! Hahaha, gendruwo yang katanya berbadan tinggi besar, gagah, tapi kropos sebab gendruwo tak punya hati. Kata neneknya Angel.

“Saya mau ndongeng buat Romo. Tapi bukan dongeng horor!” Jawab Angel terpancing pertanyaan lelaki itu. Kedua orangtua Angel tersipu mendengar anaknya terpancing lelaki itu dalam hal dongeng-mendongeng. Si Ndut kakaknya menggoda, “Emangnya bisa dongeng apa?” 

“Mau nggak?” Angel tetap kokoh dalam pendiriannya.

“Terus mendongeng apa donk?” Tanya lelaki itu sambil membetulkan sarungnya.

“Saya mau mendongeng tentang Surabaya….!” Seru Angel. Tanpa bisa diinterupsi, Angel pun langsung mendongeng tentang Surabaya. 

“Alkisah dahulu kala…,” Angel memulai dongengnya, tapi kali ini tiba-tiba mulai malu-malu kucing. Bahkan Si Rambut Gibas itu mendongeng bukan sambil menatap lelaki itu, melainkan menghadap ke tembok hahaha, “… adalah sebuah lautan. Di lautan itu, hiduplah dua ekor hewan. Yang satu bernama Sura dan satunya lagi bernama Baya…”

Masih sambil tersipu malu-malu, Angel melanjutkan, “…. sayangnya, dua hewan itu sama-sama angkuh. Bahkan, keduanya sama-sama kuat, dan tidak mau kalah. Tapi, mereka juga cerdik!” 

“Wah, hebat dong…” sela lelaki itu.

“Tunggu dulu…, jangan disela!” Protes Angel sambil membalikkan badannya. Matanya tajam. Namun bibirnya tersenyum. Kedua pipinya memerah. 

“Nah, Sura dan Baya itu sering bertarung berebut makanan. Karena mereka sama-sama kuat, angkuh dan cerdik, maka, perkelahian berlangsung laaaamaaa banget….” Angel melanjutkan.

“Berapa lama dik?” Sela lelaki itu. “Pokoknya lama banget!” Sahut Angel. “Makanya, mereka lalu buat kesepakatan…”

“Kesepakatan apa dik?” Sela lelaki itu lagi.

“Hmmm…” Angel bergaya berpikir, lalu bilang, “keduanya sepakat untuk hidup berdamai. Mereka pun janji saling menghormati.”

“Wah bagus ya dik?” Tanya lelaki itu.

“Tapi ada yang tidak bagus loh…” sahut Angel.

“Yang nggak bagus apa dik?” Tanya lelaki itu lagi.

“Yang tidak bagus adalah, ternyata, Ikan Sura ingkar janji. Sura secara sembunyi-sembunyi mencari mangsa di tempat Baya.” Jelas Angel.

“Oh, gitu ya!” Sela lelaki itu.

“Makanya, mereka berkelahi lagi. Sampai akhirnya, semua terluka. Semua tersakiti. Tak ada yang untung. Semua rugi. Jadi….” tampaknya Angel sudah mau mengakhiri dongengnya. Nah benar, ternya gadis mungil Berambut gibas itu pun berkata, “Jangan suka menyakiti. Jangan gunakan kekerasan. Kalau ada masalah bicarakanlah dengan ramah!”

“Kamu kok pinter sih?” Tanya lelaki itu. “Yang ngajarin siapa?” 

“Baca buku!” 

“Hebat! Tapi ada yang belum disebut loh…”

“Apa?”

“Katanya, sura itu sama dengan jaya. Baya sama dengan selamat dari bahaya.” Jelas lelaki itu. Angel tidak menolak. Ia hanya menatap lelaki itu sambil berkacak pinggang. 

“Nah kalau kamu berkacak pinggang, itu tanda bahwa kamu berani menghadapi bahaya dengan selamat hahaha!” Goda ayah bocah itu. 

“Sttt di depan romo ndak boleh kacak pinggang begitu! Apalagi romonya sedang sakit hehehe!” Tambah ibu bocah itu yang dari awal Angel mendongeng cuma memandang anaknya sambil menyimpan tawa gelinya.

Ah, entah dari mana Angel bisa mendongeng seperti itu. Bocah itu memang cerdas! Terberkatilah engkau nak! Doa lelaki itu dalam hatinya. (bersambung)

Pusat Pastoran Sanjaya Muntilan, 15/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber:

1. Refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

2. https: //www.google.com/amp/s/dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jawa-timur-asal-usul-kota-surabaya/amp/

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3786282893520254?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.