Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (2)

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sambil duduk di atas tempat tidurnya, sendiri, lelaki itu menatap dan membuka dua belas bulan yang dilaluinya sepanjang tahun 2018 yang hampir tuntas. Pada lembar bulan pertama tampak kenangan setahun silam saat ia meninggalkan 2017 memasuki 2018. 

Tampak jelas kala itu, saat lelaki itu mengakhiri lembar terakhir 2017 bersama beberapa umat dan sahabat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peralihan tahun selalu dilewatinya dalam Perayaan Syukur bersama banyak umat lainnya dalam Sakramen Tersuci Ekaristi. Bahkan momen-momen itu dibentangkan merangkai tahun lama dan tahun baru dalam satu hembusan syukur penuh keharuan sebab selalu meriah namun dalam bentuk Ibadah dan Syukur Agung Penebusan Ekaristik.

Gereja tempat diselenggarakannya Ibadah Tutup Tahun lama dan Sambut Tahun baru selalu dipenuhi umat yang haus membingkai old and new dalam doa syukur dan berkat.

“Mari kita tinggalkan tahun lama dan kita sambut tahun baru bersama-Nya di rumah-Nya sebagai anak-anak Tuhan bukan dalam pesta pora sebagai anak-anak jalanan!” Begitulah lelaki itu selalu menawarkan kepada dan mengajak umatnya agar melewati tahun lama memasuki tahun baru dalam doa syukur dan berkat. Umat pun menyambut penuh antusias maka berbondong-bondonglah umat tak hanya dari parokinya tetapi juga dari paroki lain ikut serta dalam Misa Old & New yang dipersembahkannya.

Apalagi kalau lelaki itu mulai pula meniup saksofonnya dan berkolaborasi dengan paduan suara apa saja. Suasana gembira, bahagia dan penuh syukur akan membahana menandai akhir tahun lama dan menyambut awal tahun baru. Bukan di jalanan melainkan di rumah Tuhan! Semua pihak dan siapa saja umatnya dari segala usia mulai dari kanak-kanak, remaja, orang muda, dewasa hingga lansia dilibatkannya semua tanpa diskriminasi. Semakin banyak yang terlibat semakin dahsyat! 

Dan umat pun menikmati sukacita kehadiran-Nya memburat tahun lama dan tahu baru dengan kasih kerahiman-Nya. Namun itu di masa lalu sebelum 2017 dan 2018. Kini semua menjadi lamunan kenangan indah semata di penghujung 2018.

Karenanya, di tempat tidurnya di penghujung 2018, ia heran bahwa ada pihak-pihak yang nyinyir mengkritisi para kepala daerah di negeri ini yang mengajak rakyatnya untuk menyambut tahun baru dalam doa, dzikir dan istiqotsah. Menurut dirinya, itu baik-baik saja daripada orang hura-hura pesta pora menyambut tahun baru di jalanan atau di tempat-tempat hiburan. Lebih baiklah mengakhiri tahun lama dan menyambut tahun baru di rumah Tuhan, apa pun agama dan kepercayaannya, dari pada di jalanan dan di tempat-tempat hiburan! 

“Mengapa harus begitu?” Tanya Guntur salah seorang umatnya. Guntur ini badannya kecil, tetapi suaranya menggelegar. Antara suara dan badan tidak berbanding lurus.

“Alasannya jelas. Ada sejumlah alasan. Pertama, lebih baik merefleksikan pengalaman setahun yang akan berlalu dari pada sekadar foya-foya. Kedua, dalam refleksi itu kita mohon ampun atas masa lalu yang ditandai cacat cela dan dosa. Ketiga, kita juga mohon berkat untuk sepanjang tahun baru yang kita sambut. Keempat…,” lelaki itu tampak serius, sambil menghirup nafas dan lalu menghembuskannya lagi, “… kita berdoa mohon kesejahteraan dan perdamaian bagi dunia. Tak hanya bangsa kita tetapi juga bagi dunia!”

Dengan mata berbinar, ia masih melanjutkan, “Ada banyak alasan untuk mendoakan dunia kita. Pertama, dunia kita makin hari makin sekular dan lupa Tuhan! Atau kalaupun ingat Tuhan itu melulu demi meraih kekuasaan sehingga agama dipolitisasi. Nama Tuhan diobral demi syahwat kekuasaan dan politik. Kedua, banyak pemimpin bangsa kian hari kian tak peduli terhadap bangsa lain bahkan cenderung ingin perang bukan hanya perang senjata melainkan perang dagang sehingga yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya! Ketiga, selalu ada bencana demi bencana setiap masa yang terjadi karena barangkali akibat kita kurang berdoa, apa pun agama dan kepercayaan kita. Karenanya, menandai peralihan tahun dalam doa, dzikir, ibadah, persekutuan puji-pujian, misa dan meditasi apa salahnya? Sama sekali tak ada salahnya, asal jangan dengan alasan-alasan yang tak masuk akal sehat sekalipun!”

“Maksudnya?” Guntur menggelegar bertanya.

“Ya lah! Tak usah pakai kedok agama apa pun, menandai peralihan tahun dengan doa itu baik-baik saja. Nggak usah pakai alasan bahwa tahun Masehi itu tidak sesuai dengan akidah agama tertentu. Apa pun agama dan kepercayaannya, sah-sah saja menandai peralihan tahun dalam doa sesuai agama dan kepercayaannya. Titik. Ndak usah pakai embel-embel diskriminatif agamis.” Jelas lelaki itu seakan omong pada dirinya sendiri.

Masih penuh semangat ia berkata, “Memang, setiap agama dan budaya mempunyai siklus tahun penanggalan masing-masing. Umat Islam memiliki tahun Hijriyah. Umat Hindu punya tahun Saka. Umat Buddha pun punya Buddhist Era disingkat BE. Orang Jawa punya sistem kalender sendiri dengan Pon Wage Kliwon Legi Pahing. Ada pula Tahun China yang selalu diawali dengan Hari Raya Imlek sebagai Tahun Baru China maka dengan ucapan Happy New Chinesse Year! Semua memiliki keunikan bersifat lokal dan kontekstual. Namun Tahun Masehi itu bukan tahun milik agama Katolik atau Kristen. Tahun Masehi adalah tahun universal yang dipergunakan secara global. Memang adanya tahun Masehi ditentukan oleh kelahiran Yesus Kristus yang disebut Mesias. Dari kata itu muncul istilah Masehi. Bahkan hitungan masa universal ditentukan menjadi sebelum dan sesudah keberadaannya di dunia. Tapi tahun Masehi bukan tahun agamis melainkan tahun humanis. Tolok ukurnya adalah kemanusiaan Sang Mesias!”

Saat mendengarkan uraian itu, Guntur hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, entah menangkap entah tidak maksudnya.

Itu masih lamunan di lembar pertama 2018, setahun silam. Saat itu untuk pertama kalinya, lelaki itu tidak menandai peralihan tahun dengan perayaan meriah. Kala itu, peralihan tahun hanya ditandai dengan makan bersama dengan sagelintir umat dan sahabat di tempat tinggal barunya. Lelaki itu agak sedih mengenang saat itu justru karena di luar rencana dan sepengetahuannya, kala itu, ada umat yang membawa kembang api. Meski lelaki itu melarang untuk membakarnya, toh kembang itu dinyalakan dan menimbulkan gelegar di sudut tempat baru yang didiaminya sementara ini.

Apa boleh buat. Dari dulu, bahkan seumur-umur di usia emasnya, belum pernah ia menyalakan kembang api. Terlalu mahal harganya hanya untuk dibakar dan diledakkan! Seindah apa pun bunyi dan nyalanya, ia tak pernah bisa menikmati kembang api dalan peristiwa apa pun.

“Jutaan rupiah untuk beli kembang api lebih baih kalian zakatkan kepada yang membutuhkan perhatian dan belarasamu!” Begitulah lelaki itu selalu memberikan alternatif kepada para penghobi kembang api.

Ah, biarlah. Meskipun berbeda pendapat dan kadang lebih beda pendapatan, biarlah perbedaan itu tak usah diperdebatkan. Ibarat selera, selera itu tak bisa diperdebatkan. Pepatah Latin mengatakan: de gustibus non disputandum est. Dalam perbedaan alih-alih berdebat lebih baik saling menghormati dan menghargai. Itulah alasan mengapa Bhinneka Tunggal Ika menjadi bingkai kehidupan bersama. Diambil saja hikmah indahnya! Keindahan itulah yang nantinya akan menjadi salah satu pilar peradaban kasih…. (bersambung)

JoharT Wurlirang, 2/12019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi secara naratif

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2365362328078326?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.