Inspiration

Inspirasi Merawat Indahnya Bhinneka Tunggal Ika, Bagaimana

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah refleksi merawat indahnya Bhinneka Tunggal Ika yang saya buat di penghujung tahun 2018. Refleksi ini saya kirim ke dan dimuat pertama kali di investor daily (31/12/2018) melalui sahabatku L. Gora Kunjana. Saya kirim ulang di platform UC Wedia dengan harapan agar semakin banyak orang membacanya. Semoga bermanfaat. Inilah catatan refleksi selengkapnya dengan tambahan sejumlah gambar.

“Memasuki akhir tahun 2018, saya mengalami indahnya keberagaman dalam kesatuan dan persatuan sebagai warga bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagaimana catatan kisahnya? 

Tanpa menutup mata bahwa ada gelombang buih-buih panas dari sisi sosial politik kekuasaan menjelang Pilpres dan Pileg 2019; bahkan ada kisah pilu di salah satu sudut kota Yogya pada peristiwa pemotongan salib penanda kuburan salah satu warga Katolik yang hendak dimakamkan sesudah kematiannya; atau musibah bencana yang terjadi di beberapa tempat akibat gempa dan tsunami; inilah catatan lain dalam paradigma positif di Negeri Bhinneka Tunggal Ika.

Dua bulan sebelum 2018 berakhir, saya mengalami rahmat perjumpaan dengan tokoh-tokoh budaya dan agama yang difasilitasi Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Syaifuddin. Peristiwa 2-3 November 2018 di Omah Tembi Jogyakarta itu menghasilkan kesepakatan Jogyakarta tentang reaktualisasi relasi agama dan budaya dalam rangka merawat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Tentu saja, dasarnya adalah Pancasila dan UUD 1945. Perjumpaan yang dipandu Radhar Panca Dahana itu tak hanya indah melainkan memberikan secercah cahaya di tengah senja kala republik yang ditingkah riak-riak gelombang berbuih di tepian pantai kehidupan bersama sebagai warga bangsa. Minimal ada upaya untuk merefleksikan keprihatinan lalu membangun paradigma untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Walau, langkah itu akan selalu terhadang kerikil yang kadang bisa membuat siapa saja tergelincir dan terluka dalam kebersamaan sebagai anak bangsa seperti selalu sudah disadari siapa saja yang berhati nurani cinta NKRI.

Desember Aroma Gus Dur

Sejak Gus Dur wafat, 30 Desember 2009, Desember di Indonesia beraromakan spirit Gus Dur di aras hidup bersama, tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa saja yang di bulan Desember disibukkan dengan aroma Natal. Desember beraroma spirit Gus Dur tampak dalam rangkaian Haul Gus Dur yang diselenggarakan tak hanya di Ciganjur, melainkan juga di berbagai tempat.

Saya sendiri mengalami tiga kali ikut serta dalam Haul ke-9 Gus Dur. Pertama di Ciganjur (21/12/208). Tentu, Kelurga Besar Ciganjur penyelenggaranya. Saya bersyukur setiap kali boleh mengalaminya berkat undangan VIP yang kuterima. Bukan undangan VIPnya yang terpenting namun nilai dan makna di dalamnya bahwa saya mendapat rahmat keindahan aroma spirit Gus Dur yang bagiku merupakan hal yang luar biasa istimewa setiap kali mengalaminya. 

Kedua di Pastoran Johannes Maria Tinjomoyo Dhuwur Kaligarang (JoharT Wurlirang) tempatku sementara ini berdomisili. Haul ke-9 Gus Dur diselenggarakan kawan-kawan Gusdurian Semarang dalam sinergi dengan Pelita, Kom HAK KAS dan berbagai komunitas lain. Saya ketiban sampur dipilih menjadi tuan rumah. Ini sungguh indah. Itu putaran kedua Haul ke-9 Gus Dur yang kualami (29/12/2018). Di situlah, Kang Mohammad Sobary pun menjadi berkah sebab berkenan hadir dan tidur di pastoranku gara-gara aroma spirit Gus Dur yang beliau sanepokan dalam The President, novel terbaru Kang Sobary.

Referensi pihak ketiga

Ketiga, saya pun diminta oleh kawan-kawan Ansor dan PMII Semarang untuk memberi testimoni dalam rangka Haul ke-9 Gus Dur di rumah dinas Wali Kota Semarang (30/12/2018). Begitulah, khusus dalam rangka haul ke-9 Gus Dur, saya mengalaminya sebanyak tiga kali peristiwa haul Gus Dur di bulan Desember 2018. Ini menjadi catatan indah tersendiri bagiku. Langka juga bisa mengalami peristiwa seindah ini dan itu baru terjadi kali ini. Biasanya saya hanya mengalami sekali saja Haul Gus Dur di Ciganjur.

Dipersatukan Budaya

Ada pengalaman indah kualami seumur hidup baru kali ini terjadi. Saya merayakan Malam Natal bersama Umat Katolik di Gereja St. Yusuf Kokap, Wates, Kulonprogo, DIY. Indah! Sesudah Malam Natal dirayakan dalam Ibadah Perayaan Ekaristi Suci, ternyata Natalan masih dilanjutkan dengan sukacita berbasis budaya. Ada jathilan dalam rangka natalan.

Pak Camat Kokap, Warsidi, hadir bersama jajaran Muspikanya. Masyarakat warta berjubel menikmati budaya yang mempersatukan, jathilan dalam natalan. Suasana sekitar gereja laksana pasar malam yang melibatkan seluruh warga setempat, makin malam makin banyak pengunjung yang datang untuk menikmati jathilan sebagai budaya lokal yang mempersatukan.

Apa hubungannya dengan Natal? Hubungannya ada pada sukacita yang dipersatukan budaya. Budaya itu adalah budaya kemanusiaan dan kesejahteraan serta pemberdayaan. Itulah yang oleh teologi disebut keselamatan! Selamat itu ditandai kegembiraan, kesejahteraan, kerukunan tanpa diskriminasi, dan perdamaian dalam keberagaman.

Referensi pihak ketiga

Seribu Penari Sufi

Dari Kokap, Kulonprogo saya kembali ke Semarang lalu meluncur menuju Cepu (26/12/2018). Mengapa? Saya diundang Kiai Budi Harjono untuk ikut merayakan cinta bersama seribu penari Sufi. Ini ditempatkan dalam rangka Haul Jalaluddin Rumi.

Bertempat di Taman Tukbuntung, Cepu, seribu penari Sufi meliuk dalam cinta Bhinneka Tunggal Ika. Sayangnya, lapangan tak cukup menampung 1000 sekaligus para penari Sufi dari berbagai kota. Mereka harus menari secara bergantian. Namun semuanya tetap saja indah dalam rangka reaktualisasi relasi agama dan budaya bukan dalam rangka wacana melainkan kenyataan karya! Itulah budaya yang sesungguhnya, bukan untuk didiskusikan melainkan untuk dilakukan laksana kearifan lokal budaya Jawa bahwa ngelmu iku lelakone kanthi laku

Di Cepu, selain berjumpa dan berproses budaya tari Sufi yang dipadu dengan Wayang Kulit oleh Ki Dhalang Gondrong, saya mendapat berkah bersilaturahmi denga. Haji Lilik, Agus Sunyoto penulis novel 7 seri Suluk Syech Siti Jenar, dan banyak sahabat lain pencinta dan pelaku seni dan budaya yang layak disebut seniman dan budayawan sesungguhnya.

Dalam perjalanan pulang dari Cepu ke Semarang, saya dikawal Wakil Bupati Blora, H. Arief Rohman. Pengawalan itu punya maksud agar saya singgah di rumah dinas beliau lalu ngobrol sejenak tentang budaya dan kemungkinan yang harus dilakukan untuk Blora dalam rangka reaktualisasi relasi agama dan budaya bagi keutuhan NKRI.

Probo Tedjo yang menyertai Pak Arief tiba-tiba bertanya padaku di dini hari yang hangat oleh pecel khas Blora itu, “Sampai kapan seni dan budaya yang Romo perjuangkan itu akan bertahan untuk situasi negeri kita saat ini?” Atas pertanyaan itu, serta merta kujawab, “Bukan sampai kapan? Tetapi sudah sejak dulu kala hingga sampai selama-lamanya, seni dan budaya menjadi kekuatan yang mempersatukan kita! Maka, tak boleh kita lelah merawat, menjaga dan menjadikannya sebagai pemersatu bangsa!”

Referensi pihak ketiga

Kebersamaan dalam Keberagaman

Dari Cepu, saya pulang ke Semarang sebab sudah janjian untuk menyemarakkan Natalan Alumni SMA Tiga Semarang yang dilaksanakan di Kota Lama Semarang (27/11/2018). Dalam tajuk kebersamaan dalam keberagaman, Natalan dilaksanakan sehari dalam bingkai seni dan budaya. Ditampilkanlah berbagai ragam budaya religi dan nusantara. Ada Barongsai, Hadroh Rebana, dan berbagai kreasi yang dihidangkan oleh Panitia dalam koordinasi Santi. 

Meski ngantuk dan lelah, namun kucecap indahnya madu kebersamaan dalam keberagaman ketika Natalan dibingkai dalam kreasi seni dan budaya. Bahkan ada pula pameran lukisan yang menjadi latar dekoratif yang kesemuanya melibatkan para alumni SMA 3 Semarang tak hanya yang Katolik dan Kristen tetapi semua agama.

Sedikit selingan kecil, namun indah dalam perspektif keberagaman adalah ini. Sesudah dari Kota Lama, saya meluncur ke Mijen untuk jagong manten. Yang jadi manten adalah Lukman Hakim dan Maria Ulfah, para alumni UIN Walisongo yang selama ini terlibat dalan gerakan kerukunan di Semarang. Mereka berdua mengundangku secara khusus untuk merestui dan mendoakan agar perkawinan mereka menghadirkan keluarga yang sakhinah, mawardah, warahmah wabarokah. 

Itulah perca pengalaman yang bisa ditenun dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Perca itu kaya dalam keanekaragaman yang memperkaya dan mempersatukan. Itu juga yang kualami di Cabean, Sragen di rumah kediaman Paulinus Sulardi dalam rangka syukuran purna karya sebagau Kepala Bimas Katolik Jateng dan natalan bersama warga (28/12/2018 – siang). Acara itu ditopang dalam semangat kerukunan yang indah di Cabean, kerukunan akar rumput seperti yang terjadi di Kokap itu. 

Pengalaman itu dikuatkan oleh peristiwa Natalan di Karanganyar (28/12/2018 – sore) saat Bupati Karanganyar Drs. H. Juliyatmono yang hadir dalam Natalan itu berkata, “Saudara sekalian sebagai umat Kristiani mempunyai hak yang sama untuk bersukacita hidup di negeri ini sebab ini adalah negeri Pancasila! Bangunlah pengharapan yang kuat dan jadilah berkat untuk masyarakat!”

Wow, kalimat itu dahsyat kalau bisa pula diucapkan oleh para pemimpin daerah seluas Nusantara ini. Dan itu dibuktikan melalui kehadiran serta proses mudah pemberian ijin bagi rumah-rumah ibadah di Karanganyar yang sebelumnya diperoleh dengan susah payah.

Demikianlah, catatan reflektif ini saya kisahkan semoga bermanfaat dan memberi inspirasi bagi siapa saja. Semoga memasuki tahun baru 2019, kita semua diberkati dengan damai sejahtera, kerukunan dan harmoni sebagai anak-anak bangsa Indonesia atas dasar Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Damailah negeri kita, sejahteralah rakyatnya dari Sabang sampai Merauke. 

Selamat meninggalkan tahun 2018, selamat menyambut tahun baru 2019. Salam peradaban kasih.***

Demikianlah, semoga bermanfaat. Salam sejahtera buat kita semua. SELAMAT TAHUN BARU 2019.**

JoharT Wurlirang, 31/122018 – 1/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber:

1. https: //investor.id/investor/530418-catatan-akhir-tahun-2018-merawat-indahnya-bhinneka-tunggal-ika.html

2. https: //id.beritasatu.com/home/merawat-indahnya-bhinneka-tunggal-ika/184011

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3232092665942678?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.