Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inilah Kisah Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (20)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Lelaki pemburu peradaban kasih itu mendapatkan momen indah untuk peradaban kasih saat ia memberikan talk show kebangsaan di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) di Getasan, Salatiga. Momen itu bahkan menjadi langka justru karena satu hal ini.

Referensi pihak ketiga

Siang sebelum berangkat menuju lokasi, lelaki itu berkomunikasi dengan guru dan sahabatnya, KH Muhammad Adnan. Komunikasi terjadi melalui WA.

“Selamat siang Pak Kiai yang terkasih. Nanti sore jadi berangkat ke STAB jam berapa? Apakah saya boleh nunut?”

Sebelumnya, sekitar seminggu sebelumnya, lelaki itu berjumpa dengan Pak Kiai Haji di Kantor PWNU Jateng. Kala itu, Pak Kiai Haji memang sudah menawarkan untuk menjemput lelaki tersebut dalam rangka talk show kebangsaan di STAB tersebut. Kebetulan keduanya diminta menjadi nara sumber.

Atas nama sungkan, kala itu, lelaki tersebut menolak. Masak Pak Kiai Haji harus menjemput Romo Pastor Katolik? Lelaki itu merasa tidak sepantasnya dijemput. Seharunya justru sebaliknya, lebih sopan bila Romo Pastor yang menjemput Pak Kiai Haji.

Akan tetapi, atas nama peradaban kasih, akhirnya lelaki itu mengubur rasa sungkan itu. Itulah sebabnya, melalui WA ia bertanya kepada Pak Kiai Haji apakah boleh nunut. Barangkali tawaran yang pernah disampaikan Pak Kiai Haji kepada lelaki itu masih berlaku dan belum kadaluwarsa alias expired haha kayak makanan saja. 

“Wah, boleh banget. Sesuai yang pernah saya tawarkan itu ta romo! Tawaran masih berlaku!” Sahut Pak Kiai Haji yang pernah melayani sebagai Ketua PWNU Jateng itu.

“Nanti sore saya jemput sebab arah ke STAB dari rumah saya ke rumah romo terhitung melewati rumah romo. Maka selayaknya saya yang menjemput romo ya. Kecuali kalau arahnya sebaliknya, romolah yang harus menjemput saya!” Jawab Pak Kiai Haji.

Membaca jawaban itu, lelaki itu merasa amat bahagia. Itulah salah satu bentuk komunikasi peradaban kasih. Akrab, tanpa basa-basi. Padahal disposisi Pak Kiai Haji Adnan saat itu adalah sebagai Wakil Syuriah PWNU Jawa Tengah. Pelayanan itu membuat beliau tidak merasa berjarak dengan lelaki itu. Justru, yang terjadi sebaliknya, akrab da bersahabat. Inilah secuil peradaban kasih nyata. Tak usah muluk-muluk! 

Maka, sore itu, terjadilah momen indah peradaban kasih. Seoramg Kiai Haji Islam menjemput seorang Romo Pastor Katolik untuk bersma-sama meluncur ke Getasan dalam rangka perayaan Waisak Buddha melalui talk show kebangsaan. Unik bukan? Maka, jadilah kebersamaan intereligius Islam, Katolik dan Buddha.

Ternyata, nyaman juga naik kendaraan yang dipergunakan oleh Pak Kiai Haji. Perjalanan menuju Getasan pun terasa sangat nyaman. Itulah salah satu sisi peradaban kasih.

Sepanjang perjalanan pergi-pulang Semarang-Getasan-Semarang, Pak Kiai Haji dan Romo Pastor yang duduk di tengah asyik mengobrol tentang peradaban kasih bagi negeri ini. 

“Bagi kami, NU, empat pilar kebangsaan itu tak bisa ditawar apalagi diganti. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 itu sudah final!” Kata Pak Kiai Haji terkait empat pilar penyangga bangsa ini.

“Hal yang sama dengan Gereja Katolik!” Sahut lelaki itu.

Wah, pembicaraan jadi serius amat. Padahal, perjalanan itu cukup panjang dan lama. Sopir yang mengendari mobil itu masih muda dan selalu ceria meski puasa. Sepanjang jalan ia memutar dan mendengarkan lagu-lagu Islami berbahasa Arab. Lelaki itu turut menikmati indahnya alunan musik itu. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 17/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌« 

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1616398022559026?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.