Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (12)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dengan tanpa mengenal lelah, lelaki pemburu peradaban kasih itu terus merajut peradaban kasih dengan siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Ia selalu bersyukur dan bergembira setiap kali menyaksikan orang-orang muda lintas agama dan budaya merajut peradaban kasih dengan segala kreativitas mereka. 

Itulah pula yang disyukuri selama berada di Algonz Surabaya (3-4 Maret 2018) yang dihadirkan dalam kenangan kaledoskopik pribadinya di awal 2019 diiringi semarak warna-warni nyala kembang api, meski bukan lelaki itu yang menyalakannya. Ia hanya turut menikmati dampaknya semata.

Namun tiba-tiba kenangan itu berubah menjadi ketegangan oleh sebab dipicu pula satu hal yang menegangkan, yang tiba-tiba melintas di angannya! Seperti disambar petir disiang bolong, lelaki itu mendapat kabar bahwa rencana rangkaian peradaban kasih melalui suatu pameran lukisan bertajuk “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita” yang sudah matang dipersiapkan itu terancam batal! 

“Maaf neh,” kata salah seorang inisiator yang semula menggebu-gebu untuk penyelenggaraan pameran ini dan siap mengkover segala sesuatunya tiba-tiba bilang, “tampaknya kita kesulitan neh dalam satu hal ini!” 

Lelaki itu sudah tahu arah dan muara pembicaraan orang itu. Pasti uud. Ujung-ujungnya duit! Maka ibarat pepatah kearifan lokal bilang: njagakake endhoge si blorok, jebul pitike ora ngendhok. Itulah yang terjadi dengan orang itu dan berimbas pada lelaki itu, yakni mengharapkan telur ayam blorok, ternyata ayam blorok itu tak bertelur. Ah, namanya juga ayam blorok! Ngapain juga diharapkan! 

“Tenang saja…,” kata lelaki itu mencoba memberikan ketenangan, “peradaban kasih itu dimulai bukan dari uang tetapi dari kerelaan menghayati empat kata ini. Let go, let God. Apa arti dan maknanya dalam rangka peradaban kasih?”

Semua yang mendengarkan hanya diam sambil menanti jawabannya yang akan diuraikan lelaki itu. “Begini. Rencana dan program kita memang terbilang baru dalam konteks kemendesakan aktual atas situasi yang membutuhkan dukungan dan perhatian kita.”

Lelaki itu menyeruput secangkir kopi lalu menyedot ramuan jahe kayu siwak dan kencur seraya melanjutkan, “Biarlah, waktu berjalan terus menuju saat kita mewujudkan rencana. Let go, let God! Tanggalkanlah dirimu, andalkan Tuhan! Ia pasti memberi jalan. Rencana tak boleh batal. Kita jalan terus. Kita tidak sedang mencari diri sendiri atau keuntungan pribadi melainkan melulu demi kemuliaan Tuhan. Kita andalkan kekuatanNya dalam hidup kita! Pasti ada jalan terbaik kalau kita mengandalkan Tuhan, apa pun agama dan kepercayaan kita!”

Memang, pada awalnya rencana pameran lukisan ini sederhana saja. Peradaban kasih diungkapkan dengan cara mendukung gerakan kemanusiaan membela Palestina. Lelaki itu ingin menyerukan perdamaian Palestina tapi juga demi kerukunan siapa saja dan di mana saja terutama di negerinya sendiri.

“Romo kok membela Palestina sih? Dan bahkan mau mengadakan pameran lukisan bertajuk perdamaian Palestina?” Tanya salah seorang mahasiswa. 

“Apa salahnya Romo membela Palestina? Saya pernah berkunjung ke Palestina! Bahkan tiga kali!” Kata lelaki itu dengan segenap kebanggaan rohani yang berbeda dengan arogansi. Bagi lelaki itu, rasa bangga berbeda dengan sombong fana. Bangga itu berada dalam aras let God, sedangka sombong adalah anak kandung let go.

Semua diam. Heran. Ada yang manggut-manggut. Mendengarkan lelaki itu.

“Di Palestina ada Betlehem! Betlehem adalah tempat Yesus dilahirkan. Kota itu menjadi kota terpenting Palestina hingga hari ini, terutama bagi umat Kristiani. Nah tiga kali saya mendapat anugerah berziarah ke Betlehem! Di kota inilah seruan para malaikat digemakan untuk pertama kali: Damai di bumi bagi setiap orang yang berkenan kepada-Nya! Perdamaian Palestina, kerukunan kita, tak bisa dipisahkan dari seruan ini!”

“Keprihatinan Palestina adalah keprihatinan kita semua tanpa diskriminasi bahkan andaikan pun Yesus tidak lahir di Betlehem atau Betlehem tak menjadi bagian dari otoritas Palestina! Kamu pikir, orang Palestina itu hanya beragama Islam? Ah, tidak. Banyak juga yang beragama Katolik! Tapi bukan itu soalnya. Soal utama adalah kemanusiaan dalam bingkai peradaban kasih!”

Begitulah lelaki itu meneguhkan teman-teman seniman khususnya para pelukis dan pematung untuk tetap bersemangat mempersiapkan dan melaksanakan pameran Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita. “Jangan takut! Maju terus! Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti!”

Rasa tegang berubah sedikit lentur meski bagi satu dua orang, pembicaraan itu justru kian menambah ketegangan. Terutama bagi tim akomodasi yang harus mempersiapkan segala sesuatunya in pecunia, yang harus menggunakan makhluk yang bernama Rupiah! Tapi jangan pernah ditindas oleh makhluk itu sebab ia tidak menentukan segala-galanya walau tanpanya segalanya bisa saja tak menentu. Hahaha (bersambung)

JoharT Wurlirang, 8/1/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2496727330726313?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.