Inspiration

Sabtu Suci dalam Keheningan Yang Suci Menuju Pengharapan Kebangkitan Mulia, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam tradisi Kristiani terutama Gereja Katolik, hari Sabtu sesudah Hari Jumat Agung (kenangan akan wafat dan pemakaman Yesus Kristus), disebut Sabtu Suci dalam keheningan yang suci. Keheningan bersama Yesus yang berada dalam puncak solidaritas dengan manusia dalam kematian dan pemakaman. Apa maknanya?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya akan mengutip yang diwartakan St. Lukas tentang wafat dan pemakaman Yesus untuk menjadi landasan permenungan ini. Kita baca selengkapnya.

Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu. Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayatNya dibaringkan. (Lukas 23:44-55)

Referensi pihak ketiga

Hari Sabtu Suci adalah hari untuk menunggu dengan tenang bersama Bunda Maria, bermeditasi perlahan dengannya, pergi ke tempat yang sepi dan merenungkan kematian Yesus dalam iman akan kebangkitan Sang Putra. Sabtu Suci dari dini hari, fajar hingga matahari terbenam disebut Sabtu Suci menuju Malam Paskah. Ini adalah hari untuk menerima semuanya. Ini adalah hari kesedihan dan harapan. Kita tidak boleh membiarkan Sabtu Suci berlalu hanya sebagai hari lain, seperti hari di antara Jumat Agung dan Minggu Paskah. Ini adalah hari perenungan yang tenang dengan Bunda Allah.

Yesus wafat dan dimakamkan. Ada sesuatu yang sangat pasti tentang “Sudah selesai” yang Yesus katakan dari salib. Para murid tidak akan lagi mendengar suara-Nya, merasakan kekuatan khotbah-Nya, atau melihat keajaiban karya-karya-Nya. Bagi mereka tidak ada kebangkitan, hanya duka dan kematian. Ini bagian dari proses kesunyian Sabtu Suci.

Hanya dalam perenungan yang sunyi ini bersama para murid-Nya kita dapat melihat semuanya terjadi seperti disabdakan-Nya. Yesus telah memberi tahu mereka semua yang akan terjadi pada-Nya, termasuk wafat dan kebangkitan-Nya. Yesus telah berbicara dengan jelas kepada mereka, namun pikiran mereka tidak siap untuk mengerti. 

Hanya dalam keheningan Sabtu Suci hari ini, disertai oleh Bunda Maria, kita bersama para rasul Yesus dapat berharap untuk memahami apa yang Yesus sudah katakan. 

Sering kita berpikir kita tahu siapa Yesus dan apa yang Dia ajarkan kepada kita, tetapi sebenarnya itu tidak masuk ke dalam hati kita. Kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang Dia sampaikan kepada kita dalam Injil untuk memahami makna yang lebih dalam dari kata-kata-Nya. Kita harus melakukan ini bersama Bunda Maria dan membiarkannya membantu kita mengerti dengan iman, harapan dan cinta.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Pastoran Bedono, 20/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Lukas 23:44-55

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2527049362281605?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.