Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (22)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Hal terindah yang dialami lelaki pemburu peradaban kasih di Mei 2018 dan saat dikenang dalam refleksinya menjadi dahsyat dan amat mengharukan adalah prristiwa ini. 

Referensi pihak ketiga

Lelaki pemburu peradaban kasih itu tiba-tiba dipagut rasa haru tiada tara saat menghadirkannya. Betapa tidak. Ada kenangan indah, namun juga pernah ternoda oleh rasa gundah dan susah tentang yang satu ini.

Sejak masih bertugas di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas, yang semua gang dan jalannya berunsur emas – maka ada Pasir Mas, Kuala Mas, Muara Mas, Betin Mas dan seterusnya kecuali Lumpur Mas hehe – ya, sejak di Tanah Mas, lelaki itu mendapat mandat yang disyukurinya. Apakah mandat itu?

“Romo, kami dari panitia Sahur Keliling Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, bila romo berkenan, akan memilih romo menjadi salah satu tuan rumah menyelenggara kegiatan tersebut!” Itulah yang disampaikan oleh salah seorang utusan yang kala itu menghubungi lelaki itu. Begitulah, maka, kala itu, mulailah lelaki itu menjadi salah satu dari tuan rumah penyelenggara Sahur Keliling Ibu Hj Sinta Nuriyah AbdurrahmaN Wahid.

Tentu, hal ini bukan suatu kebetulan tiba-tiba. Empat puluh sembilan hari sesudah KH Abdurrahman Wahid wafat, lelaki itu bersama dengan para tokoh lintas agama di Kota Semarang menyelenggarakan doa bersama bagi mendiang Gus Dur. Bahkan, lelaki itu mendapat mandat membacakan Deklarasi Tekad Melanjutkan Spirit Gus Dur melalui Gusdurian Center di Semarang. Pembacaan deklarasi dan doa bersama dilaksanakan di Taman Budaya Raden Saleh Semarang kala itu, 17/2/2010 kala itu. Hadir dalam kesempatan itu Gus Umar, saudara mendiang Gus Dur dan Mbak Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sejak saat itulah, entah bagaimana, spirit Gus Dur melalui keluarga Ciganjur juga mengalir dalam diri lelaki itu. Pertama, melalui program Sahur Keliling Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Kedua, melalui momen haul Gus Dur di Ciganjur. Dalam dua peristiwa itulah, lelaki itu mengalami fakta peradaban kasih yang berlimpah.

Dari Tanah Mas, lalu ke Kebon Dalem yang sering disebut lelaki itu Girli, sebab ia tinggal di kawasan pinggir kali Semarang; kemudian menuju Girlan di Ungaran. Disebut Girlan bukan Girli sebab dari Girli Kebon Dalem, lelaki itu berpindah ke Pinggir Jalan maka Girlan di Ungaran.

Saat di Tanah Mas dan di Kebon Dalem, proses peradaban kasih Sahur Keliling berjalan baik-baik saja tanpa aral melintang. Lancar, guyub, bersaudara dan damai sejahtera. Aman! 

Berbeda dengan saat di Girlan Ungaran. Tiba-tiba, ketika segala sesuatunya sudah siap untuk pelaksanaan kali ini bukan Sahur melainkan Buka Bersama Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, datang seseorang yang baru mulai menjabat amanat di Kabupaten, namun berkongkalikong dengan kelompok tertentu yang tak sepaham dengan damai sejahtera dan kerukunan, orang itu melarang bahkan membatalkan rencana itu.

Padahal, baru saja, musyawarah dengan para pihak di tingkat akar rumput berjalan dengan baik yang juga diteguhkan oleh para tokoh lintas agama setempat. Namun tiba-tiba, oknum itu datang menemui lelaki itu di ruang tamu rumahnya.

“Tolong, acaranya dibatalkan!” Kata oknum tersebut.

“Bagaimana Anda tiba-tiba datang dan meminta rencana yang sudah siap berlangsung ini dibatalkan?” Tanya lelaki itu disaksikan Pardiman, sahabat lelaki itu. 

“Pokoknya, dibatalkan! Situasinya tidak aman! Ada kelompok yang tidak setuju!” Kata oknum itu.

“Loh, justru Anda yang seharusnya mengayomi dan membuat acara ini berlangsung aman! Bukankah Anda sudaj disumpah untuk mengayomi masyarakat?” Tanya lelaki itu.

Namun oknum itu tetap pada pendiriannya yang tidak bagus itu lalu ia pamit. Payah juga oknum itu yang hanya karena agamanya sama dengan lelaki itu lalu ia berkeberatan bahwa rencana Buka Bersama Ibu Sinta yang dipercayakan kepada lelaki itu. Ia takut karena ditekan pihak yang berbeda. Lalu jalan pintas saja: Batalkan, perintahnya!

Lelaki itu tak habis mengerti. Sementara masih bergumul dengan ketidakmengertiannya, lalu oknum itu cuci tangan dan kemudian lelaki itu diperhadapkan dengan sejumlah pihak yang menolak, dan ia sendirian! Kalau hanya penolakan, itu tak soal bagi lelaki itu, tetapi saat penolakan itu juga disertai dengan hinaan dan cacian bahkan ancaman, ini menjadi tidak sehat!

Dialog yang dibuat bukannya dialog melainkan menjadi monolog yang tidak sehat. Itulah yang dirasakan oleh nurani lelaki pemburu peradaban kasih itu. Maka, ia pun teringat akan nasihat wasiat yang dahsyat: Apabila segala sesuatu tergantung dari padamu, hendaklah kamu menjadi pembawa damai!

Referensi pihak ketiga

Lelaki itu merasa bahwa akan jauh lebih beradab dan penuh kasih apabila tidak memaksakan kehendaknya, sebaik dan semulia apa pun itu. Maka, atas dasar nasihat wasiat dashyat itu, ia pun taat. Lelaki itu lantas menyampaikan keadaan yang terjadi kepada pihak-pihak terkait di Ciganjur. Pihak Ciganjur pun mengikuti apa pun yang akan diputuskan lelaki itu.

Keputusannya: tempat untuk pelaksanaan Buka Bersama Ibu Sinta dipindah ke tempat lain. Namun ternyata, meski sudah dipindah ke tempat lain, tetap saja pihak-pihak yang berkeberatan itu memburu dan berhasrat untuk mengganggu dan membatalkan rencana peradaban kasih itu.

Kali ini, lelaki itu tidak serta merta mengikuti arus penolakan itu yang dilancarkan pada hari h pelaksanaannya. Lelaki itu tetap pada pendiriannya. Jalan terus sesuai dengan rencana semula yang sudah disepakati bersama para tokoh lintas agama setempat.

Acara jalan terus sambil memperhatikan nasihat wasiat dahsyat itu. Maka, jadilah, lelaki itu memutuskan bahwa rangkaian pelaksanaan Buka Bersama dibuat di dua tempat sekaligus. Pertama, acara diawali dengan pembukaan dan ceramah dari Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di halaman Gereja St. Yakobus Pudak Payung. Kedua, acara dilanjutkan dan ditutup dengan buka bersama di balai kelurahan yang secara darurat dipersiapkan untuk kepentingan itu. Meski agak repot harus mengangkut berbagai menu hidangan buka bersama dari halaman gereja menuju balai kelurahan, namun itu tak masalah. Di situlah secara dahsyat, lelaki itu dan bersama Ibu Hj Sinta Nuriyah telah menjadi pembawa damai sebab segala sesuatu tergantung dari padanya saat itu.

Rasa gundah dan marah pun diubah menjadi bungah dab ramah! Persis itulah peradaban kasih yang nyata yang berhasil diraih oleh lelaki itu dan kemudian direnungkan dengan penuh syukur. Peristiwa itu pun menjadi sejarah yang melahirkan keindahan di kemudian hari bernama Pelita, Persaudaraan Lintas Agama!

Referensi pihak ketiga

Sampai di sini, air mata haru membasahi pipo dan wajah lelaki itu bukan karena cengeng melainkan karena haru bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu mampu meluruskan jalan yang bengkok dan tetap menulis tegak di baris-baris yang penuh liku-liku. Maka ia pun berhenti sejenak sampai di sini, sebelum melanjutkan pada episode berikitnya…. (bersambung)

Rawaseneng, 18/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3060444821725138?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.