Inspiration

Berbagi Berkat dengan Pria Ini di Gunung Ijen, Caranya?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi berbagi berkat. Caranya sederhana saja. Begini kisahnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr bersama Usman

Kamis, 25/4/2019, saat kami mendaki Gunung Ijen untuk menikmati kawah yang indah penuh belerang dalam panorama warna hijau serta matahari terbit yang membuat hidup ini dipenuhi pengharapan untuk terus bangkit; saya mendapatkan pengalaman ini. Mas Abdi, local guide kami di kawasan Kawah Ijen menyertai kami. Beliau berada di depan dan saya berjalan bersamanya. Meski terengah-engah dan lelah sebab sepanjang hari itu dari pagi sampai siang, kami sudah menikmati snorkling di Bangsring Underwater dan Taman Nasional Baluran; malamnya kami mendaki menuju salah satu puncak Gunung Ijen untuk menikmati kawah dan matahari terbit.

Pulangnya, sesudah berhasil turun hingga perhentian Bunder, saya memutuskan untuk menerima tawaran naik “taksi” yang didorong oleh salah seorang penjaja “taksi” ala Kawah Ijen. Kepada Mas Abdi, saya berpesan, carikan yang belum laku dari semalaman.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah, saya dibantu oleh Pak Usman. Dia bilang, sudah sejak semalam, jasanya belum ada yang menggunakan. Makanya, tanpa tawar menawar, saya langsung duduk di “taksi” yang didorongnya. “Wah, saya dapat barokah, Romo!” kata Usman. “Dari semalam saya belum laku neh. Lumayan, Romo mau naik ‘taksi’ saya. Bisa buat makan bersama keluarga. Istri saya satu. Anak saya dua. Yang pertama kelas dua SD. Yang kedua masih berada dalam kandungan istri saya, usia kandungan enam bulan!”

Begitulah, sepanjang perjalanan, Usman bercerita tentang keluarga dan pekerjaannya. Ia juga memelihara beberapa kambing dan lembu. Itu menjadi tabungan untuk masa depan anaknya saat nanti harus melanjutkan sekolah.

“Yang penting sehat!” kata saya. “Iya, sekarang apalah artinya harta kalau kita tidak sehat. Biaya rumah sakit dan perawatan juga mahal, walau sudah ada BPJS!” sahut Usman.

Pokoknya asyik. Hanya dalam 20 puluh menit, kami sudah sampai di kaki Gunung Ijen berkat “taksi” Pak Usman. Andaiakan tidak, mungkin saya harus berjalan kaki sekitar setengah jam hingga satu jam, mengingat kekuatan sudah habis. Lagian, saya harus menyimpan energi untuk melanjutkan perjalanan dan pelayanan saya. Nah, di sinilah, dalam arti tertentu, kami saling menjadi berkat.

Referensi pihak ketiga bersama Abdi, local guide Kawah Ijen

Mas Abdi sepanjang perjalanan menyertai bahkan dengan kadang berlari mengejar atau bahkan mendahului kami. Mengapa? Karena dia ingi memotret dan memvideo perjalanan kami. Baik Mas Abdi maupun Pak Usman sudah menjadi berkat buat saya dalam peristiwa itu. Maka, saya pun berterima kasih kepada mereka berdua dan menghadiahkan kepada mereka yang menjadi hak mereka!

Itulah indahnya saling menjadi berkat. Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 26/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pengalaman pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2910946139618336?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.