Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (15)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah puncak keharuan lelaki peradaban kasih itu saat pameran lukisan dan pentas seni Perdamaian Palestina Kerukunan Kita itu ditutup pada hari Minggu (25/3/2018). Penutupannya sederhana namun penuh makna. Penegasan bahwa awal Prasrawung Orang Muda Lintas Agama KAS justru ditandai oleh aksi anak-anak yang menggoreskan lukisan mereka di atas kertas. Beginilah kisahnya dalam narasi ini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam rangka penutupan Pameran Lukisan Perdamaian Palestina Kerukunan Kita, Panitia menghadirkan sesi khusus buat anak-anak. Panitia mengundang dan mengajak anak-anak untuk melakukan kolase, yakni mewarnai gambar dan atau menggambar dengan tema perdamaian dan kerukunan. Ternyata hasilnya sungguh luar biasa! Para pelukis senior yang mendampingi mereka dibuat tercengang dan berdecak kagum.

“Mereka ini aset masa depan!” Tegas Soetikno MA.

Lelaki itu pun menyahut dengan mata menyala, “Perhatikanlah beberapa gambar-gambar yang sempat saya potret ini. Anak-anak yang masih duduk di bangku TK dan SD itu sangat menginspirasi untuk perjuangan mewujudkan perdamaian dan kerukunan di masa depan. Mereka akan menjadi pelaku peradaban kasih di masa depan melalui karya seni lukis ini! Istimewa!”

Selanjutnya, lelaki itu berkata, “Saya sungguh belajar dari mereka semua. Tanpa banyak kata, melalui ekspresi seni dan gambar yang mereka buat, warta perdamaian dan kerukunan digemakan dari hati yang tulus, ikhlas dan tak teracuni oleh kebencian dan dendam…”

Dengan bibir bergetar penuh keharuan, lelaki itu pun masih terbata berkata, “Anak-anak ini sungguh menginspirasi saya dalam menyerukan dan terus memperjuangkan perdamaian dan kerukunan di tengah masyarakat sebagai wujud peradaban kasih. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga terinspirasi untuk melakukan hal yang sama? Semogalah demikian!”

Diiringi musik yang mengalun lembut Indonesia Pusaka, lelaki itu pun berkata, “Sampai jumpa di lain kesempatan, saat kita menggunakan media lukisan sebagai bentuk dan wujud ekspresi peradaban kasih. Tampaknya, seperti yang sudah dijadikan rasan-rasan rekan-rekan seniman, kita akan berjumpa lagi nanti pada saat kita selenggarakan Panorama Mural Pancasila 1 Juni mendatang! Kalau begitu, sampai jumpa pada momentum Panorama Mural Pancasila yang akan datang! Salam sejahtera buat kita semua. Salam peradaban kasih!”

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dan kilat pun bergerak di langit lalu guntur menggelegar dan hujan pun turun seketika. Hujan yang selama lima hari berlalu tidak turun selama pameran berlangsung, kini mengguyur membasahi Tinjomoyo dan sekitarnya, membuat Kaligarang di bawah sana gemerosak dengan arus air sungai yang deras. Oh kalau seperti itu, ini pertanda bahwa di daerah atas sana yakni Ungaran dan sekitarnya sudah lebih dahulu hujan.

Ah, anak-anak ternyata tak takut hujan. Justru mereka tampak sumringah bermain air yang mengucur dari tenda-tenda yang terpasang dan tak mau berteduh di halaman pastoran yang telah diteduhi plafon-plafon pembebas dari air hujan.

Sementara yang lain asyik bermain air, beberapa lainnya berfoto-foto bersama memamerkan lukisan karya mereka seraya memajangkan wajah sukacita telah berhasil menjadi pembawa warta peradaban kasih melalui karya lukisan mereka. Yang tergambar hanyalah keindahan demi keindahan, siapa yang tega merusak jiwa mereka dengan dendam dan kebencian bila mereka sudah mampu melukiskan peradaban kasih melalui perdamaian dan kerukunan? Ah, teganya Anda yang bengis merusak jiwak anak-anak bangsa ini dengan rayuan dendam dan benci tanpa henti!

Dan, malam itu, lelaki itu mengenang semuanya dengan haru dan syukur. Mengenang semua itu, lelaki itu pun bertanya dalam refleksi yang mestinya menjadi refleksi siapa saja pula. 

Beginilah lelaki itu bertanya diri: Di negeri Garuda Pancasila ini, benarkah kasih kepada sesama dan semesta sebagai sebuah peradaban telah sirna di telan zaman? Janganlah semua kasih dan peradaban sekadar menjadi pemanis bibir belaka di saat hati dan jiwa kita bertekad memburu peradaban kasih sebagai mutiara dan harta karun berharga! Tidakkah kau rela mengorbankan segalanya demi menggapainya? Semoga tahun baru 2019 menjadi secercah cahaya peradaban kasih di hati dan jiwa siapa saja pecinta Negeri bukan Lautan tapi Kolam Susu peradaban cinta! 

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kenangan Maret berakhir dari kemeriahan bersama banyak umat dan masyarakat melalui pameran lukisan Perdamaian Palestina Kerukunan Kita namun lalu sesudah itu, semua kembali sendiri bahkan sangat sendiri sebab bagi lelaki itu, itulah untuk pertama kali dalam seumur hidupnya menghayati Pekan Suci sendiri. Dari sejak Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Paskah semua terjadi tanpa gempita umat beriman. Lelaki itu menyambut dan menghayati Pekan Suci di ruang doa pribadi seluas 4 x 4 meter di Tinjomoyo. Dari situlah ia bersiap menuju April penuh peradaban kasih yang kian terbentang dan cahayanya yang kian benderang…. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 11/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̌»̶·̵̭̌·̵̭̌

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3856489936055005?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.