Inspiration

Inilah Bagaimana Kelanjutan Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (26)

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Hidup itu laksana peziarahan memburu peradaban kasih. Ziarah itu bisa bermacam ragam bentuknya. Ada ziarah kubur. Ada ziarah tempat-tempat yang bersejarah. Ada pula ziarah ke tempat-tempat yang dikuduskan bagi Allah. Namun semua itu bertujuan satu yakni peradaban kasih.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah lelaki pemburu pemburu peradaban kasih itu memaknai ziarah, khususnya yang dilaksanakan bersama rombongan Kampus Ungu Unika Seogijapranata Semarang. Ziarah yang dilakukan bersama itu memilih subyek tempat ziarah yang didedikasikan kepada Bunda Maria. Nama tempat itu adalah Sendang Klayu Maria Fatima yang berada di Jlegong, Wonogiri.

Selain Sendang Klayu, rombongan juga berziarah ke Sendang Ratu Kenya di Danan, Giriwoyo. Baik Sendang Klayu maupun Sendang Ratu Kenya berada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Bagi lelaki itu, kedua tempat itu memiliki makna istimewa dalam rangka kidung peradaban kasih khususnya kidung pelayanan menuju imamat yang dihidupinya sejak 8 Juli 1996. Itu resmi pelayanan peradaban kasih melalui imamat. Namun perintisannya dan persiapannya sudah dimulai sejak 1984, ketika lelaki itu masih remaja, yakni sesudah lulus Sekolah Menengah Pertama. Kala itu lelaki itu menjadi salah satu dari siswa SMP Negeri 1 Baturetno.

Ia adalah orang pertama anak negeri yang merangkai kidung peradaban kasih imamat dari tempat asalnya. Masih bisa dikenang saat ia melamar masuk seminari menengah Mertoyudan, Pastor Paroki asal Belanda berkata kepadanya, “Apa tumon? Anak negeri masuk seminari?” Rasanya tidak masuk akal kala itu ketika semua remaja asalnya yang masuk seminari selalu lulusan sekolah Kanisius.

Namun, Allah mengukir peradaban kasih itu melalui lelaki itu. Dialah satu-satunya yang diterima di antara tiga pendaftar yang dua lainnya adalah dari Kanisius. Namun justru anak negeri itulah yang diterima, satu-satunya!

Sendang Klayu dan Sendang Ratu Kenya adalah tempat-tempat suci yang memiliki peran penting bagi lelaki itu dalam memupuk motivasi menuju peradaban kasih imamat. Kala itu, kedua tempat ziarah itu masih menjadi bagian dari Paroki St. Yusuf Baturetno. Namun kini, kedua tempat itu sudah berada dalam reksa pastoral paroki lain. Sendang Klayu masuk Paroki Wonogiri sementara Sendang Ratu Kenya berada dalam naungan Paroki Danan. Paroki Baturetno gigit jari! Mereka hanya memulai namun tidak memiliki. Meski ada rasa sedih, namun lelaki itu ikhlas saja menerima sejarah itu terjadi.

Itulah yang melintas dalam pikiran lelaki itu kala itu dan menjadi kenangan kaledoskopik peradaban kasih di penghujung 2018 menuju awal 2019. Apa boleh buat.

Tak ada yang perlu disesali. Justru sebaliknya, dalam kesedihan kenangan itu rasa syukur membuncah sebab dua tempat ziarah yang menjadi warna rohani peradaban kasih imamat dalam hidupnya sekarang ini berkembang menjadi tempat ziarah yang kian penuh berkah bagi banyak orang.

“Semua jalan peradaban kasih adalah jalan yang diukir oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kita hanya bisa menerimanya. Menerima dengan rasa syukur jauh lebih penting dari pada meratapinya!” Begitu bisikan suara hati bergema dalam jiwa lelaki itu.

Sayangnya, siang itu, sesudah istirahat sejenak dalam silaturahmi dengan keluarganya di desa, lelaki itu tak bisa menuntaskan penyertaannya pada rombongan. Ada masalah peradaban kasih yang harus diselesaikannya.

“Romo, ada sisa masalah di tengah suasana syukur dan bahagia Sahur Bersama Ibu Sinta? Minta tolong. Hanya romo yang bisa menyelesaikan hal ini segera!” Begitu pesan dari Pendeta Berpeci Setyawan Budi terkirim kepada lelaki itu.

Masalahnya adalah kesalahpahaman. Kesalahpamahan itu harus segera diredam dan diselesaikan. Itulah sebabnya, bersama Pandityadanar, lelaki itu harus pulang segera ke Semarang untuk menyalakan cahaya terang atas kesalahpahaman yang menghadang.

“Anak ini memberi kesan menghina Abah kami karena ia mau merebut mik yang sedang dipergunakan Abah!” Demikian awal mula kesalahpahaman terjadi. Dalam kesalahpahaman itu tersirat amarah. Hanya lelaki itu yang bisa mengubah amarah menjadi sikap ramah.

Lelaki itu segera mencari dan menghubungi sumber kesalahpahaman itu. Sesudah pembicaraan yang intensif maka kesalahpahaman itu bisa diselesaikan.

“Tak ada yang bermaksud menghina Abah kita. Pemuda itu tidak bermaksud merebut mik melainkan ingin menyampaikan pesan yang saya kirimkan melaluinya kepada Abah, agar Abah menyanyikan lagu Syiir Tanpa Waton! Itu saja soalnya. Memang pemuda itu tampak sangar karena memang begitulah penampilannya. Namun ia berhati baik. Maka tak ada maksud bahwa dia akan merebut mik apalagi menghina Abah. Sama sekali tidak!” Jelas lelaki itu kepada ajudan Abah.

Syukurlah, penjelasan itu dimengerti dan dipahami. Buahnya adalah saling memaafkan dan mengampuni satu terhadap yang lain. Inilah pula syair peradaban kasih yakni maaf dan pengampunan.

Begitulah kidung peradaban kasih di bulan Mei dikenang lelaki itu. Kidung itu berkumandang bersama suara gemuruh kembang api di malam itu. Berpendar memancarkan cahaya dalam kegelapan malam itu. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 20/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4089246441577699?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.