Inspiration

Inspirasi dan Motivasi dari Api Pengkhianatan ke Api Pengampunan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi pengalaman iman dari api pengkhianatan menuju Api Pengampunan. Yesus Kristus yang wafat dan bangkit tetap menerima dan mengasihi bahkan mengampuni Petrus yang pernah menyangkal-Nya bahkan dirundung keraguan hingga menjelang akhir hidupnya, namun setia sampai akhir. Bagaimana kisahnya?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jawabannya ada dalam Bacaan Liturgi 26 April 2019 Hari Jumat Dalam Oktaf Paskah Bacaan Injil Yohanes 21:1-14, khususnya bagian pertama yakni ayat 9-14. Mari kita baca kisahnya.

Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepadaNya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati. (Yohanes 21:9-14)

Ketika Petrus tiba di pantai dia melihat api arang. Betapa hal itu menghidupkan kembali kesedihannya pada malam sebelum wafat Yesus, ketika dia menghangatkan dirinya dengan api, dia menyangkal Yesus dengan mengatakan, “Aku bahkan tidak mengenal orang itu” (Matius 26: 72-74). Betapa dia berharap dia mengucapkan kata-kata lain, seperti ketika dia menyatakan, “Kamu adalah Kristus, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). 

Sejarah Petrus, seperti sejarah kita, tidak selalu ditulis dengan kesetiaan yang konstan. Tetapi Tuhan kita mengundang semua orang ke perjamuan rahmat-Nya yang kaya: “Ayo, sarapan.” Tuhan kita mengembalikan kebaikan sesudah kejahatan, meninggalkan kita dengan ilustrasi yang nyata dan fasih tentang Sabda Bahagia (lih. Luk 6: 27-38). 

Para murid tidak perlu bertanya kepadanya, “Siapa Engkau?” Tiga tahun bersama Yesus yang mengampuni dosa dan menyembuhkan orang sakit membantu mereka untuk mengenal Yesus sebagai Yang Maha Pengasih. Dialah wajah kerahiman Allah yang tak pernah membatakan kasih-Nya kendati kita sering dan selalu mengkhianati-Nya dengan dosa-dosa kita. 

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 26/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Yohanes 21:9-14

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/943608318613357?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.