Inspiration

Inspirasi Renungan Natal: Gus Dur dan Spirit Pemerdekaan Natal

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Berikut ini adalah artikel Natal 2018 yang saya tulis dan diterbitkan pertama kali di Investor Daily pada hari Sabtu, 22/12/2018 dengan judul “Gus Dur dan Spirit Pemerdekaan Natal”. Saya hadirkan seutuhnya di sini agar semakin menjangkau semakin banyak orang. Saya tambahkan foto saat saya bersimpuh di hadapan gambar Gus Dur dalam kesempatan Haul ke-9 Gus Dur di Ciganjur pada hari Jumat (21/12/2018) dan cropping edisi cetak di Investor Daily (Sabtu, 22/12/2018). Semoga bermanfaat.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat pada tanggal 30 Desember 2009, saya mengalami perayaan Natal yang selalu lekat dengan sosok Gus Dur dan keluarga besar Ciganjur. Sejak Gus Dur wafat, bangsa ini kehilangan figur pengayom kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD) yang memiliki gaya humor tingkat tinggi, yang humornya bisa dinikmati semua kalangan dari tingkat akar rumput hingga elite dari berbagai agama.

Apa hubungan antara Gus Dur dan spiritualitas Natal? Secara sosio-spiritual, saya mengalami dan merasakan hubungan yang sangat dekat antara Gus Dur setelah wafat dan perayaan Natal bagi Umat Kristiani. Setelah Gus Dur meninggal dunia, ritual mengenang wafat (haul) Gus Dur biasanya diselenggarakan keluarga besar Ciganjur di hari-hari menjelang atau sesudah perayaan Natal di Bulan Desember.

Saya menjadi salah satu orang yang ditimbali (diundang) keluarga besar Ciganjur atas nama Nyai Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur, untuk ikut dalam ritual haul Gus Dur. Hal ini kuterima bukan sebagai kebetulan, melainkan menjadi providential Dei (penyelenggaraan Tuhan). Maka, sesibuk apa pun saya mempersiapkan diri menyambut perayaan Natal, saya selalu berusaha untuk hadir.

Spirit Pemerdekaan

Di dalamnya, saya mengalami sosok Gus Dur dan spirit pemerdekaan yang juga menjadi spiritualitas perayaan Natal. Di sinilah, saya menemukan korelasi antara Gus Dur dan perayaan Natal yang saya hayati sebagai seorang Pastor Gereja Katolik. Seperti apakah korelasi antara Gus Dur dan Natal? Bagi saya, Gus Dur adalah sosok pengayom, pembela dan pelindung kaum KLMTD. Inilah yang merupakan ekspresi spiritualitas pemerdekaan.

Jiwa merdeka Gus Dur tidak pernah gentar untuk membela siapa saja yang dianiaya dan ditindas oleh orang lain, baik secara personal maupun secara sosial. Syukur kepada Allah, spiritualitas pemerdekaan melalui keberpihakan Gus Dur kepada kaum melarat dan kesrakat itu masih terus dilanjutkan oleh keluarga besar Ciganjur, terutama dipelopori oleh Ibunda Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan putri-putrinya dengan berbagai keunikan masing-masing. Ada yang melalui jalur seni, budaya, pendidikan, dan sosial-politik.

Namun lebih dari segalanya, Ibu Shinta melakukannya melalui jalur kemanusiaan dan kebangsaan berbingkai sikap hormat pada keberagaman. Itulah antara lain, salah satunya, yang dilakukan oleh Ibu Shinta dalam program Sahur dan Buka Keliling selama bulan Ramadan. Kebetulan, saya mengalami keterlibatan di dalamnya saat setiap kali ditunjuk menjadi tuan rumah untuk gerakan ini; entah dalam rangka sahur maupun buka puasa bersama Ibu Shinta.

Hal serupa juga ditampilkan Sembilan tahun terakhir melalui momentum haul Gus Dur yang mengusung visi dan misi kemanusiaan dan kebangsaan dalam keberagaman. Di sana saya menemukan visi dan misi pemerdekaan yang dalam arti tertentu sejalan dengan spirit Natal.

Di sinilah, titik temu korelatif antara ritual haul Gus Dur dan spirit pemerdekaan Natal terjadi. Titik temu tak semata soal waktu pelaksanaan yang hampir bersamaan, melainkan dalam hal komitmen untuk membela kemanusiaan, menjunjung tinggi martabat manusia, dan menghadirkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.

Korelasi Sosio-Spiritual

Spiritualitas pemerdekaan Gus Dur dan inti perayaan Natal sebagai kenangan akan kelahiran sosok pribadi Yesus Kristus pun memiliki korelasi sosio-spiritual. Dalam diri Yesus Kristus terpancar komitmen pemerdekaan pula yang menginspirasi banyak orang untuk tidak mengedepankan kekerasan melainkan kasih sayang.

Bagi umat Kristiani, sosok Yesus Kristus menjadi inspirasi utama dalam menghayati spirit pemerdekaan. Yesus Kristus yang dikenang kelahirannya dalam peristiwa Natal adalah sosok yang membawa pemerdekaan sejati. Yang sakit disembuhkan. Yang berduka dihibur. Yang menderita diteguhkan. Bahkan, yang mati dihidupkan. Terminologi pemerdekaan menjangkau seluruh kehidupan tanpa diskriminasi.

Dalam konteks kehidupan berbangsa di negeri ini, pemerdekaan berarti upaya memperjuangkan martabat kehidupan seluruh rakyat Indonesia dalam semangat hormat pada keberagaman budaya, suku, ras, golongan dan agama.

Spirit pemerdekaan itu pula yang diperjuangkan oleh Gus Dur ketika masih hidup, dan sesudah wafatnya, spirit perjuangan itu justru semakin hidup dan dikembangkan oleh banyak orang tanpa sekat dan batas agama. Karenanya, tak mengherankan, bahwa ritual haul Gus Dur pun dihadiri oleh banyak tokoh lintas agama. Pada tahun 2016, misalnya, Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo pun hadir dalam ritual haul Gus Dur di Ciganjur. Saya yang juga ditimbali dan sowan ke Ciganjur kala itu, menjadi saksi mata atas realitas yang berspirit pemerdekaan tersebut.

Gus Dur dan spirit pemerdekaan Natal memiliki relasi yang sangat kental. Spirit yang sama kian menantang generasi zaman now untuk mewujudkannya dalam kehidupan bersama. Salah satu implikasi yang bisa kita perjuangkan terus adalah membangun kehidupan yang rukun, damai, sejahtera tanpa diskriminasi. Itu pun sebentuk implementasi spirit pemerdekaan Natal di zaman now.

Dalam arus kehidupan bersama yang mudah diwarnai oleh ketegangan, kekerasan, kebohongan, dan ujaran-ujaran kebencian, kita dipanggil untuk terus menghadirkan spirit pemerdekaan yang berbuah pada peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama, suku, budaya, dan golongannya.

Semoga kehidupan Gus Dur dan spirit pemerdekaan Natal terus menginspirasi kita semua di mana pun berada. Selamat Natal bagi yang merayakannya.

Aloys Budi Purnomo PrBudayawan Interreligius, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sumber: artikel ini diterbitkan pertama kali di Investor Daily https://id.beritasatu.com/home/gus-dur-dan-spirit-pemerdekaan-natal/183857 (terbit cetak maupun online Sabtu, 22 Desember 2018 | 08:27 WIB)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/485384958285888?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.