Inspiration

Kisah Selanjutnya Lelaki Pemburu Peradaban Kasih Itu, Sesudah Srawung Lalu Bagaimana?

Sahahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah akhir dari kisah lelaki pemburu peradaban kasih yang sebetulnya tak akan pernah berakhir itu. Namun tetap sebagai kisah harus berhenti di bagian akhir. Meski, akhir itu bukan segalanya melainkan justru barulah dimulai babak selanjutnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Konteksnya masih di akhir tahun dalam detik-detik peralihan 2018 ke 2019. Dalam peralihan tahun lama ke tahun baru itu, dengan segala rasa haru, lelaki itu membentangkan perjalanan setahun dalam dinamika srawung yang bagaikan kidung dari bait yang satu ke bait berikutnya secara bersambung. Tiga puluh sembilan seri sudah berlalu bait demi bait tergoreskan. Dan pada goresan yang ke-40 ini, baiklah diselesaikan dahulu perjalanan itu sebagai rasa syukur atas dukungan semua dan banyak pihak yang membuat rangkaian srawung menjadi nyambung bagaikan kumpulan kidung srawung.

Nadanya selalu lembut menyapa namun penuh gairah karena gelora orang muda yang membahana. Puncak srawung itu menjadi pertanda tekad baru bagi siapa saja yang merindukan hidup bersama dalam tata kerukunan, persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan dalam keberagaman yang indah dan penuh berkah. Tiada kata, frasa, kalimat, dan alinea pun yang mampu merangkum dinamika yang membahana di ruangan itu ketika ribuan orang muda berkumpul dalam semangat srawung. Dan mereka berasal dari berbagai latar keberagaman ditopang kehadiran Sang Gembala yang ramah tanpa lelah bergandengan dengan para tokoh agama lain yang serba indah.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Bante Cattamano, KH Muhammad Adnan, Haji Taslim, Cik Lingling dan Koh Andi Tjiok, Pendeta Sediyoko dan Setyawan Budy. Mereka adalah simbol representasi indah keberagaman yang menopang srawung yang membuat lelaki itu berada dalam puncak konsolasi memandang taburan bunga-bunga kerukunan untuk peradaban kasih sebagai buahnya. Bukan sekarang buah itu dipetik melainkan di masa-masa mendatang. Juga bukan oleh lelaki itu yang akan memetiknya melainkan siapa saja di masa depan yang lapar dan haus akan peradaban kasih bagi anak cucu segenap warga bangsa.

“Kita ini tak sedang menaburkan biji-biji bayam yang hari ini ditaburkan lalu besok bertumbuh dan siap panen, melainkan laksana menaburkan benih-benih pohon jati yang membutuhkan waktu lama untuk memanennnya dan siap menjadi penopang bagi bangunan persaudaraan sejati dan peradaban kasih!” Begitulah selalu lelaki itu berkata meyakinkan dirinya sendiri dan siapa saja yang bekerja sama dengannya.

“Yang dibutuhkan adalah kesabaran untuk merawat, menyiram, dan menjaga pertumbuhannya agar tetap subur dan tak digerogoti racun-racun perusak dan pemecahbelah semangat mereka oleh dendam dan benci!” Tegas lelaki itu setiao kali.

Itu hanyalah simbolisme bahwa merajut persaudaraan sejati demi mewujudkan peradaban kasih itu bukan perkara instan semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja dan itu pasti. Selalu butuh perjuangan panjang bahkan pengorbanan. Dan setiap perjuangan dan pemgorbanan itu tak akan pernah sia-sia. Percaya saja, apa pun agama dan kepercayaan kita!

Demikianlah, peradaban kasih itu akan selalu merekah dan terus mengejawantah dalam setiap kehidupan yang dilandasi sikap ramah yang penuh berkah. Semoga siapa saja mendapat amanah untuk menaburkannya lalu memburu tegaknya peradaban kasih dalam kehidupan bersama di mana pun berada!

Terima kasih telah berkenan mengikuti serial ini. Tuhan memberkati. (Selesai)

JoharT Wurlirang, 3/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2871942926104021?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.