Inspiration

Merinding! Kisah Ketika Pastor Memberikan Penghormatan Terakhir Untuk Kematian Sahabatnya!

Halo Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kematian memang bukan akhir dari segalanya, melainkan justru menjadi awal kehidupan yang lebih panjang bahkan tanpa dibatasi ruang dan waktu dalam keabadian. Maka, di saat kematian terjadi, para sahabat yang bersangkutan berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya sekaligus merajut awal jalinan baru yang tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Referensi pihak ketiga

Itulah yang tampak dan dihayati oleh pria ini. Seorang Pastor Katolik yang terkejut dan berduka saat mendengar kematian sahabatnya. Sahabatnya biasa dipanggil Agoes Dhewa. Ia adalah seorang jurnalis, sastrawan tetapi juga budayawan dalam konteks interreligius, sebagaimana selama ini dihayati oleh Pastor itu sebagai sosok budayawan interreligius.

Berkat semangat, motivasi dan inspirasi Agoes Dhewa, pastor itu bisa merajut silaturahmi budaya dan sastra bersama dengan para sahabat dan guru lintas agama. Dialah yang memperkenalkan dan menghubungkan pastor itu dengan Gus Lukman, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri Ketileng, Semarang. Dialah juga yang membuat persahabatan dan relasi antara pastor itu dengan KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus kian intensif dalam konteks sastra dan budaya. Dia juga yang memberi ruang kepada pastor itu dalam konteks Sastra Pelataran yang selama ini dia koordinasi dengan setia. Bahkan, pada kesempatan pastor itu merayakan hari ulang tahun imamatnya ke-21 di Ungaran, bersama istri tercintanya, Agus Dhewa hadir dan memberi testimoni dalam rupa puisi karyanya, “Terang dalam Gelap”. Perjumpaan terakhir pastor tersebut dengan Agus Dhewa adalah saat Agus Dhewa mengundangnya untuk turut serta menyemarakkan Tumpengan Merah Putih di halaman Gubernuran Jawa Tengah. Kala itu, kembali Agus Dhewa memberi ruang kolaborasi sastrawi dan seni ketika pastor itu diminta berkolaborasi dengan Gus Mus yang membacakan puisinya dan pastor itu melantunkan alunan saksofon bayinya. Budayawan dan sastrawan Prie GS menjadi saksi atas peristiwa budaya interreligius itu sebab beliaulah yang menjadi moderator bagi ajang silaturahmi budaya, sastra dan dalam keberagaman agama itu. Itulah muatan terminologi budaya interreligius yang digeluti oleh pastor itu.

Referensi pihak ketiga

Maka, begitu mendengar kabar duka bahwa Agus Dhewa berpulang ke Rahmatullah, pastor itu mewajibkan dirinya untuk sowan dan memberikan penghormatan terakhir bagi sahabatnya itu. Ia cari lokasi rumah tempat Agus Dhewa disemayamkan. Bersama dua tim HAK KAS (Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang), Awi dan Lena, pastor itu meluncur menuju rumah duka sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Magelang dalam rangka Ibadah Pekan Doa Sedunia di Ignatius Magelang.

Syukur kepada Allah. Masih ada ruang untuk berjumpa dan berdoa. Atas seijin istri Agus Dhewa, pastor itu berlutut dan berdoa di samping jenazah Sang Penyair itu. Dua putrinya yang duduk di dekat jenazah ayahnya mengamini doa sang pastor itu. Tak hanya itu, bahkan pada detik-detik pemberangkatan jenazah, bersama bapak-bapak warga setempat, pastor itu boleh menata keranda dengan bunga-bunga yang sudah dipersiapkan, lalu menggontong keranda dari dalam rumah menuju halaman rumah, untuk kemudian diberangkatkan menuju ke pemakaman. Merinding, itulah yang dialami pastor itu saat mengalami semua itu. Merinding dalam haru, duka dan syukur bercampur aduk menjadi satu. Merinding menyaksikan dan berjumpa dengan para sahabat seniman, sastrawan, budayawan yang hadir melayat untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Sang Sahabat.

Referensi pihak ketiga

Ternyata, beberapa saat kemudian, pastor itu mendapatkan kiriman beberapa foto yang diambil oleh entah siapa saja. Menyaksikan semua itu, pastor itu kian merinding rasanya dalam haru biru menyadari betapa persahabatannya dengan Agus Dhewa berakhir di dunia, namun tidak di alam baka.

Demikian, kisah ini adalah kisah nyata, bukan fiksi. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, entah inspirasi dan motivasi apa saja yang ditangkap dan diresapkannya. Selamat jalan Mas Agus Dhewa…. Husnul khatimah!

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih berkenan membaca refleksi ini. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 22/1/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1051593741952867?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.