Inspiration

Inspirasi & Motivasi Rela Kehilangan Nyawa Namun Menyelamatkannya, Bagaimana Dimungkinkan?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Terkadang dalam hidup ini ada hal-hal yang paradoksal demi kebaikan. Untuk maju harus bekerja seoptimal mungkin tanpa banyak bicara. Yang lain untuk menang maka menghalalkan segala cara. Lalu bagaimana inspirasi dan motivasi paradoksal ini bisa kita jalankan, yakni rela kehilangan nyawa agar memperolehnya?

Referensi pihak ketiga

Inspirasi dan motivasi dari paradoks rohani ini terdapat dalam sabda ini. Dalam Bacaan Liturgi 07 Maret 2019 Hari Kamis Sesudah Rabu Abu pada PW S. Perpetua dan Felisitas, Martir, yakni Bacaan Injil Lukas 9:22-25, Yesus memberikan inspirasi dan motivasi itu. Mari kita baca selengkapnya.

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Lukas 9:22-25)

Inspirasi dan motivasi apa yang bisa direnungkan? Mari kita nikmati.

Referensi pihak ketiga

Pertama, sabda ini menginspirasi agar kita semua tak memandang penderitaan yang akan selalu hadir di setiap kehidupan kita secara pesimis atau takut. Kecenderungan kita adalah lari darinya, menghindarinya. Ketika kita merasakan sakit, kita mengambil segala cara dalam kekuatan kita untuk menyingkirkannya. Dalam setiap penderitaan ada pelajaran, dan kita mengingat pelajaran itu lebih baik ketika kita menderita untuk mempelajarinya.

Kedua, Yesus menubuatkan penderitaan yang akan ditanggung-Nya, yakni penolakan, penderitaan, dan kematian-Nya, namun tidak melarikan diri dari mereka. Dia merangkul derita sebagai cara untuk menunjukkan cinta-Nya yang paling mendalam: Tidak seorang pun memiliki kasih yang lebih besar dari ini, untuk menyerahkan nyawa seseorang untuk teman-teman seseorang (bdk. Yohanes 15:13).

Ketiga, dalam hidup sehari-hari, contoh inspirasi dan motivasi seperti inilah yang dilakukan orang tua ketika mereka memberi anak-anak mereka waktu dan perhatian mereka. Itulah yang dilakukan teman sejati ketika mereka melayani tanpa menghitung biayanya. Itu adalah apa yang kita lakukan ketika kita membantu seseorang yang membutuhkan.

Referensi pihak ketiga

Karenanya, jangan lari dari kenyataan derita. Peluklah hingga laksana kehilangan nyawa maka Anda akan mengalami kehidupan. Nah, bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 7/3/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Lukas 9:22-25

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4482154392221874?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.