Inspiration

Inilah Kisah Kasih Sengsara Yesus Yang Membawa Rekonsilasi Manusiawi dan Surgawi (5)

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi Kisah Kasih dalam Sengsara Yesus Kristus menurut Lukas. Ada berbagai pokok permenungan yang bisa diresapkan. Inilah bagian kelima. Bagian ini tentang kisah kasih sengsara Yesus yang membawa rekonsiliasi manusiawi dan surgawi. Bagaimana bisa?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inspirasinya dari Bacaan Liturgi 14 April 2019 Hari Minggu Palma (Mengenangkan Sengsara Tuhan) Bacaan Injil Lukas 22:14- 23:56. Mari kita cermati khususnya pada bagian ini.

Sementara itu Yesus diolok-olok dan dipukuli oleh orang-orang yang menahan-Nya. Mereka menutupi muka Yesus dan bertanya, “Coba katakan, siapa yang memukul Engkau?” Dan banyak lagi hujat yang mereka ucapkan kepada-Nya.

Setelah hari siang, berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Lalu mereka menghadapkan Yesus ke Mahkamah Agama mereka, katanya, “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus, “Sekalipun Aku mengatakannya kepadamu, kamu toh tidak percaya! Dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepadamu, kamu toh tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Kata mereka semua, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah.” Lalu kata mereka, “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri!”

Lalu bangkitlah seluruh sidang itu, dan Yesus dibawa menghadap Pilatus. Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya, “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami. Ia melarang orang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.” Pilatus bertanya kepada Yesus, “Benarkah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Engkau sendiri mengatakannya.” Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini.” Tetapi mereka makin kuat mendesak, katanya, “Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh Yudea, Ia mulai di Galilea, dan kini sudah sampai ke sini.” Ketika Pilatus mendengar itu ia bertanya, apakah orang itu seorang Galilea. Dan ketika tahu bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, Pilatus mengirim Dia menghadap Herodes, yang pada waktu itu ada juga di Yerusalem.

Ketika melihat Yesus, Herodes sangat girang. Sudah lama ia ingin melihat Yesus, karena ia sering mendengar tentang Dia; lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa pun. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan, dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Yesus. Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Yesus. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada Yesus, lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus, yang sebelumnya bermusuhan.

Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala serta rakyat, dan berkata kepada mereka, “Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksanya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Herodes pun tidak menemukan kesalahn pada-Nya, sehingga ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.” [Sebab Pilatus wajib melepaskan seorang tahanan bagi rakyat pada hari raya itu). Tetapi mereka berteriak bersama-sama, “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!” Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan. Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. Tetapi mereka berteriak membalasnya, “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka, “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.” Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan. Akhirnya mereka menang dengan teriakan mereka. Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Jadi Pilatus melepaskan Barnabas yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka.

Hebat dan indahnya kisah kasih sengsara Yesus adalah, dalam kisah sengsara-Nya terselip buah pengampunan, dan rekolensiliasi kerukunan di antara orang-orang yang sebelumnya saling bermusuhan. Semua karena Yesus. Herodes dan Pilatus yang bermusuhan pun jadi bersahabat.

Mereka juga sama-sama tidak menemukan kesalahan apa pun dalam diri Yesus. Namun karena desakan massa yang kalap dan terhasut, mereka tak berdaya. Yesus pun dijatuhi hukuman mati dengan cara disalibkan, walau pengadilan mereka tak menemukan kesalahan apa pun dalam diri Yesus.

Yesus menjadi kurban tak hanya korban atau tumbal ketidakadilan atas dasar kebencian dan dendam. Nakun kurban itu merukunkan antara orang yang bermusuhan bahkan mendamaian manusia yang berdosa dengan kerahiman Allah sendiri. Yesus rela menanggung semua olok-olok, hujat dan fitnah demi rekonsiliasi manusiawi dan surgawi.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasij. (bersambung)***

JoharT Wurlirang, 14/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Lukas 22:14- 23:56.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4142173548603218?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.