Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (25)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tak tidur semalam-malaman, lelaki pemburu peradaban kasih itu, sesudah persiapan dan pelaksanaan Sahur Bersama Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Padepokan Pastoran JoharT Wurlirang, ia langsung meluncur menuju Sendang Klayu di Jlegong, Wonogiri. Itulah jadwal yang harus diikutinya dengan setia saat itu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Teman-teman yang terkasih. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus berangkat ke Wonogiri menyertai rombongan peziarah dari Kampus Ungu ya. Maaf loh!” Kata lelaki itu kepada rekan-rekan Pelita dan Gusdurian serta tim yang jadi panitia Sahur Bersama Ibu Sinta pagi itu.

Mereka sedang asyik bersih-bersih sesudah acara berlangsung. Namun lelaki itu sebagai tuan rumah harus pergi. Apa boleh buat. Untungnya, dalam rangka peradaban kasih, bagi semua rekan itu, padepokan pastoran tempat lelaki itu tinggal sudah seperti rumah mereka sendiri. Mereka sudah biasa berkumpul di situ. Mereka yang beragama Islam juga sholat di salah satu ruangan yang oleh lelaki itu biasa dipakai untuk doa dan ibadah pribadi.

Makanya, lelaki itu juga merasa aman dan nyaman saja membiarkan mereka berada di situ. Itulah sebait kidung peradaban kasih ketika orang tak lagi saling curiga dalam hidup bersama bahkan bisa saling krasan berada bersama kendati berbeda. Semua dilaksanakan dalam sikap saling hormat satu terhadap yang lain. Indah bukan?

Dalam keadaan seperti itulah, lelaki itu meluncur mengejar rombongan peziarah yang sudah berangkat lebih dahulu. Rombongan mengendarai dua bus besar. Lelaki itu mengejar dengan kendaraan kecil yang disopiri oleh Pandityadanar, sahabatnya sejak empat belas tahun berlalu. Dialah salah satu yang turut berperan dalam karya kerasulan jurnalistik, bait kidung peradaban kasih lainnya yang diburu, dibuat dan dijaga dengan setia oleh lelaki itu. Namanya karya kerasulan jurnalistik INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Salah satu karyanya adalah penerbitan Majalah setiap sebulan sekali sejak perdana terbit September 2004 lalu.

“Father, if you want to sleep, please, don’t worry, be happy!” Kata Pandityadanar seperti biasa. Always in English. Mengapa? Anda sudah mengetahuinya bukan? Dalam episode yang lalu sudah pernah dia hadir dalam kisah narasi ini.

“Of course! It’s why I want you to drive this car, Sir!” Sahut lelaki itu sambil merebahkan tubuhnya di atas jok mobil samping sopir serendah-rendahnya ibarat tempat tidur lengkap dengan bantal dan gulingnya hahaha.

“Have a nice sleep, Father!”

“Thanks a lot. Good night!”

“Why do you say good night in the morning?”

“Yes, because I want to sleep well!”

Pandityadanar terbahak menyadarinya. Lelaki itu lelap dalam tidurnya seketika. Tanpa beban. Sebagai pribadi yang merdeka oleh perburuan peradaban kasih.

Kendaraan melaju hingga tempat yang dituju kian dekat. Saat lelaki itu bangun, posisi sudah di kawasan Ngadirojo. Lelaki itu usul kepada Pandityadanar untuk berhenti. Tepat di kiri jalan ada warung tongseng kambing yang sedang buka meski di hari puasa. Mereka berdua menikmati sarapan di tempat itu dengan merdeka tanpa gangguan apa pun sebab di daerah itu, toleransi tetap terjaga sehingga warung-warung tetap buka di Bulan Puasa…. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 19/1/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/464492169433250?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.