Inspiration

Inspirasi & Motivasi Bagaimana Berkarya di Unika Soegijapranata Semarang untuk Siapa Saja?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pada hari Jumat, 29/3/2019, saya terjadwal memberikan inspirasi dan motivasi bagaimana berkarya di Unika Soegijapranata Semarang. Inilah inspirasi bahan yang saya persiapkan. Semoga memberi motivasi kepada siapa saja yang sudah, sedang dan akan berkarya di Unika Soegijapranata dan atau di Unika mana pun! Beginilah bahan selengkapnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

MENDALAMI

“EX CORDE ECCLESIAE”

Konstitusi Apostolik tentang Universitas Katolik

Sebagai Landasan Dasar Unika Soegijapranata

Aloys Budi Purnomo Pr. SS., M.Hum, Lic.Th

“Dari Jantung Gereja lahirlah Universitas Katolik

Dan asal-usulnya sebagai lembaga

dapat ditelusuri sepanjang tradisi Gereja.” (ECE 1).

Pengantar

Bahasa Latin frasa “Dari jantung Gereja” adalah “Ex Corde Ecclesiae” (ECE). ECE diterbitkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 15 Agustus 1990. Itulah dokumen yang menjadi landasan dan acuan bagi keberadaan dan perkembangan semua UNIKA (Universitas Katolik) di seluruh dunia, termasuk Unika Soegijapranata Semarang, tempat kita dipanggil dan diutus untuk bekerja dan melayani.

Unika lahir bukan dari sembarangan tempat dan kondisi, melainkan dari Jantung Gereja. Dari Jantung Gerejalah Unika lahir dan asal-usulnya sebagai lembaga dapat ditelusuri sepanjang tradisi Gereja. Ciri teologis ini tidak bisa diabaikan. Sebaliknya, mestinya menjadi identitas yang dihidupi dan dihayati siapa pun yang menjadi bagian dari Unika Soegijapranata, mulai dari Rektor dan tim rektorat hingga seluruh dosen dan karyawan serta mahasiswanya.

Gembira Mengabdi Kebenaran

Kendati demikian, sebagaimana ditegaskan dalam ECE 1, sama seperti universitas pada umumnya, Unika juga harus menjadi pusat kreativitas dan pusat persebaran pengetahuan demi kesejahteraan umat manusia. Bahkan disadari bahwa universitas pada hakikatnya mengabdikan diri pada penelitian, pengajaran dan pengabdian. Itulah yang disebut hakikat panggilan Universitas magistrorum et scholarium est.

Bersama Universitas lain, Unika berbagi gaudium de veritate, yakni kegembiraan untuk mencari, menemukan dan mengkomunikasikan kebenaran dalam setiap bidang pengetahuan. Nah, tugas istimewa Unika adalah dengan usaha intelektual memadukan secara eksisteial dua tataran realitas yang kerap kali cenderung dilawankan seolah-olah keduanya merupakan antithesis yaitu usaha mencari kebenaran dan kepastian sumber pengetahuan yang telah diketahuinya.

Kebenaran dicari dengan gembira dan terus-menerus tanpa pamrih kepada kaum muda yang dipercayakan kepada kita dan kepada siapa saja. Ini dilakukan secara tangguh tanpa boleh mengeluh demi melayani umat manusia dengan lebih baik (ECE 2).

Seharusnya, Unika memberi harapan kokoh akan berkembangnya budaya Kristiani yang baru dalam konteks yang kaya dan majemuk di jaman yang terus berubah ini. Paus Yohanes Paulus II mengapresiasi dan menghargai siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraaan Unika dalam rangka pencarian kebenaran tanpa pamrih bagi kebijaksanaan dari Tuhan melalui proses pendidikan (ECE 2). Martabat dan kehormatan Unika adalah ketika bertanggungjawab mengabdikan diri sepenuhnya demi kebenaran tentang alam, manusia dan Tuhan (ECE 4).

Dialog Kebudayaan

Unika menjadi medan terjadinya dialog kebudayaan. Hanya ada satu kebudayaan, yakni kebudyaan manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Unika bertanggung jawab untuk meneliti, menyelidiki dan menjelaskan misteri kemanusiaan dan dunia dalam terang iman dan Wahyu Kristiani (ECE 3). Tujuannya adalah mencapai penghormatan martabat manusia yang diciptakan menurut citra Allah dan ditebus dalam Kristus hingga manusia terus memancarkan terang Roh Kudus (ECE 5).

Dialog kebudayaan dan kemanusiaan serta kesemestaan dilandaskan pada aspek moral, spiritual dan religius. Setiap penelitiaan terkait tiga hal itu, tak bisa mengabaikan dimensi-dimensi tersebut (moral, spiritual dan religius). Bahkan, itulah tuntutan utama bagi Unika. Dengan begitu, Unika memungkinkan Gereja membangun dialog kebudayaan, kemanusiaan dan kesemestaan secara subur. (ECE 6-7).

Inilah yang bahkan disebut sebagai tujuan ECE, yakni agar semangat Kristiani dapat meresapi secara public, terus-menerus, dan universal seluruh usaha untuk meningkatkan kebudayaan yang lebih maju dan agar mahasiswa pun menjadi orang yang unggul dalam studi, siap menanggung beban masyarakat yang lebih berat dan menjadi saksi iman bagi dunia. (ECE 9). Misi Unika diperlukan untuk mempertemukan Gereja dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan zaman kita (ECE 10).

Identitas dan Hakikat Unika

Secara garis besar, ECE berisi tiga hal, yakni identitas Unika, misi Unika, dan norma-norma umum yang harus diikuti. Inilah Hakikat dan Tujuan Unika. Unika merupakan suatu komunitas akademik yang dengan cermat dan kritis, membantu melindungi dan meningkatkan martabat manusia dan warisan buday melalui penelitian, pengajaran dan berbagai pelayanan yang diberikan baik yang bersifal lokal-nasional, regional maupun global-internasional (ECE 12).

Seiring dengan itu, inilah ciri hakiki identitas dan misi Unika. Ada empat, yakni (1) Inspirasi Kristiani bukan hanya pada individu tetapi juga pada universitas sebagai komunitas; (2) Refleksi terus-menerus dalam rangka terang iman Katolik atas khasanah pengetahuan manusia yang terus berkembang, yang terus disumbangkan oleh universitas melalui penelitian; (3) Kesetiaan terhadap pewartaan Kristiani yang disampaikan melalui Gereja; (3) Komitmen kelembagaan dalam melayani umat Allah dan keluarga manusia dalam peziarahan mereka menuju tujuan transenden yang memberikan makna pada kehidupan (ECE 13).

Identitas Unika yang terunik adalah memberi inspirasi dan sinar pewartaan Kristiani. Sebagai Unika, ciri Katolik, sikap dan prinsip Katolik, haruslah tampak dan meresapi seluruh aktivitas akademik dan dinamika harian Unika. Kekatolikan harus dihadirkan secara vital dan operatif (ECE 14).

Secara akademik, penelitian harus mencakup usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, dialog antara iman dan akal budi, suatu keprihatinan etis dan dalam perspektif teologis (ECE 15). Karenanya, Injil, iman kepada Kristus, Sang Sabda sebagai Pusat ciptaan dan sejarah manusia harus menjadi perspektif dan acuan utama (ECE 16).

Para dosen harus berusaha meningkatkan kompetensinya dan berusaha untuk menempatkan isi, tujuan, metoda, dan hasil penelitian sesuai dengan setiap bidang ilmu pengetahuan dalam kerangka suatu visi dunia yang terpadu. Para dosen Kristiani dipanggil menjadi saksi dan pendidik kehidupan Kristiani yang otentik, yang mencerminkan suatu integrasi antara iman dengan kehidupan dan antara kompetensi profesional dengan kebijaksaan Kristiani. Semua dose harus diilhami oleh cita-cita akademik dan prinsip-prinsip kehidupan yang otentik manusiawi (ECE 22).

Misi Unika dan Tantangannya

Misi Unika diuraikan dalam ECE 30-49. Pertama-tama, misi Unika adalah mencari kebenaran terus-menerus melalui penelitian, pelestarian, dan penerusan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat. Universitas Katolik berpartisipasi dalam misi ini dengan ciri dan tujuan khas dan otentik.

Menurut ECE, ada empat ciri dan tujuan khas yang menjadi misi Unika. Mari kita simak satu per satu.

1. Pelayanan kepada Gereja dan masyarakat

Diwujudkan dengan pengajaran, penelitian, dan pengabdian bagi sesama demi keadilan sosial. Universitas bertanggungjawab memberikan sumbangan secara konkret untuk kemajuan masyarakat, terlebih mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (ECE. 34).

Dalam pelayanan kepada masyarakat, Universitas Katolik berhubungan dengan dunia akademik, budaya dan ilmiah di wilayah di mana ia berada. Dibutuhkan dialog dan kerjasama antar universitas, lembaga swasta, dan pemerintah (ECE. 37).

2. Pelayanan pastoral

Bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada seluruh civitas akademika untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip moral dan religious dengan studi akademik dan non akademik. Singkatnya, mengintegrasikan iman dan kehidupan. Bapa Suci menegaskan perlunya menyediakan waktu untuk refleksi dan doa bagi seluruh anggota civitas academica. Pembatinan nilai-nilai perlu dilakukan, baik oleh dosen, karyawan administrasi, maupun mahasiswa. “Sebagai ungkapan alami dari identitas Katolik, Komunitas universitas hendaknya memberikan contoh praktek dari imannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyediakan waktu bagi refleksi dan doa” (ECE. 39).

Juga ditampakkan dalam partisipasi aktif dalam mengikuti perayaan sakramen, khususnya Sakramen Ekaristi sebagai ibadat komunitas akademik yang paling sempurna.

Mereka yang terlibat dalam karya pastoral ini mendorong semangat para dosen dan mahasiswa untuk peduli pada mereka yang miskin, menderita fisik, menderita ketidakadilan ekonomi, sosial, budaya, atau kerohanian. Selain itu, juga mempersiapkan mahasiswa Katolik untuk aktif ambil bagian dalam kehidupan Gereja, menanamkan dan mengembangkan nilai luhur perkawinan dan kehidupan keluarga, memperkuat panggilan imamat dan kehidupan religious, dan bekerja sama antar lembaga.

3. Dialog kebudayaan

Dialog yang dibangun adalah dialog yang subur antara Injil dan kebudayaan (ECE. 43). Universitas Katolik harus lebih tanggap terhadap kebudayaan duniawi masa kini dan berbagai tradisi budaya yang ada dalam Gereja. Kriteria yang mencirikan nilai suatu kebudayaan, yaitu: makna pribadi manusia, kebebasan, martabat, rasa tanggung jawab, dan keterbukaan pada Yang Transenden. Bidang yang secara khusus menjadi perhatian Univeristas Katolik adalah dialog antara pemikiran Kristiani dan Ilmu pengetahun modern.

4. Penginjilan

Misi utama Gereja adalah mewartakan Injil (Kabar gembira). Penginjilan berarti membawa kabar gembira kepada seluruh bangsa manusia dan mempengaruhi kriteria penilaian kemanusiaan dan cara hidup yang lebih baik sesuai dengan kehendak Allah.

Tantangan

Misi itu pada tataran realitasnya menjadi tantangan nyata bagi penyelenggara dan pelaksana dinamika harian Unika. Dalam rangka menjaga marwah kekatolikan Unika, sisi-sisi rohani dan sacramental mestinya menjadi perhatian di samping rutinitas akademik. Ibarat doa, meski disibukkan oleh kepentingan akademik duniawi, tetaplah harus mengutamakan kepentingan rohani dan surgawi.

Caranya bagaimana? Sederhana saja. Selama melayani sebagai Kepala Campus Ministry, saya memberi ruang bagi perayaan sacramental. Itulah sebabnya, setiap hari Senin – Jumat pukul 12.00, selalu dipersembahkan Perayaan Ekaristi di Kapel Unika demi menjaga marwah Katolik dan sacramental Unika. Hal sederhana ini ternyata tidak mudah. Sebab, belum ada mekanisme dan ruang akademik yang mendukung. Masih banyak kesibukan dan aktivitas akademik pada pukul 12.00 – 13.00 WIB. Idealnya, pukul 12.00 – 13.00 adalah saat Ishoma (istirahat, sholat, misa dan makan siang). Bahkan, lembaga-lembaga profan pun memberi ruang bagus terhadap kebutuhan ini, sayangnya, di Unika justru hal sepenting ini diabaikan! Akibatnya, ciri Katolik Unika pun menjadi kabur dan bisa dipertanyakan! Ini suatu tantangan.

Kampus Ungu Unika Soegijapranata Semarang, 28/3/2019

Aloys Budi Purnomo Pr

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Yohanes Paulus II,Ex Coder Ecxlesia, 15 Agustus 2019

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4479094214661507?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.