Inspiration

Inspirasi & Motivasi Menyadari Diri Sebagai Abu Yang Akan Kembali Jadi Abu, Mana Syukurmu?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah refleksi dan motivasi yang bisa ditimba dan direnungkan bersama Umat Katolik yang pada hari Rabu (6/3/2019) ini dalam mengawali Masa Prapaskah. Awal Masa Pra-Paskah disebut Rabu Abu. Mengapa dan bagaimana inspirasinya?

Referensi pihak ketiga

Pertama, dalam tradisi katekese Gereja Katolik, Masa Prapaskah disebut Tempus Quadragesimale. Kadang juga disebut Quadragesima Paschae. Inspirasi istilah dalam bahasa Latin itu berarti masa empat puluh hari (quadragesima) demi mempersiapkan diri menyambut Perayaan Paskah (Paschae). Masa empat puluh hari itu dimulai sejak hari Rabu Abu hingga Sabtu Suci sesudah Jumat Agung saat mengenang wafat Yesus, dikurangi lima hari Minggu dalam rentang masa tersebut.

Kedua, awal Masa Pra-Paskah disebut dengan Rabu Abu, sebab pada kesempatan itu, yang selalu jatuh pada hari Rabu, Umat Katolik menandai awal masa Prapaskah sebagai masa pertobatan. Secara simbolik, pertobatan itu ditandai dengan menaburkan abu pada kepala atau menandakan abu di dahi seluruh umat yang hadir dalam Misa Rabu Abu, mulai dari bayi hingga lansia, baik umat maupun imam (romo/pastor) yang memimpin perayaan tersebut.

Referensi pihak ketiga

Ketiga, mengapa menggunakan abu? Dalam tradisi alkitabiah Kristiani, abu merupakan tanda dan sarana untuk membangun pertobatan. Teks-teks berikut memuat simbolisme itu, misalnya Kejadian 3:19, Ayub 34:15, Mazmur 90:3 dan 104:29). Abu yang dipergunakan bukan sembarang abu, melainkan abu yang terbuat dari proses pembakaran daun-daun palma yang diberkati dan dipergunakan untuk Perayaan Minggu Palma pada tahun sebelumnya. Ritualisasi abu ini antara lain dilandaskan pada Kitab Bilangan 19:9-10,17.

Keempat, saat menerima abu di kepala atau di dahi, petugas yang menaburkan abu di kepala atau menandakan abu di dahi berkata kepada yang menerima abu, “Kamu berasal dari debu, dan akan kembali menjadi debu! Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Kalimat itu bisa disambung dalam satu rangkaian, atau bisa dipilih salah satu dari keduanya.

Nah, kesimpulannya, pada hari Rabu Abu, umat Kristiani, khususnya Umat Katolik, mengawali masa pertobatan agung dengan diingatkan untuk menyadari diri sebagai abu yang akan kembali menjadi abu! Dengan kesadaran itu, umat diajak untuk selalu bersyukur bahwa manusia yang berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu, tetap dikasihi oleh Allah Yang Maharahim, Pengasih dan Penyayang, sehingga selalu diberi kesempatan untuk bertobat dan berubah ke arah yang lebih baik. Pertobatan ditandai dengan rasa syukur, bukan karena takut dan terpaksa.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Selamat memasuki Masa Prapaskah bagi Anda yang beragama Katolik, selamat berpuasa dan berpantang. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 6/3/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶ 

Sumber: refleksi pribadi pengalaman 51 tahun beriman dalam agama Katolik

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2335076970541070?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.