Inspiration

Bagaimana Selanjutnya? Inspirasi Lelaki Pemburu Peradaban Kasih (33)

Tak mudah merancang jadwal demi mewujudkan suatu agenda bersama. “Tanggal 30 Juni-1 Juli bagaimana?” Tanya Mondro, seorang rekan yang melayani di KKPKC KAS. Apa itu KKPKC KAS? Ini adalah Komisi baru di Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS) yakni Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan. Bagus sekali bahwa dalam rangka memburu dan mewujudkan peradaban kasih dihadirkan KKPKC ini. Mondro adalah sosok yang tepat menjadi Ketua KKPKC. Sosok yang cool and smart, yeah!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ditanya tentang tanggal dan jadwal kemungkinan melaksanakan program bersama, lelaki pemburu peradaban kasih yang sudah sejak Mei 2008 menjadi Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan itu langsung menjawab, “Mondro, Kawanku yang cakep, cie-cie, yeah! Tanggal 30 Juni-1 Juli saya ndak bisa. Di bulan Juli saya free tanggal 21-22 atau 27-28. Bagaimana?”

“Wah saya yang ndak bisa. Sudah ada agenda lain! Bagaimana kalau tanggal 7-8?” Tanya Mondro

“Waduh, pada tanggal itu saya sudah ada temu kebatinan di Goa Maria Kerep Ambarawa Mas Bro!” Sahut lelaki itu.

Setengah mengeluh kepada lelaki itu, tapi tak mengeluh amat, sebab namanya juga curhat, Mondro pun bilang”Susah amat sih kita mencari kesepakatan waktu untuk rencana kita?”

“Begitulah tantangan sederhana namun bisa mengacaukan segalanya ketika segala sesuatu tidak kita putuskan sejak awal, Kawan!” Jawab lelaki itu menyeruput kopinya dan menyedot rempah-rempah yang dibakarnya.

Sambil mengepulkan asap tanda hati dengan mulutnya, lelaki itu masih melanjutkan, “Jangankan bertiga, berdua saja kita susah menemukan kesepakatan waktu buat program kita! Tapi jangan khawatir, sebab kekhawatiran tidak akan menambah sehelai rambut pun di kepalamu hahaha! Pasti akan ada jalan keluar. Istilah kerennya, win-win solution! Yang penting Mas Bro yang menghandel semuanya. Kami berdua siap menyesuaikan diri mau ditempatkan di mana dan kapan?”

Pastor paling cakep bila berkacamata dan berselfie itu langsung nyambung. “Kalau begitu, begini saja hahaha,” sambil terbahak dia berkata lagi, “Sesi pertama sore sampai malam, kita buat sistem panel bertiga saat jadwal kita cocok! Sesudah itu, terserah saya membawa arah mata angin suasana ya. Bagaimana kalau begitu?”

“Mantul Kawan, mantul! Lanjutkan!” Sahut lelaki itu. Begitulah ketegangan soal kesepakatan waktu bisa diurai untuk sebuah rencana bersama.

Begitulah, ditetapkanlah tanggal 14-15 Juli sebagai pelaksanaan agenda bersama antara KKPKC sebagai Koordinator program bersama dengan Kom HAK KAS dan PK4AS. PK4AS adalah Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang. Pelayannya adalah Mogie, yang ramah, baik hati, dan selalu tersenyum tapi nggak tersenyum sendiri loh yah. 

Kesepakatan itu merupakan win-win solution atas semuanya. Pada tanggal 14-nya, dilaksanakan sesi panel bertiga di hadapan para peserta utusan dari KKPKC, PK4AS dan Kom HAK KAS. Bertempat di Wisma Salam Magelang, dinamika bersama itu terjadi.

Bagi lelaki itu, satu paradigma sinergis ini menjadi pemikiran dan harapan. Seraya bersyukur bahwa sinergi itu terjadi, lelaki itu mencoba membaca peristiwa ini dalam konteks kearifan lokal falsafah Jawa. 

Bagi lelaki itu, sinergi kolaboratif antara KKPKC, PK4AS dan Kom HAK KAS itu dapat direnungkan dalam paradigma falsafah Jawa memayu hayuning bawana asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna amrih tata tentrem kertaning raharja. Sesungguhnya, inspirasi kearifan lokal itu telah dirangkum dalam prinsip yang disebutnya prinsip harmoni toleransi kultural Tantular. 

“Saya lebih lebih suka menyebut prinsip harmoni toleransi kultural Tantular daripada toleransi kultural Tantularisme. Ini semata-mata demi menghindari kata ‘isme’ yang dalam paradigma sosial-religius cenderung memberi kesan negatif daripada positif.” Lelaki itu memulai penjelasannya.

“Apa itu prinsip harmoni toleransi kultural Tantular?” Tanyanya lantas dijawab sendiri, “Prinsip ini dibangun berdasarkan inspirasi Empu Tantular pada zaman Majapahit. Intinya adalah persatuan dan kerukunan demi hidup bersama yang damai dan sejahtera. Dalam bahasa Sansekerta, rumusannya berbunyi sebagai berikut: sarva sastra prayojanam atma darsanam atau sarva sastra prayojanam tatwa darsanam. Paradigmanya bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua tanpa ada darma yang mendua karena keragu-raguan. Untuk itu, haruslah ada yang namanya saling mengerti, saling menghargai dan saling menghormati di antara umat manusia, apa pun agama, kepercayaan dan kebudayaannya. Paling tidak, itulah gagasan yang saya baca dari Suwardi Endraswara, 2018:74, dan saya setuju dengan itu.” 

Selanjutnya, lelaki itu bilang, “Meminjam bahasa Benedict Anderson (200:1) sebagaimana dikutip Suwardi Endraswara (2018:75) itulah yang disebut sikap lapang dada (savoir vivre). Menurutku, sikap lapang dada bahkan tak berhenti pada toleransi melainkan lebih dari toleransi yakni saling pengertian, saling menghargai dan saling mengerti dalam cinta kasih (mutual love understanding). Watak dasarnya adalah keterbukaan, merangkul, membarui diri terus-menerus dan berdaya ubah bagi dan dalam hidup bersama. Muaranya adalah kehidupan yang harmonis dalam keberagaman. Itulah yang disebut memayu hayuning bawana asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna amrih tata tentrem kertaning raharja.”

Lebih lanjut, dengan mantul, lelaki itu berkata, “Tugas KKPKC adalah memayu hayuning bawana melalui karya demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Sedangkan PK4AS membentuk dan mendampingi para tokoh masyarakat asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna. Sementar itu, Kom HAK KAS merajut dan membangun persaudaraan sejati amrih tata tentrem kertaning raharja dalam kasih, saling mengerti, menghargai dan menghormati semua pihak. Titik temu antara ketiganya adalah komunikasi dan dialog dalam sinergi dan kerja sama baik secara internal maupun eksternal.”

Akhirnya, lelaki itu menjelaskan bahwa semua paradigma itu dalam bahasa Ardas (Arah Dasar) KAS 2016-2020 dan RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) 2016-2035 dibingkai dalam sikap inklusif, inovatif dan transformatif demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya. Peradaban kasih seperti ini tak akan pernah bisa diwujudkan tanpa adanya sinergi di tengah keberagaman yang multikultural. Sinergi itu dalam bahasa Jawa sehari-hari disebut srawung.

Srawung merupakan proses perjumpaan banyak pihak dalam semangat inklusif, inovatif dan transformatif. Srawumg itu saling merangkul dalam keterbukaan (inklusif), terus-menerus dalam suasana pembaharuan (inovatif) dan memiliki daya ubah yang positif (transformatif). Srawung yang seperti itulah yang diharapkan mampu menjadi jalan untuk mewujudkan peradaban kasih. 

“Nah, srawung seperti ini, menurut saya memiliki dasar spiritual teologis yang kuat dalam Yohanes 3:16! Semua hanya karena kasih Allah yang begitu besar sehingga berkenan menyapa manusia dalam bahasa manusia. Itulah sebabnya diutuslah Yesus Kristus agar terjadi dialog komunikatif dan komunikasi dialogis antara Allah dan manusia dan sebaliknya dalam bahasa kasih.”

“Selanjutnya, indikasi terwujudnya peradaban kasih adalah kesejahteraan, kemartabatan dan keberimanan yang semakin mendalam dalam keterbukaan dan partisipasi sinergis dengan siapa pun. Maka, kerjasama demi terwujudnya keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan harus terus dilakukan dan dikembangkan (KPKC). Kerjasama demi tampilnya tokoh-tokoh kemasyarakatan (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang rendah hati dan menjawab kebutuhan rakyat harus terus diupayakan (PK4AS). Kerjasama interreligius dan multikultural perlu terus diupayakan dalam berbagai kesempatan, ruang kebersamaan oleh siapa pun tanpa diskriminasi (Kom HAK) dan juga termasuk para aktivis KPKC dan PK4AS.”

Begitulah semua hal itu terngiang kembali di telinga jiwa lelaki itu dalam refleksi pribadi di peralihan malam tahun 2018 menuju 2019. Itulah etape penutup bait kidung peradaban kasih yang tergoreskan pada bulan Juli 2018.

Bersama pendar kembang api, semua dikenang dalam bait cinta dan kidung peradaban kasih. Semoga berkenan! (bersambung)

Nusakambangan-Yogya-Boyolali, 29-30/1/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: 

1. Refleksi pengalaman pribadi dalam narasi

2. http: //tz.ucweb.com/1_5DQI7

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1765667700160440?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.