Inspiration

Inspirasi dan Motivasi Sabda: Akulah Dia!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi dan motivasi wibawa Yesus yang menyatakan jatidiri Ilahi-Nya. Bagaimanakah?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jawabannya ada dalam bagian pertama Kisah Sengsara Injil Yohanes berikut ini. Mari kita baca.

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-muridNya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-muridNya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-muridNya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diriNya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” KataNya kepada mereka: “Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: “Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: “Yesus dari Nazaret.” Jawab Yesus: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakanNya: “Dari mereka yang Engkau serahkan kepadaKu, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.” Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?” (Yoh 18:1-11)

“Akulah Dia!’ Ini adalah kata-kata Yesus Kristus yang berani di hadapan kelompok pasukan yang dikirim untuk menangkap-Nya di taman Getsemani.

Itu adalah kata-kata yang sama yang digunakan Allah untuk menggambarkan dirinya kepada Musa di Gunung Sinai. Itu adalah frasa yang telah digunakan dalam pemikiran Kristiani untuk merujuk pada Allah Sang Pencipta semua hal yang ada. Itu adalah kalimat Sabda Yesus Kristus mengakui dan menyatakan keilahian-Nya di hadapan para pasukan yang hendak menangkap-Nya. Karena alasan ini, mereka berbalik dan jatuh ke tanah.

Saat kita merenungkan Gairah Kristus, marilah kita mengingat keilahian-Nya. Dia adalah Sang Juruselamat umat manusia.

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Bedono, 19/4/2019

BERKAH DALEM

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Yohanes 18:1-11

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/951004664879852?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.