Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (24)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Lelaki pemburu peradaban kasih itu kian terharu saat mengenang suasana Sahur Bersama Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Padepokan JoharT Wurlirang itu. Para tamu hadir tanpa henti hingga halaman padepokannya tak cukup untuk menampung mereka. Ada yang duduk di jalan utama berpaving – tapi pavingnya tak berbentuk mirip salib loh walau bahkan paving jalan pastoran, yakni rumah tempat tinggal pastor, so jangan berprasangka buruk dan eksklusif ah! – dan ada pula yang di jalan samping atas.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Kok kayak stadion, ada bagian atas dan ada bagian bawah…” seloroh Ibu Negara IV RI itu penuh kasih dalam canda.

“Iya Ibu. Mohon maaf, tempatnya tidak layak dan memang itulah yang Ibu cari kan? Bukan sahur di hotel atau di gedung melainkan bersama putri-putra bangsa terutama rakyat biasa seperti kami bahkan kaum duafa di kolong jembatan, di tepi kali, dan di pasar!” Sahut lelaki itu.

Ibu yang penuh kasih dan belarasa itu tersenyum dalam rahmatan lil alamin. Gus Priyo dengan penuh kasih mendorong kursi roda, tempat Ibu Sinta duduk, seperti biasa dalam setiap acara.

Menyambut kehadiran beliau, semua berdiri sambil menyanyikan tembang Syiir Tanpa Waton, diiringi rebana dari UIN Walisongo. Sesudah itu, semua menyanyikan lagu Indonesia Raya lantas duduk kembali dengan tenang. Semua mata memandang pada satu arah dan pusat: Ibu Hj Sinta Nuriyah Wahid, pewarta peradaban kasih seorang Bunda bagi anak-anak bangsa tanpa diskriminasi.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Suasana sederhana dibangun melalui spirit duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Semua tamu baik para tokoh lintas agama maupun para akademisi serta semua hadirin yang terdiri dari kaum muda, mahasiswa, tukang sapu, para petugas cleaning service dan warga sekitar, semuanya duduk lesehan beralaskan tikar dan karpet.

Hanya Ibu Sinta yang duduk di kursi tapi bukan kursi kekuasaan melainkan kursi pelayanan dalam segala pengorbanannya. Coba bayangkan, meski harus duduk di kursi roda karena kondisi fisiknya, namun Istri Tercinta mendiang Gus Dur itu tetap setia melayani dan menyapa anak-anak bangsa seluas Nusantara setiap Ramadan tiba. 

Sudah dua dekade itu terjadi. Semua dilaksanakan dengan setia dan penuh dedikasi. Meski menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, namun beliau selalu mengutamakan peradaban kasih.

Dalam hal perburuan demi hadirnya peradaban kasih bangsa bangsa ini, nyambunglah dedikasi dan komitmen antara Ibu Negara IV RI tersebut dengan perjuangan lelaki pemburu peradaban kasih itu.

“Saya dan kita semua beryukur dan berterima kasih kepada Ibu Sinta atas teladan, kasih, perhatian dan komitmen kerja sama untuk peradaban kasih ini!” Jelas lelaki itu dalam pengantar sambutan yang disampaikannya di hadapan para hadirin.

“Mbak Nur memang luar biasa dan istimewa dalam menjaga komitmen dan dedikasi bagi anak-anak bangsa ini!” Ini kesaksian penulis novel, The President dan Kang Sejo Melihat Tuhan. Siapa lagi kalau bukan Kang Sobary yang penuh inspirasi dan selalu bersikap rendah hati.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Menyadari dan mengenang semua itu, tiada rasa lain yang bergetar dalam vibrasi jiwa lelaki itu selain getaran-getaran haru dan syukur. Getaran haru dan syukur itu menjadi nada penuh keindahan berpadu dengan kidung peradaban kasih yang terus berkumandang di malam peralihan 2018 ke 2019 di rangkaian refleksi kaledoskopik lelaki pemburu peradaban kasih itu. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 19/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4398943546663926?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.