Inspiration

Bahagia Meski Tak Melihat, Namun Syukur Melihat-Nya dalam Peristiwa Hidup Harian!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah inspirasi bahagia meski tak melihat, namun syukur bila bisa melihat-Nya dalam peristiwa hidup harian. Tentunya, kita melihat tak selalu dengan mata jasmani melainkan juga dengan mata rohani. Lalu seperti apa?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Suatu hari, Yesus menegur Tomas yang dicekam keraguan ​atas kebangkitan Yesus ​dengan bersabda, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29). 

Tentang melihat, Yesus Kristus tampaknya juga menegur Filipus yang ingin melihat​ Allah sebagai Bapa​. Suatu kali Filipus bertanya kepada Yesus dan minta agar Yesus menunjukkan Bapa itu kepadanya. Kata Yesus kepadanya​,​ “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?”(Yohanes 14:8-9)

​Dalam teks itu kita membaca, kepada Filipus, Yesus meluruskan atau meneguhkan bahwa, “Siapa pun yang melihat Aku telah melihat Bapa.” Jadi, “wajah” Allah dibuat terlihat di dalam pribadi Yesus Kristus​, yang menempatkan Diri-Nya sebagai Putra Bapa.​ 

​Di sini, saya jadi teringat Konsili Nicea yang kedua, ​pada tahun 787​. Dalam Konsili itu,​ ​ditegaskan kembali kepada para ikonoklas tentang keabsahan menggunakan gambar-gambar suci​ (ikon)​. Gambar-gambar suci selalu membantu umat beriman melihat dan merasakan kehadiran Tuhan, bukan dengan mata jasmani, melainkan dengan mata rohani. ​G​ambar-gambar religius dan seni ​secara rohani menghubungkan rasa-perasaan iman ​dengan ​misteri Penjelmaan (​Sumber: ​Katekismus Gereja Katolik, 476). ​Baik secara jasmani maupun terutama secara rohani, m​anusia memiliki kebutuhan untuk melihat ​dan merasakan kehadiran ​Tuhan​.​​ Misteri Penjelmaan atau Inkarnasi ​merupakan respons Tuhan​ atas kerinduan manusia itu​.​ Di situlah kasih Allah yang menyelamatkan bisa dirasakan dalam kehidupan.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 3/5/2019 

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

​Sumber: refleksi pribadi berdasarkan​ Yohanes 14:8-9

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1154310384472887?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.