Inspiration

Sahabat Sejati Itu Membawa Kita Kembali kepada Tuhan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sering kita mengalamk kebenaran bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang hadir di saat dibutuhkan, saat kita mengalami kesulitan. Ternyata ada yang lebih mendalam dari itu. Apakah itu?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jawabannya ada dalam Bacaan Liturgi 26 April 2019 Hari Jumat Dalam Oktaf Paskah Bacaan Injil Yohanes 21:1-14, khususnya bagian pertama yakni ayat 1-8. Kita baca dulu teksnyà, lalu kita renungkan apa makna baru tentang sahabat dalam kehiduoan yang tak sekadar hanya karena kesulitan dan kebutuhan.

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-muridNya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang muridNya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. (Yohanes 21:1-8)

Makna baru sosok sahabat tampak dalam diri Yohanes terhadap Petrus. Petrus sedang galau gegara Yesus wafat dan bangkit. Ia tak kunjung percaya. Lalu kembali pada habitus lama mencari ikan sebagai pelarian. 

Yohanes menyertai Petrus sebagai sahabat. Yohanes memasuki kapal dengan niat berbeda dari yang dilakukan Petrus dan murid-murid lainnya. Perjalanan mencari ikan ini mengingatkannya pada perjalanan sebelumnya yang membawa Petrus untuk bertobat dan menyatakan, “Pergilah dariku, karena aku orang yang berdosa, ya Tuhan” (lih. Lukas 5: 1-11). 

Maka, bertindak atas inspirasi ini, Yohanes memasuki kapal untuk tetap dekat dengan Petrus sampai kesempatan rekonsiliasi akan muncul. Dan kesempatan datang tiba-tiba ketika Yohanes melihat Yesus di pantai. Ia pun berteriak, “Itu adalah Tuhan!” Dalam hal inilah Yohanes tidak meninggalkan Petrus yang sedang galau sejak peristiwa salib dan kebangkitan itu. Yohanes justru menunjukkan 

Mestinya, kita juga dipanggil dan diutus untuk tidak saling meninggalkan satu sama lain agar selalu terhubung pada Tuhan. Pasti sangatlah menyenangkan memiliki seorang teman yang membawa kita kembali kepada Tuhan. Maka kita juga perlu belajar cara mendekati orang lain dengan kerendahan hati dan pengertian untuk membawa mereka kembali kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 

Bagaimana menurut UCers Sahabat Peradaban Kasih? Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.

JoharT Wurlirang, 26/4/2019

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Yohanes 24:1-8

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/839614244963385?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.