Inspiration

Bagaimana Kisah Selanjutnya? Inilah Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (36)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Mrmastikan bahwa srawung itu laksana perilaku air, lelaki pemburu peradaban kasih itu terpana berada di Balai Budaya Rejosari, Kudus yang penuh aura keberagaman dalam keindahan. Beginilah permenungan yang disampaikannya lebih lanjut, bagaimanakah?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Saudari-saudaraku yang terkasih. Salam peradaban kasih! Tentang laku hambeging tirta dan banyuning srawung, baiklah mari sejenak kita renungkan,” kata lelaki itu menggebu. “Di sini, di tempat ini, saat ini, kita sedang menyerap kearifan lokal laku hambeging tirta bukan dengan teori melainkan dengan praksis banyuning srawung.”

“Dalam rangkaian peristiwa budaya di Balai Budaya Rejosari Kudus yang bertajuk Banyuning Srawung, Romo Ipenk MSF sebagai penanggungjawab Balai Budaya Rejosari dan acara ini meminta dan mengajak kita untuk mengalami makna air bagi srawung kita. Tak ada cara terindah untuk hal itu selain merenungkan falsafah laku hambeging tirta. Itulah panggilan kita semua, apa pun agama dan kepercayaan kita.”

Semua mata memandang lelaki itu yang berdiri di tengah dengan kopiah merah putihnya. Lalu dengan suara agak serak namun menggelegak ia berkata, “Dalam Banyuning Srawung, kita justru mengalami kebenaran laku hambeging tirta itu melalui kita semua sebagai para peserta Banyuning Srawung dari anak-anak, remaja, orang muda, orang dewasa dan para pemuka lintas agama yang hadir dan terlibat aktif dalam acara ini. Kita sedemikian cair, fleksibel dan harmonis sebagaimana tampak dalam seluruh dinamika kita ini. Tanpa batas. Tanpa prasangka. Tanpa diskriminasi.”

Ya, ya, ya, itulah realitas yang terjadi kala itu, yang tiba-tiba membayang di kepala lelaki itu. Indahnyq, para pemudi yang beragama Islam setempat yang meski berjilbab namun tak sungkan-sungkan menghias wajah mereka sebagai para pemain pantomim. Yang lain mengenakan pakaian tradisional ala desa yang beragam. Mereka membaur bersaudara akrab tanpa prasangka. Menari, menyanyi, berekspresi! 

Yang selalu indah dalam perburuan peradaban kasih adalah saat mengalami bahwa jalur seni dan budaya menjadi media. Tradisi seni dan budaya menjadi bingkai perjumpaan demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Perangkat-perangkat seni dan budaya menjadi warna. Karya budaya tradisional untuk mencari dan menempatkan air dipergunakan, mulai dari kendi hingga genthong raksasa. Semua dihadirkan dan dipergunakan dalam rangka menghidupi dan menghayati makna banyuning srawung.

“Semoga kita tegar kuat tak terpatahkan laksana air. Demikian pula semoga kita bisa srawung laksana air yang rendah hati, menyegarkan, membersihkan bahkan menyucikan hidup kita.”

Lelaki itu menutup orasinya. Lalu semua hening. Bening. Jernih. Bersih. Tapa keruh. Tanpa gaduh. 

“Merdeka!”

“Merdeka!”

“Terima kasih! Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.”***

Argo Sindoro Jatinegara, 8/2/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4494477093219309?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.