Inspiration

Inspirasi Bahan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani! Bagaimanakah?

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi mewujudkan kerukunan antarumat Kristiani di seluruh dunia. Gerakan ini sudah mulai sejak tahun 1908. Setiap tanggal 18-25 Januari ditetapkan sebagai Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Konkretnya, seluruh umat Kristiani, selama satu pekan itu diajak untuk menghadirkan kerukunan, persatuan dan perdamaian bagi dunia.

Referensi pihak ketiga

Dalam rangka itu, setiap tahun, sejak tahun 2009 dan dilaksanakan tahun 2010, seabad sesudah peristiwa pertama dimulai, saya menyadur bahan-bahan yang dikeluarkan oleh Vatikan dalam kerjasama dengan Geneva untuk kepentingan Pekan Doa Sedunia tersebutt. Berikut ini adalah salah satu contoh bahan yang saya persiapkan untuk 18-25 Januari 2019. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi bagi umat Kristiani untuk bersatu dalam kerukunan keberagaman Gereja-Gereja dalam Kristus.

SEMATA-MATA KEADILAN, ITULAH YANG HARUS KAU KEJAR

(Ulangan 16:18-20)

Pekan Doa Sedunia

untuk Kesatuan Umat Kristiani

18-25 Januari 2019

Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayan

Keuskupan Agung Semarang

Pengantar

Kita kembali memasuki Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani (PDS), 18-25 Januari 2019. Kita bersyukur, tema PDS 2019 dan gagasan dasar serta bahan-bahannya dipersiapkan oleh Umat Kristani di Indonesia, buah kerjasama Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tema PDS 2019 dikutip dan diolah dari Kitab Ulangan 16:18-20. Fokusnya adalah keadilan. “Semata-mata keadilan, itulah yang harus kau kejar”. Begitulah tema dan judul PDS 2019.

Bahan-bahan permenungan diolah dari konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang ditandai oleh keberagaman agama. Indonesia dikenal sebagai Negara dengan umat beragama Islam terbesar di dunia, namun secara umum kita mengalami hidup bersama yang rukun dan damai. Memang, belakangan ini ada letupan-letupan intoleransi dan aksi kekerasan yang bernuansa agama, namun mayoritas suasana yang dihadirkan adalah hidup yang rukun, adil dan damai.

Seraya bersyukur atas keadaan yang baik itu, kita tetap berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar persatuan dan kesatuan antarumat beragama tetap terjaga. Persatuan dan kesatuan itu diharapkan berbuah dalam gerakan melawan ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan kebencian yang masih menandai kehidupan kita bersama. Gereja dipanggil untuk bersinergi di antara Gereja sendiri dan bersama umat beragama lain dalam mengejar dan mewujudkan keadilan, baik keadilan bagi sesama maupun bagi semesta.

Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang, tema PDS 2019 selaras dengan tema pastoral 2019. Sepanjang tahun 2019, Gereja Keuskupan Agung Semarang mengajak kita semua untuk membingkai seluruh gerak pastoral kita dengan tema “Umat Allah KAS Mewujudkan Kesejahteraan Umum dalam Masyarakat Multikultural”. Kita hanya bisa mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultural apabila mewujudkan keadilan dalam kehidupan bersama. Mewujudkan keadilan merupakan bagian utama dari mewujudkan kesejahteraan umum. Keadilan bagi di antara umat manusia maupun bagi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Dalam semuanya itu, kita juga diajak untuk menghayati Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-20135 yakni mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita. Caranya bagaimana? Dalam lima pertama RIKAS, yakni melalui Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS) 2016-2020, kita diajak untuk menghayati jatidiri kita sebagai Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif.

Perjuangan mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman itu tidaklah mudah. Dalam arti tertentu, kita mengalami belenggu ketidakadilan dalam wujud bahaya kekerasan, kemiskinan, korupsi dan bencana alam yang belakangan ini masih terjadi di negeri kita. Bahkan, di tahun 2019 yang merupakan tahun demokrasi yang mestinya menjadi tahun kebahagiaan dalam bidang politik partisipatif, kita justru mengalami berbagai kecemasan akibat ujaran kebencian dan produksi permusuhan di antara warga bangsa dan masyarakat kita.

Melalui PDS 2019 yang sekaligus mengawali tahun yang baru, kita berharap, semoga kian hari, kita kian membangun peradaban kasih di antara umat Kristiani dan kemudian meluas mengakar di antara semua umat manusia dalam kehidupan yang adil, rukun, bersatu bahagia, sejahtera dan bermartabat. Kita pun kian beriman dalam keadilan, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Selamat menjadi duta-duta yang menghadirkan keadilan Tuhan yang menyelamatkan sehingga terwujudlah kesejahteraan umum di tengah masyarakat kita yang ditandai realitas multikultural. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati. Berkah Dalem.

Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata, 14 November 2018

Aloys Budi Purnomo, Pr

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan

Keuskupan Agung Semarang

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

BACAAN ALKITAB: SEMATA-MATA KEADILAN, ITULAH YANG HARUS KAU KEJAR (Ulangan 16:18-20)

Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kau angkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

TEMA, DOA DAN REFLEKSI ALKITABIAH SELAMA SATU PEKAN

HARI 1: Biarkan keadilan bergulung-gulung seperti air (Amos 5:24) Amos 5: 22-25, Lukas 11:37-44

Refleksi: Kita bisa sangat berkomitmen untuk berdoa di Gereja, tetapi terkadang pada saat yang sama, kita menindas sesama atau mengeksploitasi lingkungan alam semesta. Kita mengalami, ada orang-orang yang dengan semangat mempraktikan agamanya, tetapi juga menindas orang-orang yang berbeda agama dan kepercayaan, bahkan melakukannya dengan kekerasan. Yesus dalam Injil Lukas mengingatkan kita bahwa tanda lahiriah dari ibadah pada Tuhan yang sejati adalah melakukan keadilan. Ia sangat mengecam orang yang mengabaikan kewajiban ini. Dalam nubuat Nabi Amos, Tuhan menolak ibadah mereka yang mengabaikan keadilan, sampai mereka ‘membiarkan keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti aliran yang selalu mengalir’ (5:24). Nabi Amos sangat menekankan pada hubungan mutlak antara ibadah dan melakukan keadilan. Ketika umat Kristiani peduli pada orang miskin dan tertindas, kita tumbuh dalam persatuan satu sama lain dengan Allah Tritunggal Maha Kudus.

Doa: Ya Tuhan kami, Engkau juga Tuhan para janda, anak yatim, dan orang asing, Engkau telah menunjukkan kepada kami jalan keadilan. Bantulah kami mengikuti jalanMu dengan melakukan keadilan sebagai ibadah kami kepadaMu. Semoga kami menyembah Engkau tidak hanya dengan hati dan pikiran, tetapi juga dengan perbuatan. Semoga Roh Kudus menolong dan membimbing kami untuk bekerja demi keadilan di manapun kami berada, sehingga banyak orang diteguhkan melalui karya kami, kini dan selamanya. Amin.

HARI 2: Jika ya, katakana: ya; jika tidak, katakanlah: tidak (Matius 5:37) Efesus 4:22-25, Matius 5: 33-37

Refleksi: Kekerasan terhadap manusia tidak hanya ditemukan dalam kekerasan fisik dan perampokan, tetapi juga dalam pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar. Media sosial turut membantu penyebaran berita tersebut. Kita sadar bahwa hal ini menggiring kepada kebohongan dan prasangka yang disebarkan oleh kelompok-kelompok agama, termasuk umat Kristiani, terhadap kelompok agama lain. Ketakutan serta ancaman pembalasan dapat membuat orang enggan untuk membela kebenaran dan menyebabkan mereka diam dalam menghadapii pernyataan yang tidak adil dan tidak benar tersebut. Yesus dengan tegas berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”. Ketidakjujuran merusak kesatuan Gereja. Surat kepada jemaat di Efesus mengingatkan bahwa kita masing-masing adalah anggota. Ini adalah panggilan kita umat Kristiani untuk jujur dan bertanggung jawab satu sama lain, sehingga kita dapat bertumbuh dalam persekutuan. Roh Kudus Allah yang akan menyertai kita ketika kita melakukannya.

Doa: Ya Allah Yang Maha Benar, berilah kami kebijaksanaan untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah. Biarkan hati kami dibimbing oleh kejujuran dan bibir kami mengucapkan kebenaran. Beri kami keberanian untuk jujur bahkan ketika orang lain melawan kami. Jauhkan kami dari upaya untuk menyebarkan kebohongan; buatlah kami menjadi agen persatuan dan perdamaian, menyebarkan kabar baik bagi semua orang, kini dan selamanya. Amin.

HARI 3: Tuhan itu pengasih dan penyayang pada semua orang (Mazmur 145:8) Mazmur 145: 8-13, Matius 1: 1-17

Refleksi: ‘Tuhan itu baik kepada semua orang, dan kasih sayangNya melebihi apa yang telah dibuatNya’, kata pemazmur itu, menyatakan bahwa kasih Tuhan melampaui batas-batas etnis, budaya, ras, dan bahkan agama. Kisah silsilah Yesus dalam Injil Matius mencerminkan visi yang luas ini. Sementara budaya kuno sering memandang perempuan sebagai inferior. Matius menyebutkan empat wanita di antara leluhur Yesus, dua di antaranya adalah Rut dan dan Rahab, yang bukan orang Yahudi. Tiga leluhur lain dalam daftar itu dikenal karena kedosaan mereka, termasuk Raja Daud yang berzinah. Menamai semua ini dalam silsilah Yesus dan menjadikan mereka bagian dari sejarah manusia Allah, menyatakan bahwa Allah memasukkan semua orang, pria dan wanita, orang berdosa dan orang benar, dalam rencana keselamatanNya, tanpa memandang latar belakang mereka. Indonesia adalah negara dengan lebih dari 17.000 pulau dan 1.340 kelompok etnis yang berbeda, dan denominasi Gereja sering terpisah pada garis etnis. Eksklusivitas semacam itu dapat menyebabkan sebagian orang melihat diri mereka sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, yang melukai kesatuan Gereja. Di tengah meningkatnya fanatisme etnis dan religius dan semangat intoleransi yang berkembang di seluruh dunia saat ini, kita dapat melayani sesama dengan bergabung bersama menjadi saksi akan kasih Allah bagi kita semua, melambungkan mazmur “Tuhan itu murah hati an penuh belas kasihan” untuk kita semua.

Doa: Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kami memujiMu atas keagungan kemuliaanMu yang nampak dalam semua ciptaan. Beri kami hati yang terbuka untuk merangkul semua yang mengalami diskriminasi. Bantu kami untuk tumbuh dalam cinta tanpa prasangka dan tanpa ketidakadilan. Berilah kami rahmat untuk menghormati keunikan setiap orang, sehingga dalam keberagaman kami, kami mengalami persatuan, kini dan selamanya. Amin.

HARI 4: Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu (Ibrani 13:5) Ibrani 13: 1-5, Matius 6: 25-34

Refleksi: Penulis surat kepada orang Ibrani mengingatkan soal kecintaan yang berlebihan akan uang dan hal-hal materi. Teks itu mengingatkan kita tentang pemeliharan Allah dan jaminan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan ciptaanNya. Melalui hasil bumi, sungai dan laut, kebaikan Tuhan telah menyediakan banyak makanan dan air segar untuk menopang semua makhluk hidup, namun masih banyak orang kekurangan kebutuhan dasar ini. Kelemahan manusia dan keserakahan sering menyebabkan korupsi, ketidakadilan, kemiskinan dan kelaparan. Itu bisa menjadi godaan, alih-alih peduli pada orang lain dan berbagi barang-barang kita dengan mereka, uang, makanan dan sumber daya alam dikumpulkan untuk diri kita sendiri atau kelompok etnis. Namun, Yesus mengajarkan kita bahwa hal-hal materi seharusnya tidak menjadi perhatian utama kita. Sebaliknya, kita harus berusaha terlebih dahulu untuk kerajaan Allah dan nilai-nilainya, percaya bahwa Bapa surgawi akan menyediakan bagi kita. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa Gereja di Indonesia telah menyediakan berbagai macam dukungan keuangan, kemanusiaan dan pendidikan untuk Gereja-Gereja kecil di daerah pedesaan. Dalam contoh saling mengasihi yang sederhana dan praktis ini, mereka menunjukkan persatuan dengan sesama umat Kristiani yang merupakan karunia Allah bagi Gereja-Nya. Hidup lebih sederhana, tidak sibuk untuk mendapatkan uang di luar kebutuhan kita atau dengan menimbun sumber daya untuk masa depan, dapat memungkinkan kita untuk membuat bumi sebagai rumah kita bersama.

Doa: Allah yang Mahakasih, kami berterima kasih atas karuniaMu yang berlimpah. Dengan rendah hati dan penuh syukur kami mohon berilah kami rahmat untuk menerima semua berkat dalam kesederhanaan. Mampukan kamu untuk mencukupkan diri dan siap berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, agar semua orang dapat merasakan kesatuan dalam cinta yang mengalir dariMu, Allah Tritunggal kami, yang hidup dan berkuasa selama-lamanya. Amin.

Referensi pihak ketiga

HARI 5: Menyampaikan kabar baik kepada orang miskin (Lukas 4:18) Amos 8: 4-8, Lukas 4: 16-21

Refleksi: Nabi Amos mengkritik para pedagang yang melakukan penipuan dan mengeksploitasi orang miskin untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Amos juga menggarisbawahi bagaimana Tuhan mengamati perbuatan mereka itu. Tuhan mendengarkan tangisan para korban ketidakadilan dan tidak pernah meninggalkan mereka yang dieksploitasi dan diperlakukan tidak adil. Kita hidup di era globalisasi yang ditandai merajalelanya marginalisasi, eksploitasi dan ketidakadilan. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Pencapaian ekonomi menjadi faktor penentu dalam hubungan antara orang, bangsa dan komunitas. Masalah ekonomi sering memicu ketegangan konflik di antara mereka. Sulit untuk menikmati kedamaian ketika tidak ada keadilan. Sebagaimana lazimnya baptisan kita, kita berbagi dalam misi kenabian Yesus untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin dan yang lemah, dalam kata-kata dan perbuatan. Ketika kita mengenali misi ini, Roh Tuhan akan menyertai kita, memberdayakan kita untuk bekerja demi keadilan.

Doa: Allah, Bapa kami, ampunilah kami yang suka mengejar kekuasaan dan bebaskan kami dari godaan untuk menindas orang lain. Dengan pesekutuan Roh KudusMu, bantulah kami untuk hidup dalam solidaritas dengan sesama kami, dan bersama PutraMu Yesus menyebarkan pemenuhan janji pembebasanMu terhadap kemiskinan dan penindasan, demi Kristus Juruselamat manusia, selamanya. Amin

HARI 6: Tuhan semesta alam adalah namaNya (Yeremia 10:16)

Yeremia 10: 12-16, Markus 16:14-15

Refleksi: Penciptaan dunia adalah wujud dari kekuatan Tuhan yang menakjubkan. Kebesaran Tuhan terlihat dalam dan melalui semua ciptaan: ‘Tuhan semesta alam adalah namaNya’. Saat ini, kita menghadapi krisis ekologi global yang serius, yang mengancam kelangsungan hidup dunia. Banyak orang didorong keserakahan untuk mengeksploitasi ciptaan secara berlebihan. Mengatasnamakan pembangunan, hutan ditebangi dan polusi menghancurkan tanah, udara, sungai, dan laut, lahan pertanian menjadi sulit dibuat, air menjadi tercemar dan menyebabkan hewan mati. Dalam konteks ini, penting untuk mengingat bahwa setelah kebangkitanNya, Yesus menugaskan para murid untuk memberitakan kabar baik ‘kepada seluruh ciptaan’. Tidak ada ciptaan yang berada di luar rencana Allah untuk membuat segala sesuatu menjadi baru. Maka perubahan diperlukan dari kecenderungan untuk mengeksploitasi ke sikap menghargai dan merekonsiliasi kita dengan ciptaan. Pergerakan di antara orang-orang yang berbeda keyakinan di Indonesia dan banyak tempat lainnya menginspirasi kita untuk mempromosikan Gereja-Gereja ramah lingkungan, dan untuk melawan pengrusakan lingkungan. Ini menyatukan kita dalam memberikan kesaksian ‘karena Dialah yang membentuk segala sesuatu’. Ketika kita semua bersatu untuk mempertahankan bumi yang adalah rumah kita bersama, kita tidak hanya terlibat dalam suatu aktivitas, tetapi memenuhi perintah Tuhan untuk memberitakan kabar baik penyembuhan dan pemulihan kasih Tuhan kepada semua ciptaan.

Doa: Allah yang Mahakasih, Engkau bersabda maka semuanya terjadi. Kami bersyukur untuk alam semesta yang menunjukkan kemuliaan, keindahan, dan kebaikanMu. Anugerahilah kami kebijaksanaan sehingga kami dapat tinggal di bumi dengan baik dan bersama-sama menjadi pewarta kabar baikMu kepada semua ciptaan. Semoga kami berani merawat bumi dan seisinya, selama-lamanya. Amin.

HARI 7: Hai Ibu, besar imanmu! (Matius 15:28) 1 Samuel 1: 13-17, Matius 15: 21-28

Refleksi: Dalam kisah Hanna dan perempuan Kanaan, kita berjumpa perempuan yang semula terpinggirkan dan dinilai tidak layak diperhatikan ternyata berbicara kata-kata nubuat yang melunakkan hati dan membawa kesembuhan dan keutuhan. Marginalisasi dan penolakan suara perempuan berlanjut di jaman kita, bahkan di dalam Gereja kita. Kita sering terlibat dalam budaya tidak menghargai perempuan. Ketika kita menyadari kesalahan kits di bidang ini, dengan jelas kita mengenali kengerian kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang diambil secara paksa dari rumah mereka dan diperdagangkan ke negeri-negeri lain. Mereka dan banyak pekerja migran lainnya sering diperlakukan secara tidak manusiaiwi. Pada tahun-tahun ini, Gereja Indonesia telah membuat aksi melawan perdagangan manusia dan kekerasan seksual pada anak. Usaha tersebut juga usaha dari orang-orang yang berbeda keyakinan. Semua itu menjadi lebih serius sejak jumlah korban terus meningkat setiap hari. Lewat persekutuan dalam doa dan pembelajaran Kitab Suci, kita mendengar suara Tuhan yang memanggil dan menginspirasi kita untuk melawan perdagangan manusia dan kejahatan lainnya.

Doa: Allah yang Mahabaik, Engkaulah sumber martabat manusia. Berkat rahmat dan kekuatanMu kata-kata Hana mengubah hati Eli sang imam, kata-kata perempuan Kanaan menggerakkan Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya. Dalam upaya kami mewujudkan kesatuan Gereja, anugerahilah kami keberanian untuk menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan serta untuk merayakan karunia-karunia Roh yang Kau curahkan pada kaum perempuan untuk melayani Gereja, kin dan selamanya. Amin.

HARI 8: Tuhan adalah terang dan keselamatanku. (Mazmur 27:1)

Mazmur 27: 1-4, Yohanes 8: 12-20

Refleksi: Melalui delapan hari Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani ini, refleksi-refleksi harian mempertimbangkan situasi-situasi dunia yang sulit saat ini, seperti keserakahan, kekerasan, eksploitasi, kemiskinan, polusi, kelaparan dan perdagangan. Gereja-Gereja di Indonesia sadar akan masalah-masalah ini sebagai tantangan bagi semua orang Kristen. Kita mengakui bahwa dosa-dosa ini telah mencemari Gereja kita juga, memecah persatuan dan melemahkan kesaksian kita pada dunia. Pada waktu yang sama, kita mengakui banyak janji Gereja yang datang bersama untuk memberi kesaksian bagi kesatuan di dalam Kristus. Hari demi hari, tahun demi tahun, secara khusus selama PDS ini, umat Kristiani bersatu dalam doa, mengakui iman pembaptisan, mendengar suara Tuhan dalam Kitab Suci dan berdoa bersama untuk kesatuan dalam tubuh Kristus. Dalam melakukannya, kita mengakui bahwa Allah Tritunggal adalah sumber dari semua kesatuan dan Yesus adalah terang dunia, yang berjanji menerangi hidup bagi kita yang mengikutiNya. Banyak ketidakadilan di dunia sering menyedihkan atau membuat kita marah. Tetapi kita tidak kehilangan harapan karena Tuhan adalah terang dan penyelamat kita dan benteng hidup kita, kita tidak takut.

Doa: Allah penopang hidup kami, kami memuji akan cinta kasihMu, akan pertolonganMu, dan akan terangMu yang Kau tunjukkan kepada kami saat kami berada dalam kegelapan. Ubahlah hidup kami sehingga kami bisa menjadi berkat bagi sesame kami. Bantulah kami untuk bersatu dalam keberagaman sebagai kesaksian dalam persatuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya . Amin.

Referensi pihak ketiga

Doa untuk Kesatuan Umat Kristen

(Sumber: Puji Syukur 177)

Bapa yang maha pengasih dan penyayang, menjelang akhir hidup-Nya, Yesus berdoa bagi para murid-Nya, “Semoga mereka semua bersatu, seperti Engkau, ya Bapa, ada dalam Aku dan Aku dalam Dikau; supaya mereka juga bersatu dalam Kita, agar dunia ini percaya bahwa Engkau mengutus Aku.”

Maka kami mohon ya Bapa: semoga semua orang Kristen bersatu padu dan giat mengusahakan kesatuan. Semoga seluruh pemimpin umat-Mu semakin menyadari perlunya kesatuan. Musnahkanlah sandungan akibat perpecahan di antara umat Kristen. Semoga persatuan umat Kristen merupakan sumber perdamaian, dan tanda kasih Kristus bagi seluruh umat manusia.

Bapa, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda kepada para rasul, “Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu”: Janganlah Kaupandang dosa-dosa kami, melainkan pandanglah kepercayaan umat-Mu, dan berikanlah damai serta persatuan kepada kami sesuai dengan kehendak-Mu. Pandanglah kawanan domba Yesus. Semoga semua, yang telah dikuduskan oleh satu pembaptisan, dipererat pula oleh persatuan iman dan ikatan kasih. Buatlah kami semua menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-satunya Gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad. Amin

Dikeluarkan oleh Komisi HAK – KAS (Bahan ini boleh diperbanyak sendiri sesuai kebutuhan)

Sumber: Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4101018252482949?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.