Inspiration

Inspirasi Motivasi dalam Dilema Menjaga Kerukunan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Bagaimanakah?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Betapa mahal harga menjaga kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan itu. Lalu inspirasi dan motivasi apa yang mesti dikembangkan dan digemakan dalam dilema itu? Inilah salah satu jawaban yang bisa diberikan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inspirasi dan motivasi dalam jawaban ini mengacu pada realitas akan dilaksanakannya Apel Kebangsaan dalam keberagaman seni dan budaya di Simpang Lima (17/3/2019, pukul 06.00 – 13.00 WIB). Ada dilema antara dana yang dianggarkan dengan realitas kehidupan yang penuh keprihatinan di antara kita.

Orisinil

Realitasnya dimulai dari kenyataan positif namun ada letupan negatif bahwa – meminjam ungkapan seorang Sahabat, yang adalah seorang jurnalis, Muhammad Syukron – Indonesia adalah negara multi etnis, agama, ras dan golongan. Bhinneka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan kemajemukan budaya bangsa dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan Pancasila adalah ideologi yang bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia yang sudah terbukti mampu menyatukan dan mendamaikan berbagai kemajemukan itu di Bumi Pertiwi. Dengan kekuatan kearifan lokal itu, Pancasila mampu menyelamatkan bangsa Indonesia dari berbagai gangguan dan ancaman perpecahan. Menjelang Pemilu 2019 atau sebagian orang menyebut tahun politik, banyak celah yang dimanfaatkan untuk memecah persatuan kesatuan bangsa melalui ujaran kebencian, berita hoaks, palsu dan perang argumentasi saling menjelekkan satu sama lain. Sebagai komponen Anak Bangsa yang masih peduli dengan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Provinsi Jawa Tengah, melalui Kesbangpol Jawa Tengah, menginisiasi kegiatan yang bertajuk Apel Kebangsaan “KITA MERAH PUTIH”. Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen, seperti; santri, pramuka, linmas, petani, nelayan, pelajar, seniman, mahasiswa, tokoh lintas agama, kelompok difabel dan artis nasional.

Atas realitas itu, Kang Syukron mengajukan tiga pertanyaan padaku demi menggali inspirasi dan motivasi. Inilah ketiga pertnayaan itu.

(1) Nah, dari kacamata Romo, ada point apa saja yang menurut Romo kegiatan ini perlu digelar? (2) Peneguhan komitmen atas kecintaan terhadap Pancasila dan NKRI dalam kehidupan sehari-hari bisa dilakukan seperti apa? (3) Kearifan lokal dalam bentuk apa saja untuk menjaganya? Suwun Romo. Berkah Dalem.

Atas pertanyaan itu, beginilah jawaban saya. Semoga memberi inspirasi dan motivasi kepada siapa saja dalam memandang setiap peristiwa, baik dalam sikap kritis maupun sikap harmonis.

Pertama, menjaga kerukunan itu memang mahal harganya, bahkan mempertaruhkan jiwa raga perasaan kita. Namun juga perlu diutamakan belarasa dan solidaritas terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel (KLMTD). Maka, di samping selebrasi kebersamaan dalam rangka menjaga kerukunan, perlu pula aksi belarasa dan solidaritas. Konkretnya, misalnya, ide nakal saya, mungkinkah minimal 10% dari anggaran itu dialokasikan untuk praksis belarasa? Contoh, untuk mendukung pendidikan, atau bahkan dialokasi untuk keluarga-keluarga yang beberapa waktu lalu jadi korban teror pembakaran mobil dan motor? Dengan demikian ada keseimbangan antara selebrasi dan aksi dalam rangka menjaga kerukunan kita berbasis belarasa dan solidaritas.

Kedua, kecintaan pada Pancasila dan NKRI dalam hidup sehari-hari tampak dalam beberapa hal. Pertama, semakin beriman apa pun agamanya, semakin peka pada kebutuhan sesama. Kedua, dari iman yang kuat lahirlah sikap hormat dan menghargai sesama manusia dalam sikap yang adil dan beradab. Ketiga, hidup rukun dengan tetangga walau berbeda hingga terwujudlah persatuan Indonesia. Keempat, kalau ada masalah, duduk bersama, musyawarah. Jangan kedepankan konflik tapi rekonsiliasi. Akhirnya, peradadaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, adil, bermartabat dan beriman kian terwujud di tengah kita.

Ketiga, hidupkan lagi gotong royong, ramah tamah, guyub rukun. Kekayaan seni budaya lokal begitu banyak perlu dirawat dan direvitalisasi dalam rangka pemberdayaan.

Menerima jawaban itu, Kang Syukron langsung menjawab via pesan, “Siaaaaappppp… peluk cium Romo! Betul Romo. Hitam tak selamanya hitam, bisa putih, merah, kuning, hijau. Asal jangan dor meletus, biar hati kita tidak kacau. Nanti, balonku tinggal empat donk…”

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih, begitulah jawaban itu sebetulnya merupakan penjelasan lebih lanjut atas pertanyaan yang sebelumnya diajukan oleh Sahabatku, yang juga jurnalis, yakni Mas Damar Sinuko. Malam itu (14/3) secara spontan, saya mengatakan begini.

“Sebagai salah satu yang diminta untuk mengisi acara tersebut bersama teman-teman penyandang disabilitas pada acara Apel Kebangsaan di Simpang Lima tersebut, saya heran bahkan sedih mendengar bahwa biaya yang dikeluarkan sedemikian besar. Saya tidak tahu, biaya sebesar itu untuk apa saja atau siapa saja? Saya sepakat bahwa mestinya biaya sebesar itu bisa dipakai untuk pemberdayaan kesejahteraan masyarakat yang lebih membutuhkan dukungan dana. Apel Kebangsaan dalam rangka kerukunan penting tetapi memberi kesan menghamburkan dana sampai belasan milyar rupiah untuk satu acara setengah hari memang tidak sepantasnya. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sikap kritis atas “pendanaan” acara ini, saya tetap akan datang sebagai konsistensi saya menghayati visi kebangsaan saya serta menghargai masyarakat yang hadir dari berbagai tempat untuk acara ini. Toh, sampai saat ini saya juga tidak menerima 1 sen rupiah pun dari dana sebesar itu karena saya ikhlas demi masa depan kerukunan dan kebangsaan. 

Benar bahwa dalam peristiwa ini ada dilema. Kerukunan, kemanusiaan, kebangsaan harus dijaga. Nyatanya, menjaga kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan itu mahal harganya bahkan mempertaruhkan nyawa! Saya sudah mengalaminya, para pahlawan bangsa ini adalah contoh terbaik, termasuk para korban terorisme yang wafat, terluka dan trauma. Saat perpecahan, teror dan kekerasan terjadi, kita hanya bisa mengelus dada sambil menghembuskan nafas duka dari kesesakan dada. Paling-paling, saya hanya bisa berdoa dan berorasi belarasa tanpa bisa mengembalikan nyawa yang sudah melayang dalam keadaan mengenaskan atau trauma kepanjangan yang sulit disembuhkan.

Lalu dengan cara apa harus mencegahnya, minimal menggelorakan semangat kerukunan, kemanusiaa, dan kebangsaan? Apa yang secara pribadi sudah kulakukan, mulai dari diriku sendiri? Sejauh mana itu berdampak pula dalam kehidupan? Jangan-jangan selama ini, saya hanya diam atau sekadar mengumbar kata-kata hampa di tengah duka? Saya tidak tau lagi harus berkata apa selain mari tetap jaga keseimbangan kerukunan, kemanusiaan dan kebangsaan kita. Sikap kritis dan beda tentu sah-sah saja dan tetap saya terima dengan cinta. Yang penting saya tidak mengambil keuntungan finansial dari partisipasi dan komitmen saya demi kerukunan, kemanusiaan dan kebangsaan untuk kepentingan pribadi saya. Jangan ngapusi, jangan korupsi! Itu yang harus dijunjung tinggi serasa melanjutkan komitmen untuk menjaga dan membela keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Jangan rusak Jawa Tengah dengan konflik berbasis agama, kepentingan dan politik kekuasaan. Jangan rusak pula Jawa Tengah dari sisi lingkungan hidup dan kelestarian ciptaan. Mari kita jaga Jawa Tengah dengan sikap guyub rukun untuk Indonesia. Yang terpenting adalah menjaga kredibilitas, akuntabilitas dan transparansi untuk semua pihak, terutama para penyelenggara pemerintahan kita dari pusat hingga daerah. Gagasan-gagasan dan masukan kritis harus didengarkan, dihargai dan diwujudkan ke depannya. Jangan dianggap sebagai angin lalu. Itulah inspirasi dan motivasi pula dalam dilema menjaga kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan kita.

Nah bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi dari sisi lain serta tetap meneguhkan motivasi untuk merawat kerukunan, kemanusiaan dan kebangsaan. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Saat menunggu ganti oli kendaraan di Arteri Semarang, 16/3/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi atas inspirasi pertanyaaan Mas Damar Sinuko dan Kang Muhammad Syukron

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1623920671702103?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.