Inspiration

Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (8)

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Pemotret Alfa

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah kelanjutan kenangan Februari 2018 yang kedua. Kalau yang pertama adalah perjumpaan dengan Din Syamsuddin, kenangan yang kedua adalah perjumpaan dengan tokoh penting lain, Lukman Hakim Saifuddin. Siapa yang tidak mengenal beliau, wabil khusus warga Nahdliyin. Beliau adalah Menteri Agama Republik Indonesia, yang diakui pula berasal dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama), salah satu organisasi massa Umat Islam terbesar di negeri ini.

Dalam rentang MUBES para tokoh agama se-Indonesia di Jakarta, dua kali, lelaki pemburu peradaban kasih itu berjumpa Pak Menteri. Perjumpaan pertama terjadi saat Pak Menteri hadir dalam MUBES. Saat itu, untuk pertama kalinya lelaki itu berjumpa Pak Menteri Agama yang santun dan lemah lembut itu. 

Saat itu, Pak Menteri sedang menikmati santap malam. Lelaki pemburu peradaban kasih itu memberanikan diri mendekati dan menyapa Pak Menteri atas dorongan sahabatnya, Wilfrid Sonar. Sebagai orang Batak, Wilfrid tak pernah basa-basi. Ia langsung menyuruh lelaki itu mendekati Pak Menteri dan sementara itu, jiwa jurnalistiknya bergerak, maka diabadikanlah momen itu oleh Wilfrid dengan menjepretnya. Jadilah beberapa adegan.

Dimulai dengan momen ketika lelaki itu menyapa lembut Pak Menteri. “Selamat malam Pak Menteri. Saya dari Semarang…!” 

“Ini Romo Aloys, Pak Menteri dari Semarang!” Sambung Din Syamsuddin menegaskan.

Mendengar itu, Pak Menteri yang sedang duduk menikmati santap malam itu seketika berdiri dan menyalami lelaki itu dengan keramahan ikhlas nan suci rahmatan lil alamin. “Terima kasih, Romo. Selamat datang. Terima kasih kehadirannya.”

Referensi pihak ketiga – Pemotret Wlifrid Sonar

Kalimat singkat namun penuh berkat di hati dan jiwa lelaki pemburu peradaban kasih itu. Ya, bagi lelaki itu, berkat itu sederhana. Berkat itu cukup dengan berkata baik dan lembut dan ramah dan positif. Itu saja. Kalau mau dirunut, kata berkat itu berasal dari kata Latin benedicere. Artinya, berbicara baik. Setiap pembicaraan baik, jadilah berkat yang paling awal dan fundamental. Lawan dari berkat adalah kutuk. Kata Latinnya maladicere. Omong buruk, omong bohong, bicara buruk, fitnah jahat, kutuk. Buahnya bukan berkat tetapi kutuk. Jadilah malapetaka!

Perjumpaan pertama dengan Pak Menteri Agama begitu menggoda. Selanjutnya terserah Anda. Namun bagi lelaki pemburu peradaban kasih itu, perjumpaan perdana dengan Pak Menteri Agama itu membawa barokah. Ah, sebetulnya itu bukan perjumpaan perdana sih. Sebelumnya pernah juga terjadi perjumpaan, tapi perjumpaan jarak jauh. Itu beberapa kali. Nah, perjumpaan perdana dalam jabat tangan erat penuh persahabatan memang baru kali itu. Itulah sebabnya, perjumpaan itu serasa merupakan perjumpaan dua sahabat yang lama tak berjumpa. Ada peradaban kasih menjalar dan memancar yang ternyata diikuti dengan perjumpaan demi perjumpaan nantinya, yang kian menegaskan pentingnya peradaban kasih bagi kehidupan bersama.

Nah, perjumpaan berikutnya terjadi di penghujung MUBES di Istana Bogor. Kala itu, bersama seluruh peserta MUBES, lelaki itu mendapat kesempatan menyerahkan hasil MUBES kepada Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Saat itulah perjumpaan untuk kedua kalinya dengan Pak Menteri Agama terjadi.

Tetapi siapa menyangka bahwa sehari sesudah itu, ternyata lelaki itu kembali berjumpa dengan Pak Menteri Agama yang santun dan lembut itu di Semarang. Tepatnya, perjumpaan terjadi pada momen Haul Abah Syekh Zuhri di Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri di Jl Ketileng Raya 13 A Sendangmulya Tembalang Semarang.

Coba bayangkan, hanya dalam tiga hari terjadi perjumpaan tiga kali di tempat yang berbeda dengan Pak Menteri Agama. Tak heran, bagi lelaki pemburu peradaban kasih itu, perjumpaan demi perjumpaan itu diterima sebagai barokah peradaban kasih.

“Ini bukan soal gengsi dan keren!” Jelas lelaki itu kepada Alfa, salah seorang mahasiswa di tempat lelaki itu bekerja sebagai karyawan. Malam itu, dalam perjumpaan dengan Pak Menteri Agama di Ketileng, lelaki itu mengajak Alfa. Alfa sendiri bercita-cita menjadi seorang pertapa. Namun, tampaknya nasib panggilan belum berpihak padanya. Ia harus menjalani kuliah terlebih dahulu. Baru kalau sesudah lulus nanti, rahmat panggilan masih berpihak padanya, ia bisa mencoba lagi.

“Kenapa tidak jadi pastor projo Kawan! Panggilan di situ juga elegan loh. Melayani Gereja setempat bersama Uskup. Itu vital!” Goda lelaki itu kepada Alfa suatu ketika. Yang digoda hanya terkekeh hampa!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Pemotret Alfa

Yang jelas, perjumpaan dengan Pak Menteri Agama dan para Kiai serta sejumlah tokoh penting di Ketileng malam itu, sudah menjadi pelajaran juga bagi Alfa bahwa pastor projo itu istimewa. Pelayanannya menembus batas dan tembok-tembok gereja membentang luas pada kemanusiaan dan kebudayaan dalam rangka peradaban kasih.

Masih ragukah kau, wahai Anak Muda, untuk mengambil keputusan bagi masa depanmu? Pandang dan petik dari peristiwa sederhana itu dan kamu akan melihat betapa peradaban kasih terbentang dalam sejarah masa depan yang damai, bila kau mau! (bersambung)

JoharT Wurlirang, 6/1/2019 »̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3298270542560821?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.